
Kami hitung sampai tiga, jika dalam hitungan ke tiga kau tidak menjawab maka kami akan pergi dari sini, satu, dua.."
"Iya aku bersedia."
Dengan suara yang pelan dan sangat pelan pada akhirnya Laras menyetujui semua persyaratan mereka.
"Bagus, ini kami beri kau waktu untuk menikmatinya terlebih dahulu."
Salah satu dari ke dua laki - laki tersebut melemparkan barang haram itu ke wajah Laras
Dan dengan sangat cepat Laras menangkap barang haram tersebut dan mengeluarkan jarum suntik dari dalam tas kecilnya.
Dengan gerakan cepat Laras menyuntikkan barang haram tersebut ke tubuhnya.
Perasaan lega seketika mulai menjalar ke sekujur tubuh Laras, dan dia pun pada akhirnya menikmati barang haram tersebut.
"Dan sekarang waktunya kau untuk melayani kami berdua."
Seketika itu juga Laras langsung di tarik ke dalam lorong yang lebih gelap lagi, dengan buas ke dua laki - laki tersebut melucuti semua pakaian Laras satu per satu.
Mencumbu Laras yang saat ini sudah dalam keadaan telanjang dengan kasar dan satu per satu dari laki - laki tersebut melakukan penyatuannya lebih dari satu kali.
"Jika kau menginginkan barang itu lagi, dengan senang hati kami akan memberikan untuk mu, namun dengan syarat tubuh mu adalah bayarannya."
Satu laki - laki tersebut mengatakan hal itu dengan pelan ke telinga Laras yang saat ini sudah terkulai dengan lemas.
Dan setelah mengatakan hal tersebut ke dua laki - laki itu meninggalkan Laras begitu saja di lorong sempit dan gelap dengan keadaan telanjang.
Laras yang sudah sangat lemah mulai mencari kembali pakaiannya satu per satu.
Dalam keadaan gelap pada akhirnya Laras berhasil menemukan pakaiannya tersebut dan segera menggunakannya kembali.
"Aku, aku tidak tau harus berkata - kata lagi."
Saat ini Laras mengalami intimidasi yang sangat hebat, ya intimidasi yang timbul karena perbuatan demi perbuatan salah yang telah di lakukan.
Dengan berjalan pelan-pelan dan penuh air mata, malam itu Laras kembali ke dalam apartemennya.
Tidak ada kata - kata lagi yang bisa Laras keluarkan, karena saat ini dirinya sudah merasa tidak ada artinya lagi.
Sesampainya di dalam apartemen, Laras langsung menguyur tubuhnya dengan air dingin, ya tubuh dengan tanda cinta dari ke dua laki -laki yang malam ini berhasil mencicipi tubuh Laras, karena Laras sendiri yang mengizinkan akibat terpaksaan.
Malam ini pada akhirnya Laras tenggelam di dalam tidur malamnya yang panjang.
Mencoba untuk terus memejamkan ke dua matanya yang sejak tadi sebenarnya tidak ingin dia pejamkan.
Rasanya begitu berat sampai - sampai Laras tertidur di dalam tangisnya saja.
Malam yang sangat kelam pada akhirnya berganti dengan pagi, hari ini Prince melangkahkan kakinya dengan bahagia karena kini dia tau bahwa Laras ternyata masih menyimpan rasa.
Dengan langkah yang pasti Prince melangkahkan kakinya untuk menuju ke apartemen Laras.
Dan dengan penuh semangat Prince membunyikan bel pintu kamar Laras.
Seketika Prince mengernyitkan dahi ketika melihat ke dua mata Laras yang bengkak, saat Laras membukakan pintu untuknya.
"Laras apakah kau baik - baik saja?"
Prince yang khawatir akan keadaan Laras langsung mengatakan hal tersebut.
"Untuk apa kau kemari lagi mas?"
Deg
Hati Prince tersentak ketika dengan lantang Laras mengatakan hal itu kepadanya.