My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kabut penghasut



"Kau bisa melepaskan pelukanmu, penakut. Kita sudah mendarat."


"Hah?!" seketika aku membuka mata dan sadar kalau selama ini aku merangkul erat leher Onoval dengan tubuhku dibopong oleh nya. Aku melompat menjauh melepaskan diri darinya. Aku melihat ke sekeliling dan mendapati kami telah kembali ke atas atap sekolah. "Dasar kau Onoval!! Kau mengambil kesempatan dariku! Akan kuhajar kau!" bentaku kesal sambil mengejarnya.


"Ayok kejar aku kalau bisa," katanya sambil mengejekku. Ia berlari menghindar dariku.


"Onoval.........! !"


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Hah..."


Rosse menghela nafas panjang sambil menatap langit kosong malam. Ia saat ini sedang sendirian di lorong sekolah di lantai dua yang memiliki pagar pembatas di sisi kanannya. Ia, Sofia dan Lisa sebenarnya sedang berpencar mencari Rin yang entah kemana. Rosse cuman ingin merenung sesaat di tempat yang sepi.


"Siapa aku sebenarnya dimata mereka? Hanya seorang teman kah, atau beban saja? Aku cuman manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun. Lisa bisa berlatih Telekinesis. Ia setidaknya mempunyai kemampuan spesial. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya menyulitkan mereka. Aku tidak mau terus dilindungi seperti ini. Aku juga mau bisa berguna bagi mereka, bukannya berada di barisan belakan dan cuman menonton saja," gumang Rosse.


"Oh... Apa ini? Mangsa yang tengah sendirian," secara kebetulan Sindy lewat di lorong itu dan melihat Rosse yang sedang melamun. "Rosse sepertinya lagi meratapi nasifnya yang cuman seorang manusia biasa. Hati yang gelisah sangat mudah untuk dihasut."


Dengan rencana licik nya Sindy berjalan mendekati Rosse. Ia mau menghasut Rosse agar mengkhianati rekan-rekannya. Suatu percobaan yang gagal pada Lisa tapi mungkin akan berhasil pada Rosse.


"Rosse teman lama ku. Apa kabar sobat?" sapa Sindy.


Rosse berbalik melihat siapa yang baru saja berbicara di belakangnya. Ia seketika waspada begitu tahu diapa itu. "Sindy?! Apa mau mu?"


"Jangan memasang raut wajah seperti itu. Aku cuman mau ngobrol denganmu. Bagaimana rasanya setelah masuk dalam bagian dunia malam? Menyenangkan atau tidak? Sebagai manusia biasa kau pasti merasa sedikit iri hati karna tidak memiliki kemampuan khusus seperti kami ini, kan?"


"Untuk apa lau bicara seperti itu padaku?"


"Rosse, Rosse. Gadis yang malang. Aku ingin tanya padamu, siapa sebenarnya kau ini di mata mereka?" Sindy menebar kabut penghasut di sekitaran mereka.


"Aku...?" Rosse tampak mulai terpengaruh kabut itu.


"Kau bukan siapa-siapa, termasuk ibumu," bisik Sindy di telinga Rosse. "Keluarga Morgen hanya menaruh kasihan padamu dan ibumu itu. Mereka tidak benar-benar menganggap kalian berdua sebagai keluarga. Nyatanya ibumu cuman pengasuh dan kau anak dari seorang pengasuh."


"Tapi keluarga Morgen memperlakukan kami dengan sangat baik. Tidak ada perbedaan derajat yang perna mereka tunjukan pada kami."


"Tidak muda juga mencuci otak gadis ini. Aku akan pertebal lagi kabutnya. Aku ingin lihat seberapa mampu kau dapat lepas dariku," batin Sindy. "Okey mereka baik, di depan kalian. Pernahkah kau berpikir kalau mereka cuman sekedar bersandiwara?"


"Sandiwara?"


"Iya. Mereka telah berpura-pura di depanmu. Kau itu cuman beban bagi mereka. Seorang manusia biasa sepertimu tidak akan sanggup bertahan di dunia malam yang penuh kekacauan ini, dimana yang kuat berkuasa dan yang lemah binasa. Mereka tidak bisa selalu melindungi mu. Mereka akan meninggalkanmu disaat mereka juga dalam bahaya atau mungkin kau akan di jadikan tumbal agar mereka bisa melarikan diri. Pikirkan baik-baik Rosse. Rin dan Sofia tidak akan mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan mu. Kau bukan siapa-siapa dimata mereka. Lain halnya dengan Lisa, ia adik kandung Rin. Ia masih memilik hubungan persaudaraan dan tak mungkin menjadi pilihan."


"Mungkin kau benar. Mereka tidak mungkin sampai mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkan ku yang cuman manusia biasa ini. Aku tidak berguna bagi mereka."


"Berhasil," senyum terukir di wajah Sindy. "Jangan bersedih Rosse. Mengingat kita pernah menjadi teman sekelas, bagaimana kalau aku menawarkan bantuan untukmu?"


"Bantuan?"


"Aku bisa membantumu mendapatkan kekuatan sihir."


"Aku bisa memiliki kekuatan sihir?"


"Tentu saja bisa. Kekuatan sihir yang sangat besar lebih besar dari si penyihir Sofia itu."


"Dengan menjadi budak darah tuanku. Ia akan memberi kekuatan padamu."


"Budak darah? Em..." Rosse mengusap bagian belakang lehernya dan terlihat sedang berpikir.


"Apa kau perna berpikir bagaimana bisa sihirku meningkat sangat pesat? Itu karna tuanku yang memberiku kekuatan ini. Kebetulan tuanku saat ini sedang membutuhkan satu budak darah lagi. Apa kau mau?"


"Aku..."


"Tidak akan terjadi apa-apa. Menjadi seorang budak darah tidak semenakutkan apa yang dikatakan orang, mala ini sebagai kehormatan untuk kita dan sangat menguntungkan. Kita akan mendapat kekuatan yang sangat besar secara cuma-cuma. Pikirkan itu. Dengan memiliki kekuatan, tidak ada yang perlu kita takutkan lagi. Kita bebas melakukan apa saja yang kita mau dan tidak ada yang bisa menghalangi. Kau bisa membuktikan pada Rin dan yang lainnya kalau kau itu bukanlah beban yang tidak berguna."


"Iya. Aku mau. Akan aku buktikan pada mereka kalau aku bukanlah manusia lemah yang bisanya cuman mendapat perlindungan dari mereka. Aku juga bisa melawan."


"Gadis pintar. Kalau begitu izinkan aku mengantarmu pada tuanku," Sindy menarik tangan Rosse sedikit ke tengah lorong.


"Tunggu. Siapa tuanmu?"


"Lucas Narthman, sang putra mahkota kerajaan vampire terakhir," jawab Sindy bersama dengan hilangnya mereka di lorong tersebut.


Dalam sekejap mereka berpindah ke suatu ruangan besar dalam kastil. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi. Tidak ada satupun lampu serta lilin disini tidak menyala. Cahaya redup hanya masuk melalui kaca jendela yang berhiasab tirai merah nan elegan. Ada seorang pria yang berdiri diam membelakangi mereka. Pria itu sedang mamandang keluar jendela.


"Hamba menghadap tuanku," Sindy seketika membungkuk pada pria tersebut.


"Sindy, budak darah kesayanganku. Siapa yang kau bawah bersamamu ini, sayang?"


"Dia adalah temanku, namanya Rosse. Ia ingin menjadi budak darahmu."


"Ah... Rosse, bunga yang indah," tiba-tiba pria itu menghilang dan muncul lagi tepat di depan Rosse. Lucas membelai wajah hangat Rosse yang terkejut. "Wajahmu secantik namamu. Apa kau yakin mau menjadi budak darahku?"


"Iya. Aku bersedia," jawab Rosse dengan tegas.


"Aku suka gadis yang pemberani," Lucas menjauhkan helaian rambut hitam Rosse yang menutupi lehernya putihnya. "Tahannya, ini mungkin akan sedikit sakit."


"AAAH ! ! !"


Teriak Rosse memenuhi ruangan itu disaat Lucas menancapkan taringnya. Lucas mulai menghisap darah Rosse seteguk demi seteguk sampai Rosse tidak sadarkan diri.


"Bawa dia pergi ke kamar. Biarkan dia istirahat," perintah Lucas pada dua pelayan yang tiba-tiba muncul disana.


"Baik," jawab dua pelayan itu lalu berlalu melaksanakan perintah.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε