My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Nyaris saja



"Sherina awas.... ! ! ! Ada mobil truk di depan kita!!"


"Hah!!"


Aku tersentak mendengar teriakan Rosse. Aku baru ingat kalau saat ini sedang bersamanya. Kaget dengan apa yang ada di depanku, aku membanting stir ke kiri membuat mobil menjadi oleng. Aku berusaha menggedalikan mobilku yang kini hilang kendali. Aku mencoba memutar stir ke kiri dan ke kanan, menggunakan rem secara bergantian agar aku tidak menabrak kendaraan lain. Rosse berteriak histeris sambil berpegang erat pada kursi mobil. Setelah membuat zik-zak, mobil kemudian berputar di aspal dan berakhir menabrak pohon. Airbag mengembang seketika saat mobil menghantam pohon. Untung aku dan Rosse selamat tampa mengalami luka sedikitpun.


"Ji, ji, jika kau, i, ingin mati. Jangan libatkan aku!" bentak Rosse dengan tubuh gemetar.


"Maaf," kataku tanpa meliriknya.


Aku meletakan dahiku di stir kemudi sambil mengatur nafas. Apa yang sudah aku lakukan? Bisa-bisanya aku seperti ini. Tadi itu nyaris saja. Kalau bukan karna Rosse... Maafkan aku Rosse. Kenapa aku selalu melibatkan seseorang dalam bahaya? Tiba-tiba aku merasakan nyeri di dada kiriku. Ada apalagi ini? Kenapa aku merasakan rasa sakit ini? Rasa sakit ini sama seperti pada malam... Aku membantu Rosse. Iya, aku ingat. Pada malam itu aku merasakan rasa sakit yang sama sebelum hilang kesadaran. Aku mencoba mengatur nafasku untuk meredakannya, dan itu cukup membantu.


Tit... Tit... Tit...


Jamku berbunyi perlahan membuatku meliriknya.


"Jammu berbunyi. Apa kau mau berubah?" tanya Rosse sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.


"Tidak. Mungkin aku terlalu shock karna kecelakaan ini," iya aku yakin sekali kalau rasa sakit yang kualami bukanlah karna ingin melakukan perubahan. Rasa sakit ini sangat berbeda.


Tuk... Tuk... Tuk...


Tiba-tiba ada seseorang mengetuk kaca mobilku yang membuatku menoleh. Aku menurunkan kaca mobil melihat siapa itu.


"Paman Fang? Bagaimana bisa paman Fang ada disini?" tanyaku ketika tahu siapa itu.


"Miss. Livitt menelponku. Katanya kau pulang dalam keadaan ngebut. Aku khawatir jadi segerah menyusulmu," jelasnya sambil membantuku keluar, kemudian paman Fang membantu Rosse. "Kalian tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"


"Tidak. Kami baik-baik saja," kata Rosse.


"Syukurlah. Ayok, aku akan mengantar kalian pulang."


"Tapi paman Fang, bagaimana dengan mobilku?" tunjuk ku pada mobilku.


"Nanti aku menyuruh seseorang membawa mobilmu ke bengkel."


"Terima kasih paman Fang."


Aku dan Rosse mengikuti paman Fang menuju mobil hitam yang terparkir dipinggir jalan. Sebelum mobil melaju kupandangi sekilas mobilku yang menabrak pohon. Tidak terbayang olehku akan berakhir seperti ini. Mobil melaju pelan menyelusuri jalan. Tidak ada percakapan diantara kami. Aku melirik Rosse yang menatap jauh kedepan. Tubuhnya masih gemetar atas kejadian tadi. Aku menggapai tangan Rosse, menggegamnya erat di tanganku. Tangannya terasa begitu dingin.


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku memecah kesunyian.


"Aku baik," jawabnya sambil menarik tangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau ngebut di jalanan? Jika terjadi sesuatu pada kalian aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada orang tua kalian," kata paman Fang yang melirik kami dari balik kaca spion.


"Maaf. Ini semua karna aku kesal pada kedua temanku yang berkelahi tapi mereka tidak mau memberitahu ku alasannya," jelas ku.


"Kesal sih kesal tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri. Kalau ayah dan ibumu tahu mereka pasti tidak akan mengizinkanmu membawa mobil lagi," ujar paman Fang mengingatkan.


"Iya. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku cukup terkejut. Kau terbuka sekali pada Mr. Li," kata Rosse yang membuatku menoleh padanya.


"Tentu saja. Paman Fang adalah gudang rahasiaku. Semua rahasiaku yang tidak diketahui orang tuaku, hanya paman Fang yang tahu. Ia adalah orang yang paling terpercaya dalam hidupku. Semua keluh kesah, pertolongan, saran, dan sebagainya aku lebih suka bercerita pada paman Fang," kataku.


"Oh, kalau begitu aku bisa meminta Mr. Li untuk menceritakan semua rahasiamu."


"Lakukan saja kalau kau bisa. Paman Fang adalah orang yang paling setia. Paman Fang tidak akan perna menghianatiku," kataku membanggakan paman Fang. Paman Fang hanya tersenyum saat ku lirik ia di balik kaca spion.


Rosse kembali diam dengan wajah sedikit cemberut. Lalu kemudian ia bertanya. "Ngomong-ngomong ada yang membuatku sedikit penasaran. Difilm-film biasanya saat manusia serigala berubah, pakaiannya... Kau tahukan. Kanapa itu tidak terjadi padamu?"


"Maksudnya?"


"Iya, semua pakaianku sudah disihir. Pada saat aku melakukan perubahan baju yang aku kenakan akan menghilang dan muncul kembali ketika aku kembali ke wujud manusia," jelas ku secara singkat.


"Sulit dong kalau mau beli baju baru. Kau harus pergi ke penyihir dulu baru bisa dipakai."


"Tidak juga. Ada butik khusus yang menyediakan pakaian untuk kami."


"Oh, apa mungkin yang kau maksud bukti Vererossa itu?" tebak Rosse.


"Tepat sekali."


"Jadi semua pakaian disana sudah disihir?"


"Tidak. Hanya pemilik Black Ticket yang bisa mendapat layanan pakaian disihir."


"Aku kira Black Ticket adalah kartu khusus untuk status tinggi."


"Itu berlebihan."


"Em... Rin," ekspresi Rosse seperti ada maksud tertentu.


"Iya, apalagi? Apa yang masih ingin kau tanyakan?"


"Em... Apa aku boleh menyentuh itu," tunjuk Rosse ke atas kepalaku.


Aku berusaha melirik ke atas kepalaku. "Kau mau menyentuh telingaku?"


"Aku sudah lama menahannya," tampa persetujuanku lagi Rosse langsung memainkan telingaku. Ia menarik, mencubit, dan menggelusnya dengan gemas. "Wah... Telinga serigala yang lucu."


"Rosse...!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini aku merasa lega karna mantra Sofia telah hilang. Di koridor menuju kelas aku melirik Rosse sedikit kesal. Bagaimana tidak, sepanjang jalan pulang semalam Rosse terus saja memainkan telingaku. Telingaku sampai sakit dibuatnya. Tapi ia mala terlihat puas sekali setelah menarik telingaku dengan gemas. Namun ada rasa senang juga, Rosse tidak mengalami trauma setelah kejadian kecelakaan itu. Aku sempat berpikir kalau ia akan takut untuk naik mobil lagi, tapi aku tidak tahu kalau aku yang mengemudi. Tadi paman Fang yang mengantar kami ke sekolah. Maklumlah mobilku masih di bengkel dan kemungkinan sore ini baru selesai di perbaiki.


Jam istirahat tiba-tiba Perchye menarik ku ke bawah pohon di taman. Pagi tadi aku tidak menegurnya sama sekali saat ia menyapaku. Sebelum ia memberitahu alasan ia dan Onoval bertengkar, jangan harap untuk berbicara denganku. Tapi kali ini ia berhasil menariku pergi ke tempat sepih. Apa ia mau menjelaskan semuanya? Aku harap begitu.


"Lepaskan aku Perchye!" aku berusaha melepaskan cengkramannya tapi percuma gegamannya kuat sekali.


"Maaf, maaf. Spa aku menyakitimu?" ia seketika melepaskan gegamannya ketika menyadari aku sedikit kesakitan.


"Hm!" aku memalingkan muka dengan kesal.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε