
Prince menguyur semua badannya dengan air dingin, Prince mencoba menjernihkan pikirannya dengan baik agar mendapatkan sesuatu hal yang dia inginkan.
Selesai melakukan hal itu dengan tenang Prince menggunakan handuk mandinya dan langsung menyalakan sebatang rokok.
"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan saat ini? jika kau sudah mengetahui segera kerjakan dengan baik, karena aku yang akan membayarmu mahal, lakukan saja hari ini dan jangan kau tunda - tunda lebih lagi, apakah kau mengerti?"
Dan setelah selesai mengatakan percakapannya di ponsel, Prince langsung mematikan panggilan di ponselnya.
"Sayang apakah ada sesuatu yang gawat?"
Jesika bangun dan mengatakan hal tersebut karena melihat Prince sudah duduk di kursi dengan rokok dan minuman beralkoholnya.
"Bukan sesuatu yang serius Jes."
"Ah seperti itu baiklah sayang."
"Jes, apakah aku boleh menanyakan sesuatu hal kepada mu?"
"Katakan saja sayang, apa yang akan kau tanyakan kepada ku."
"Aku lapar, apakah kau bisa memasak sarapan untuk ku?"
Dengan lantang Prince mengatakan hal tersebut kepada Jesika.
"Ah kau lapar, biar aku pesan kan makanan saja ke restoran siap saji yah, aku masih mengantuk sayang."
Dan Jesika mengatakan hal tersebut dengan mulutnya yang menganga lebar.
"Apakah kau tidak mau untuk memasak untuk ku?"
Kali ini Prince terus mengatakan hal itu kepada Jesika.
"Bukannya aku tidak mau memasak untuk mu, namun aku tidak bisa memasak sayang, lagipula untuk apa kita lelah menyediakan masakan jika jika bisa dengan cepat membelinya."
Jesika dengan tenang mengatakan hal tersebut di atas tempat tidur sambil berbalut selimut putihnya.
Dan setelah mengatakan hal tersebut Prince segera menganti handuk mandinya dengan dengan pakaian kerja.
"Hati - hati sayang, aku mencintaimu selamanya."
Jesika mengatakan hal tersebut dengan berteriak, sedangkan Prince sama sekali tidak menoleh ke belakang, dan tetap berjalan untuk membuka pintu apartemen.
Prince melangkahkan kaki keluar dari apartemen Jesika dengan perasaan yang lain.
Baru kali ini dirinya mengingat Laras, ya Laras dengan setiap masakan yang selalu di sajikan untuknya di pagi hari, secapek apapun saat malam, namun di pagi hari pasti sudah ada hidangan untuk sarapan.
"Astaga kenapa tiba - tiba aku memikirkan wanita itu, ayo Prince kau mungkin sedang lapar, ayo jangan kau berpikir yang aneh - aneh yah.*
Prince mengatakan hal tersebut di dalam mobil dan mencoba untuk mengacak - acak rambutnya agar cepat sadar.
"Mungin karena kau lapar Prince jadi pikiran mu bercabang - cabang sampai seperti ini."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menarik nafasnya dalam - dalam.
"Lebih baik aku segera ke kantor dan menyaksikan pertunjukan pertama yang telah aku buat untuk dokter yang sok tau dan sok mau ikut campur urusan orang lain tersebut."
Prince mengatakan hal tersebut sambil tersenyum sinis dan langsung melajukan mobilnya ke arah jalan raya.
Hari ini Prince akan membuat satu pertunjukan untuk satu orang laki - laki yang saat ini sangat dia benci
Sementara itu saat ini di pintu gerbang rumah sakit.
"Ada apa Ezra?"
Andre yang berada di dalam mobil bertanya kepada Ezra yang saat ini tiba - tiba saja menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Pak ada banyak awak media di pintu gerbang rumah sakit, sepertinya sedang ada yang di tunggu."