
Mas, mas tidak salah, seharusnya saya yang tau diri, seharusnya saya menyadari jika saat ini sudah menjadi istri seorang CEO, seharusnya aku bisa melihat merawat diri, karena istri adalah cerminan dari suaminya, maafkan Laras ya mas, maafkan, Laras akan lebih mengurus diri Laras."
Laras mengatakan hal tersebut dengan air mata yang terus mengalir di dalam pelukan dari Prince.
"Laras, merawat diri itu memang penting, namun lakukan itu tidak dengan memaksa kan diri mu, karena kini aku baru sadar jika fisik bukanlah sesuatu hal utama di dalam sebuah hubungan, aku begitu merasakan kehilangan mu, namun aku yang memiliki ego tinggi tidak berani untuk menjemput mu, maafkan aku sayang."
Deg
Hati Laras sangat berbunga - berbunga saat Prince dengan sengaja memanggilnya dengan sebutan sayang, untuk pertama kali di dalam hidupnya Laras mendapatkan kata - kata itu dari orang yang paling dia cintai.
"Iya mas, kita sama - sama belajar dari kesalahan kita yah, mas apakah kita akan terus berpelukan di pintu seperti ini?"
Laras yang saat ini masih mendapatkan pelukan erat dari Prince kembali mengatakan hal tersebut.
"Ah sayang maafkan aku, ayo masuk, pasti kau sangat lelah."
"Iya mas."
"Ayo kita ke kamar kita."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengandeng tangan Laras, dengan lembut Prince mengajak Laras untuk masuk ke dalam kamar.
Ya kamar yang sebelumnya menjadi tempat Laras melayani kebutuhan biologis Prince tanpa cinta, kamar yang saat itu bagi neraka bagi Laras.
"Nah Laras semalam aku telah membereskan kamar ini, entah mendapatkan firasat dari mana, namun aku mengatakan kepada diri ku sendiri untuk merapikan kamar karena akan ada yang datang, dan ternyata istri ku yang kembali."
Sungguh saat ini hati Laras sangat berbunga - bunga karena Prince dengan lantang berani menyebutkan bahwa dirinya adalah istri sah nya.
"Terima kasih mas."
"Terima kasih untuk apa sayang?"
"Terima kasih karena mas Prince telah merapikan kamar untuk ku."
Laras mengatakan hal tersebut dengan tersebut.
"Sebagai gantinya aku akan memasak makan malam untuk mas Prince, apakah mas mau makan masakan aku?"
"Mas tunggu di sini ya, biar Laras yang memasak."
"Baiklah aku akan menunggu hidangan ini dengan setia."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Laras berjalan ke arah dapur..
Sungguh saat ini Laras begitu merindukan untuk kembali memasak di dapur yang biasa Laras gunakan untuk memasak makanan untuk Prince.
"Astaga mbak Laras."
Satu wanita paruh baya langsung memeluk Laras begitu melihat kedatangan Laras.
"Iya bi Ijah, ini Laras."
Laras mengatakan hal tersebut di dalam pelukan bi Ijah.
"Ya ampun mbak bibi rindu sekali dengan mbak Laras, bibi pikir bibi tidak akan melihat mbak Laras lagi."
Dengan cepat bi Ijah mengatakan hal tersebut kepada Laras yang kini sudah melepaskan pelukannya.
"Dan Laras sekarang sudah berada disini."
"Iya mbak, mas Prince begitu kehilangan mbak Laras sewaktu mbak Laras tidak ada."
"Kehilangan?"
Dengan cepat bi Ijah menganggukkan kepalanya.
"Iya mbak, mas Prince sering menghabiskan malam - malamnya dengan minuman keras."
Deg
Dan untuk pertama kalinya Laras kembali teringat akan kebiasaan Prince yang sampai saat ini belum hilang.