
Laras mengatakan hal tersebut sambil menarik selimut putihnya sampai ke atas kepala dan mencoba untuk memejamkan ke dua matanya yang saat ini sangat sulit untuk di pejamkan
Rasa ketakutan dan intimidasi terus hidup subur di dalam hati dan pikiran Laras, atas apa sudah dia lakukan saat ini dan tidak diketahui oleh orang lain.
Malam yang dingin bagi hati Laras pada akhirnya berganti dengan pagi.
"Mbak Laras, mbak Laras bangun mbak, di tunggu mas Prince sarapan di bawah."
Pagi ini bi Ijah mengetuk - ngetuk pintu kamar Laras untuk membangunkan Laras.
"Ya bi Ijah Laras akan segera turun."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk menyadarkan diri dari rasa kantuknya yang belum hilang.
"Semalam rasanya aku seperti orang yang tidak tidur, badan ku sangat pegal."
Laras mengatakan hal tersebut sambil bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi.
Pagi ini Laras mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin dan guyuran tersebut lah yang pada akhirnya membuat ke dua matanya terbuka .
Setelah puas bermain air dingin di dalam kamar mandi.
Dengan cepat Laras menggunakan kembali pakaiannya dan langsung turun untuk menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi sayang."
Deg
Hati Laras begitu bergetar saat dirinya telah sampai di meja makan di sambut oleh senyum laki - laki tampan.
"Pagi mas Prince."
"Duduklah, pagi ini bi Ijah masak makanan kesukaan mu loh."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menepuk - nepuk kursi yang ada di sebelahnya.
"Ya mas"
"Gudeg, telur pindang, opor ayam, sambel goreng kerecek?"
Laras mengatakan hal tersebut sambil menunjuk satu per satu makanan yang saat ini sudah terhidang.
"Ya kau benar ini adalah makanan- makanan kesukaan mu bukan?, aku sengaja meminta bi Ijah dan semua orang untuk membantu memasaknya pagi ini."
Seketika itu hati Laras langsung terenyuh dengan perkataan dari Prince.
"Mas, tapi mas Prince tidak perlu sampai heboh seperti ini untuk sarapan pagi."
"Kau tau aku akan melakukan kehebohan demi kehebohan yang lainnya jika semua hal itu membuat istri ku menjadi senang."
Seketika itu Laras kembali terdiam dengan semua hal yang telah di katakan oleh suaminya sendiri.
Pagi ini, dengan ke dua mata dan ke dua telinganya Laras pada akhirnya bisa melihat dan mendengarkan betapa suaminya kini telah berubah menjadi pemujanya.
"Ini, makan lah yang banyak, aku suka melihat istri ku makan banyak."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengambilkan nasi dan semua lauk ke dalam satu piring lalu diberikan kepada Laras.
"Terima kasih mas Prince."
"Sama - sama istri ku tercinta."
Prince mengatakan hal tersebut sambil tersenyum ke arah Laras yang saat ini sudah mulai berkonsentrasi dengan makanan nya.
"Enak sayang masakannya?"
"Enak sekali mas, sejak dulu bi Ijah memang sangat pandai di dalam hal memasak."
"Syukur lah jika masakannya enak, ayo tambah lagi nasi dan lauknya yah."
Laras menganggukkan kepalanya, saat ini Laras sangat merasakan di sayang oleh suaminya, saat ini Laras merasakan Prince begitu mencintainya.
Dan untuk kesekian kalinya tiba - tiba saja Laras lupa akan setiap rasa ketakutannya yang luar biasa tersebut.