
Laras tiba - tiba mengatakan hal tersebut kepada Prince.
"Sayang apakah tidak bisa bi Ijah saja yang membuatkan bakso untuk mu?kita tidak pernah tau se bersih apa bakso di ujung gang itu bukan?"
Prince mengatakan hal tersebut karena sebenarnya Prince sangat khawatir akan keadaan Laras jika dirinya mengetahui Laras sembarangan makan.
"Bakso buatan bi Ijah memang enak masa, namun saat ini aku ingin sekali memakan bakso disana."
Laras mengatakan hal tersebut dengan penuh harap kepada Prince, dan berat rasanya untuk Prince mengizinkan Laras makan di tempat seperti itu.
"Mas ayo mas, Laras mau."
Tiba- tiba saja Laras merengek seperti anak kecil kepada Prince, padahal baru beberapa saat yang lalu Laras mengatakan tidak akan meminta apapun dari Prince.
"Ya, ya ayo kita makan di sana."
"Terima kasih mas Prince."
"Tapi kau harus berjanji kepada ku mau?
"
"Janji apa mas?"
"Berjanji untuk tidak menggunakan sambel saat makan bakso, jika aku tidak mau menepati ini, maka kita tidak jadi makan di tempat itu, bagaimana?"
Dengan cepat Laras langsung menganggukkan kepalanya.
"Siap mas, Laras akan patuh karena Laras tau ini untuk kebaikan Laras."
"Bagus, ayo kita turun."
Dan seketika itu juga Laras sadar jika mereka sudah berada di tempat parkir mobil bakso ujung jalan yang sangat terkenal.
"Pak Laras, mau bakso yang ini, ini dan ini."
"Laras kau yakin bisa menghabiskan semua bakso yang sudah kau pesan?"
Prince menggelengkan kepalanya ketika melihat Laras hanya memesan baksonya saja tanpa kuah.
"Iya mas, sudah lama Laras ingin ke tempat ini, tapi belum terlaksana."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengunyah baksonya.
"Kenapa belum terlaksana sayang?"
"Laras tidak punya uang mas, terus Laras juga tidak tau rute ke tempat ini, selama ini Laras hanya melihat di media sosial saja, di tambah saat itu Laras sedang ada konflik dengan mas Prince, jadi Laras tidak lagi kepikiran untuk makan ini."
"Terima kasih ya mas, terima kasih pada akhirnya mas Prince mengajak Laras untuk makan di tempat yang Laras inginkan."
Deg
Seketika itu juga Prince terdiam,ada satu rasa bersalah yang sangat dalam ketika Laras menceritakan semua hal itu kepadanya, ya satu hal yang selama ini tidak pernah dipikirkan oleh Prince.
Bahwa apa yang lakukan ternyata membawa dampak yang tidak baik untuk orang lain.
"Laras, katakan saja jika kau ingin makan lagi di tempat seperti ini, aku dengan senang hati akan menemani mu, aku akan meluangkan waktu untuk menemani mu sayang."
Prince kembali mengatakan hal tersebut sambil membelai rambut panjang Laras.
"Terima kasih mas, mas adalah satu - satunya orang yang Laras miliki saat ini, hanya mas Prince saja yang Laras punya, terima kasih ya mas."
Deg
Sungguh saat ini hati Prince kembali tersentak, untuk kesekian kalinya Prince tersadar bahwa tidak ada orang lain yang di punya oleh Laras kecuali dirinya.
"Sama - sama Laras, ayo kita pulang, sudah semakin malam, aku tidak ingin kau berada di tempat terbuka sampai larut malam seperti ini, aku khawatir akan dirimu sayang jadi ayo kita pulang."
Prince mengatakan hal tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya.