
Mas, kenapa kau tidak pernah menceritakan kepada ku, tentang kebenaran ini, kenapa kau tidak pernah menceritakan kepada ku, jika, jika ibuk meninggal bukan karena kecelakaan namun karena di bunuh, dan pelaku nya , pelakunya."
Hati Laras begitu sesak saat dirinya tak kuasa lagi menyebut siapa yang telah melakukan semua hal ini.
Batinnya sangat terluka, dadaknya sesak dan hancur sudah semua kepercayaannya terhadap Prince...
"Jadi selama ini aku hidup, aku tinggal, dan aku menikah dengan pembunuh ibuk ku sendiri, dengan keluarga pembunuh ibuk ku sendiri."
Air mata Laras begitu deras saat mengatakan hal ini, sungguh saat ini dia tidak tau apa yang harus dia perbuat atas semua hal yang sedang menimpanya.
"Aku benci dengan mu mas Prince, kenapa, kenapa, arrh sakit, perut ku kram."
Laras mengatakan hal tersebut dengan memegang perutnya, kesedihan yang dia saat ini terlalu dahsyat dan hal tersebut yang membuat perutnya mengalami kontraksi.
"Laras kau harus tenang, Laras kau harus tenang, ingat di dalam rahim mu saat ini hidup satu orang nyawa yang sangat bergantung kepada mu, ya Laras kau harus tenang, arrrh sakit."
Laras terus mengatakan hal tersebut untuk menenangkan dirinya sendiri, saat ini dirinya begitu sakit hati atas semua hal yang tiba - tiba di ketahui nya secara mendadak.
"Laras, Laras, ayo Laras, tenang, tenang."
Laras terus mengatakan hal tersebut sambil mencoba menghapus air matanya yang sampai saat ini belum bisa juga untuk berhenti.
"Buk, maafkan Laras buk, Laras terlalu bodoh untuk hal ini, maafkan Laras buk."
Rasa penyelesalan yang teramat dalam kini Laras terus rasakan.
"Apa yang harus Laras lakukan saat ini buk? apakah Laras harus menyerahkan buku harian ini kepada kepolisian? tapi Laras takut. buk, Laras sendiri, Laras takut jika bukti ini tidak cukup kuat untuk memberikan keadilan kepada ibuk."
Dan seketika Laras kembali menangis secara histeris untuk yang ke dua kalinya.
"Sakit sekali perut ku, sakit sekali."
Dan seketika itu juga Laras melihat darah segar mengalir dari kakinya.
Laras langsung berteriak ketika melihat darah segar keluar.
"Astaga mbak Laras kenapa?"
"Bi tolong Laras, bawa Laras ke rumah sakit, tolong bi!"
Laras mengatakan hal tersebut sambil mencengkram lengan bi Ijah dengan kuat.
"Iiiya mbak, iya tunggu sebentar."
Setelah mengatakan semua hal tersebut, bi Ijah segera berlari untuk menyiapkan mobil dan juga supirnya.
"Sakit sekali ini, sakit sekali, sayang maafkan mama, sayang mama mohon bertahan lah di dalam sana, mama mohon sayang."
Air mata Laras kini bercampur dengan kesedihan dan rasa sakit yang teramat sangat.
"Sayang kita harus bertahan, kita harus bisa bertahan mama mohon."
Dan setelah mengatakan hal tersebut pandangan mata Laras tiba - tiba gelap, yah gelap dan sangat gelap.
Dan detik itu juga Laras pingsan di atas meja, Laras yang malang satu hari yang lalu Prince begitu memanjakan dirinya, namun di saat yang bersamaan Laras harus mengetahui kebenaran yang membuat hatinya sangat hancur.
"Pak tolong mbak Laras pak, ayo pak.
"
Bi Ijah yang masuk ke dalam kamar langsung menangis melihat keadaan Laras yang saat ini sudah pingsan dengan darah yang mengalir
Sungguh saat ini Laras sepertinya sudah tidak ingin kembali membuka ke dua matanya.