MY PRINCE

MY PRINCE
PERMOHONAN



Sementara itu di rumah sakit pada siang ini.


"Aku dimana?"


Laras yang mulai membuka mata sangat heran melihat sekelilingnya yang berbeda dari biasa.


"Mbak Laras sudah sadar mbak?"


Satu orang wanita paruh baya yang sejak tadi dengan setia menunggu kesadaran Laras mengatakan hal tersebut.


"Bi Ijah apa yang sebenarnya terjadi dengan ku?"


Kesadaran Laras yang kini semakin terjaga membuatnya kembali bertanya.


"Mbak Laras pingsan di kamar."


"Pingsan bi?"


Dengan cepat bi Ijah menganggukkan kepalanya.


"Iya mbak, mbak Laras pingsan dan demam tinggi saat bibi akan membangun mbak Laras."


Laras terdiam dan mulai kembali mengingat - ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.


"Mas Prince, bi dimana mas Prince? sejak tadi Laras belum melihat kedatangannya?"


Bi Ijah langsung terdiam ketika Laras menanyakan satu laki - laki yang membuatnya sampai seperti ini.


"Maafkan bibi mbak Laras, namun sampai saat ini bibi tidak mengetahui keberadaan mas Prince."


Deg


Laras yang mendengarkan hal tersebut hanya bisa kembali terdiam, seketika itu Laras sadar bagaimana Princes memperlakukan dirinya.


Bagaimana Princes menganggap dirinya, dan air mata Laras kembali mengalir dengan deras ketika pikiran demi pikiran kembali menyerangnya.


"Mbak Laras menangis?"


Bi Ijah yang mulai menyadari bahwa air mata Laras semakin mengalir dengan deras langsung menegurnya.


"Aku hanya ingin mas Prince ada di dekat ku bi, apakah permintaan ku ini terlalu sulit?"


Bi Ijah yang mendengarkan perkataan tersebut hanya bisa terdiam, ingin sekali bi Ijah mengatakan bahwa apa di minta oleh Laras memang sulit, namun dengan keadaan Laras yang seperti ini, tidak mungkin bi Ijah akan mengatakan yang sebenarnya.


"Bi Ijah apakah bibi bisa menjawab pertanyaan Laras?"


Namun belum sempat untuk menjawab, pintu ruang rawat di buka.


Satu orang dokter masuk ke dalam ruangan.


"Dokter Andre."


"Ya betul, aku Andre, ternyata mbak Laras masih mengingat nama ku dengan baik."


Andre tersenyum dengan sangat manis ketika mengatakan hal tersebut.


"Ah maaf, dokter harus melihat air mata ini."


Laras mengatakan hal tersebut dengan mencoba untuk menghapus air matanya.


"Tidak ada yang salah dengan menangis mbak Laras, jika memang kita bisa untuk menangis lakukan saja, tidak perlu untuk di tahan, itu akan menimbulkan luka yang lebih dalam di dalam setiap perjalanan hidup kita."


Andre mengatakan hal tersebut dengan terus memandang Laras yang saat ini sedang sibuk menghapus air matanya, namun air mata tersebut ternyata cukup susah untuk di hentikan.


"Bagaimana kondisi mbak Laras hari ini dokter?"


Bi Ijah yang sejak tadi terus memperhatikan Andre memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


"Kondisi Laras sudah semakin membaik, mungkin esok hari dia sudah di izinkan kembali ke rumah jika kondisinya tetap seperti ini."


"Dokter, boleh aku meminta sesuatu?"


Laras mengatakan hal tersebut kepada Andre dengan penuh harap.


"Ada apa mbak Laras?"


"Apakah aku bisa kembali hari ini?"


"Hari ini?


Dengan cepat Laras langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya dokter hari ini."


"Tidak bisa mbak Laras, karena kondisi mbak belum sembuh total."


"Dokter aku mohon, aku sudah tidak betah lagi ada di dalam ruangan ini."


Laras kembali mengatakan hal tersebut dengan penuh harap kepada Andre.


Andre hanya bisa memandang Laras dengan tatapan yang tajam sebelum memutuskan.