
Tenang Laras, masih banyak cara yang bisa engkau gunakan di dalam hal ini, jika pagi ini kau bisa memasak salah satu masakan kesukaan Prince, bukan tidak mungkin kau akan mengetahui satu per satu hal - hal yang di sukai oleh Prince."
"Ya perlu kau lakukan hanya bersabar Laras, ya bersabar."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menyantap steak ayam buatan sendiri.
Saat ini Larasati mencoba untuk menyimpan air matanya kuat - kuat.
Laras menyelesaikan makan siangnya dengan cepat dan setelah itu kembali ke dalam kamarnya untuk menyusun langkah selanjutnya.
Siang yang pada akhirnya berganti menjadi malam, membuat Laras yang telah tertidur langsung terbangun begitu mendengar gelak tawa wanita dan laki - laki di ruang tengah, posisi kamar Larasati yang dekat dengan ruangan itu membuat Larasati pada akhirnya bisa mendengarkan setiap aktivitas yang dilakukan diruang itu.
Dengan cepat Larasati membuka pintu kamar dan berjalan keluar kamar menuju sumber suara yang dia dengarkan.
Dan betapa kagetnya ketika di ruang tengah Larasati melihat Prince sedang berciuman mesra dengan satu wanita cantik di atas sofa.
"Mas Prince, siapa wanita ini?"
Suara Larasati yang lantang pada akhirnya membuat aktivitas ciuman tersebut langsung terhenti.
"Ah kebetulan kau datang."
Prince mengatakan hal tersebut sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Sayang ku Jesika kemarilah."
Prince memanggil wanita cantik tersebut dengan sebutan sayang, satu panggilan yang sebenarnya sangat diinginkan oleh Larasati dan sampai saat ini bagi Larasati masih terasa mimpi belaka.
"Jadi aku juga menyambut wanita ini Prince?"
Jesika mengatakan hal tersebut sambil mengancingkan kembali bajunya yang sudah setengah terbuka akibat ulah Prince.
"Setidaknya agar wanita ini mengetahui posisi mu di rumah ini nanti."
"Ah baiklah jika itu yang kau mau."
Setelah mengatakan hal tersebut dengan cepat Jesika berdiri dari tempat duduknya dan mendekatkan diri ke arah Prince.
"Dia Jesika, wanita hebat, seorang pembisnis, dan juga berpendidikan tinggi, dia adalah kekasih ku, dan mulai saat ini dia akan tinggal di rumah ini bersama dengan ku."
Dengan lantang Prince mengatakan hal tersebut kepada Larasati yang saat ini hanya bisa terdiam seperti patung.
"Tidak mungkin, tidak mungkin mas mengizinkan wanita selain diri ku masuk dan tinggal di dalam rumah ini."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang berani melarang ku? kau juga sudah tanda tangan kesepakatan yang mengatakan aku boleh membawa kekasih ku kemari, apakah kau mendadak jadi lupa?"
Dan seketika itu juga Larasati baru mengingat jika beberapa jam yang lalu dirinya baru saja tanda tangan perjanjian pernikahannya dengan Prince.
"Maafkan aku yang tidak membaca perjanjian itu mas."
"Siapa yang salah jika begitu? kau sendiri bukan? lalu untuk apa sekarang kau masih berdiri di sini? sana kembali ke kamar mu, aku dan Jesika akan melanjutkan kesenangan kita di dalam kamar ku."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencium kening Jesika, satu hal yang juga menjadi kerinduan dari Larasati.
"Sayang, ternyata benar apa yang kau katakan, wanita ini adalah wanita buruk rupa, ya sangat buruk rupa, pantas saja ke mata mu sakit ketika harus memandangnya."
"Kau benar Jesika, untuk itulah aku meminta mu untuk tinggal bersama dengan ku, agar kau bisa memanjakan penglihatan ku, dan memanjakan semua hal yang aku senangi."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencium kening Jesika, satu hal yang juga menjadi kerinduan dari Larasati.
"Sayang, ternyata benar apa yang kau katakan, wanita ini adalah wanita buruk rupa, ya sangat buruk rupa, pantas saja ke mata mu sakit ketika harus memandangnya."
"Kau benar Jesika, untuk itulah aku meminta mu untuk tinggal bersama dengan ku, agar kau bisa memanjakan penglihatan ku, dan memanjakan semua hal yang aku senangi"
"Ayo ikut ke kamar ku, anggap saja kau tidak pernah melihat wanita jelek ini sayang."
Prince mengatakan hal tersebut kepada Larasati dengan tersenyum sinis.
Saat ini Larasati hanya bisa terdiam seperti patung melihat suami sah nya masuk ke dalam kamar bersama dengan wanita lain.
Air mata yang sangat di tahan Larasati pada akhirnya menetes tanpa permisi.
"Kenapa kau bawa perempuan itu mas, ingat mas kita sudah menikah, membawa perempuan lain dan tidur di tempat tidur mu itu sama saja kau berbuat zina mas, mas Prince sadarlah, jangan sampai Tuhan yang turun tangan menyadarkan mu, karena rasanya akan lebih sakit."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menghapus air matanya.
"Mbak, sudah mbak."
Larasati yang merasakan bahunya di tepuk langsung menoleh.
"Bi Ijah."
"Ayo mbak masuk saja ke dalam kamar, bibi temani di dalam yah."
Larasati tidak mengatakan hal apapun kecuali menuruti apa yang telah di katakan oleh bi Ijah
Sementara itu di dalam Prince.
"Sekarang jelaskan kepada ku Prince."
"Hei sayang apa yang harus dijelaskan lagi? cinta ku akan tetap ada kepada mu."
Prince mengatakan hal tersebut sambil memeluk Jesika dan menciumi tengkuknya dari belakang.
"Banyak yang harus kau jelaskan, kau benar - benar gila!"
"Ya Prince akan selalu gila jika sudah menghirup aroma tubuh mu yang wangi sekali."
Prince mengatakan hal tersebut sambil terus menciumi Jesika dari belakang.
"Lepaskan aku dulu Prince, rahan nafsu mu."
Jesika yang sebentar lagi akan di lahap rakus oleh Prince langsung menghentakkan tangannya.
"Sayang apalagi yang ingin kau ketahui? apakah sudah tidak lebih dari cukup bukti cinta ku kepada mu?"
Prince mengatakan hal tersebut dengan nafas yang tersengal-sengal, karena gairahnya mulai memuncak.
"Aku tau kau mencintaiku, dan aku percaya itu."
"Lalu penjelasan apa lagi?"
"Penjelasan kenapa kau meminta aku tinggal satu atap dengan perempuan itu Prince, aku kan sudah mengatakan jika aku akan tinggal di apartemen saja, namun kau seakan - akan malah mengancam ku dengan tidak akan memberikan lagi uang bulanan untuk ku."
"Apakah kau sadar Prince aku tidak mau di bandingkan dengan wanita itu, karena dia bukan level ku."
Jesika mengatakan hal tersebut kepada Prince dengan nada kesal.
"Siapa yang membandingkan kau dengan wanita itu Jesika?"
"Aku sudah sangat mengetahui bahwa dia bukanlah saingan mu, itu sebabnya aku berani mengajak mu untuk tinggal di rumah ini."
"Aku tau kau tidak akan mau bersaing dengan wanita bertubuh gendut dan hitam seperti itu, aku tau semuanya Jes."
"Lalu kenapa kau masih memaksa ku untuk satu atap dengannya Prince? sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran mu."
"Karena aku jijik dengan wanita itu, ya aku jijik ketika harus berdekatan dengannya.