
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencium kening Jesika, satu hal yang juga menjadi kerinduan dari Larasati.
"Sayang, ternyata benar apa yang kau katakan, wanita ini adalah wanita buruk rupa, ya sangat buruk rupa, pantas saja ke mata mu sakit ketika harus memandangnya."
"Kau benar Jesika, untuk itulah aku meminta mu untuk tinggal bersama dengan ku, agar kau bisa memanjakan penglihatan ku, dan memanjakan semua hal yang aku senangi"
Prince mengatakan semua hal tersebut kepada Jesika sambil memberikan kecupan sayang di hadapan Larasati.
"Ayo ikut ke kamar ku, anggap saja kau tidak pernah melihat wanita jelek ini sayang."
Prince mengatakan hal tersebut kepada Larasati dengan tersenyum sinis.
Saat ini Larasati hanya bisa terdiam seperti patung melihat suami sah nya masuk ke dalam kamar bersama dengan wanita lain.
Air mata yang sangat di tahan Larasati pada akhirnya menetes tanpa permisi.
"Kenapa kau bawa perempuan itu mas, ingat mas kita sudah menikah, membawa perempuan lain dan tidur di tempat tidur mu itu sama saja kau berbuat zina mas, mas Prince sadarlah, jangan sampai Tuhan yang turun tangan menyadarkan mu, karena rasanya akan lebih sakit."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menghapus air matanya.
"Mbak, sudah mbak."
Larasati yang merasakan bahunya di tepuk langsung menoleh.
"Bi Ijah."
"Ayo mbak masuk saja ke dalam kamar, bibi temani di dalam yah."
Larasati tidak mengatakan hal apapun kecuali menuruti apa yang telah di katakan oleh bi Ijah
Sementara itu di dalam Prince.
"Sekarang jelaskan kepada ku Prince."
"Hei sayang apa yang harus dijelaskan lagi? cinta ku akan tetap ada kepada mu."
"Banyak yang harus kau jelaskan, kau benar - benar gila!"
"Ya Prince akan selalu gila jika sudah menghirup aroma tubuh mu yang wangi sekali."
Prince mengatakan hal tersebut sambil terus menciumi Jesika dari belakang.
"Lepaskan aku dulu Prince, rahan nafsu mu."
Jesika yang sebentar lagi akan di lahap rakus oleh Prince langsung menghentakkan tangannya.
"Sayang apalagi yang ingin kau ketahui? apakah sudah tidak lebih dari cukup bukti cinta ku kepada mu?"
Prince mengatakan hal tersebut dengan nafas yang tersengal-sengal, karena gairahnya mulai memuncak.
"Aku tau kau mencintaiku, dan aku percaya itu."
"Lalu penjelasan apa lagi?"
"Penjelasan kenapa kau meminta aku tinggal satu atap dengan perempuan itu Prince, aku kan sudah mengatakan jika aku akan tinggal di apartemen saja, namun kau seakan - akan malah mengancam ku dengan tidak akan memberikan lagi uang bulanan untuk ku."
"Apakah kau sadar Prince aku tidak mau di bandingkan dengan wanita itu, karena dia bukan level ku."
Jesika mengatakan hal tersebut kepada Prince dengan nada kesal.
"Siapa yang membandingkan kau dengan wanita itu Jesika?"
"Aku sudah sangat mengetahui bahwa dia bukanlah saingan mu, itu sebabnya aku berani mengajak mu untuk tinggal di rumah ini."
"Aku tau kau tidak akan mau bersaing dengan wanita bertubuh gendut dan hitam seperti itu, aku tau semuanya Jes."
"Lalu kenapa kau masih memaksa ku untuk satu atap dengannya Prince? sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran mu."
"Karena aku jijik dengan wanita itu, ya aku jijik ketika harus berdekatan dengannya.