My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Sekolah NorthVyden



"Simbol Necromancy itu membuat tanda klan mu menjadi semakin unik. Sungguh sayang mau dihapus. Aku mulai ya Rin. Kau mau kulukis apa untuk menutupinya?"


"Warna kulit saja, jangan yang macam-macam."


Sofia mengayunkan jarinya mendekatkan sebuah foundation dengan warna sama seperti kulitku. Begitu isi dari foundation tersebut mulai teroles ke kulitku rasa dingin seketika menusuk. Aku sedikit memejamkan mataku menahan rasa dingin itu. Apa memang sedingin ini? Aku harap Sofia tidak macam-macam denganku. Aku sudah perna beberapa kali masuk jebakan nya menjadi kelinci percobaan dari eksperimen sihir anehnya, dan hanya satu yang berhasil dengan sempurna. Sisanya aku sedikit tersiksa akan hal itu.


["Wah... ! ! Dingin sekali," teriak Sherina tiba-tiba muncul di hadapanku dengan tubuh menggigil. "Apa yang terjadi?"]


["Ini semua gara-gara Sofia. Entah apa yang ia berikan padaku untuk membantu menutupi tanda klan Α (Alpha)," jelas ku pada Sherina.]


["Aku sedang tidur disaat rasa dingin tiba-tiba menusuk. Aku sempat berpikir itu mungkin gumpalan bola salju menimpaku,"]


["Kau juga bisa merasakannya?"]


["Tentu saja bisa. Apa yang terjadi pada tubuhmu aku juga merasakannya."]


"Ada apa dengan wajahmu kak?" tanya Lisa yang sepertinya khawatir.


"Sofia, apa memang sedingin ini? Rasanya... Seperti es batu, ditekankan ke dadaku," kataku dengan susahnya. Rasa dingin ini mulai menyakitkan.


"Hah? Apa benar? Aku belum perna mencobanya," kata Sofia begitu saja dengan raut wajah bodoh itu.


"Sofia........!!! Sudah kuduga ada yang tidak beres. Kenapa kau tidak mencobanya sendiri!" dengan geram aku melemparkan foundation itu dan tepat mengenai kening Sofia.


"Astaga! Benar-benar dingin," Sofia langsung mengusapnya dengan cepat karna tidak tahan dengan rasa dingin itu.


"Foundation apa itu kenapa dingin sekali?!!" tanyaku.


"Aku menambahkan serbuk bunga es agar foundation tidak mudah hilang," jelas Sofia.


"Bunga es? Bukankah bunga itu memiliki racun es jika bersentuhan langsung dengan kulit," ujar Prof. Peter.


"Sofia kau mau membunuh orang? Kenapa menggunakan racun pada foundation mu?" Rosse menarik krah baju Sofia dengan geram.


"Aku cuman menggunakan serbuk bunganya saja. Itu masih aman kok. Kalaupun ada racun es nya itu masih tidak akan membahayakan nyawa seseorang," jelas Sofia.


"Aku tidak peduli dengan racun es, tapi yang pasti tunggu saja pembalasku Sofia!" aku melirik tajam pada Sofia.


Setelah foundation itu kering perlahan-lahan rasa dinginnya menghilang. Aku membetul krah bajuku kemudian mengenakan kembali jaket ku. Karna foundation yang dingin itu membuatku menggigil. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku lalu meniupnya dengan nafas yang panas. Prof. Peter kembali melajukan mobilnya setelah aku membiarkan Angel terbang keluar. Aku telah menyematkan alat pelacak di kakinya agar aku tahu keberadaannya di pulau Vyden ini. Tidak sampai semenit mobil berhenti di depan pintu gerbang kastil. Ada seorang penjaga menghampiri kami dan menanyakan keperluan serta kartu identitas kami. Prof. Peter menyodorkan kartu perkenalnya sebagai salah satu guru di sekolah NorthVyden itu. Alasan ia keluar menuju kota untuk menjemput kami.


Penjaga itu menerima alasan kami dan mengizinkan kami masuk. Tapi kami diminta untuk keluar dan melakukan pemeriksaan, takut-takut ada membawa benda yang dilarang masuk ke kastil atau salah satu dari kami merupakan manusia serigala. Penjagaan dari kastil ini sangatlah ketat. Tidak ada sedikitpun yang terlewat dari pemeriksaan. Semuanya barang-barang kami dibongkar di hadapan. Tubuh kami pun ikut di periksa oleh penjaga wanita yang memang sudah siaga di pintu gerbang.


Beruntung Prof. Peter teringat untuk menyembunyikan tanda klan ku, kalau tidak... Hukuman bagi seorang manusia serigala yang mencoba masuk ke kastil NorthVyden adalah akan di paksa bertarung dalam Gladiator melawan... Entahlah apa yang akan nanti menjadi musuhnya. Pantas saja sikap Prof. Peter sampai segitunya disaat ia lupa tentang menyembunyikan tanda klan ku. Ternyata warga disini juga sangat membenci manusia serigala.


Setelah melakukan pemeriksaan dan di lihat tidak ada yang mencurigakan kami barulah dipersilakan masuk menuju gedung sekolah. Aku menghela nafas lega begitu berhasil melewati pemeriksaan. Aku sangat takut, apa lagi disaat penjaga wanita itu sempat menggeretakku. Mobil berhenti di parkiran, kami keluar dari mobil lalu masuk ke dalam gedung sekolah untuk mengkonfirmasi kehadiran kami sebagai murit pertukaran pelajar. Lima menit pemeriksaan data, kami berempat diterima di sekolah NorthVyden. Ada seorang guru wanita yang diminta mengantar kami berempat ke asrama wanita. Prof. Peter tentu tidak bisa mengantar kami karna asrama wanita tidak boleh di masuki oleh pria.


Guru wanita itu memperkenalkan diri, namanya Barbara Fallom. Seorang gadis muda bertubuh ramping dengan rambut pirang lurus terikat satu ke belakang. Mata berwarna sedikit keabu-abuan dari balik kacamata bergagang hitam. Hidung mancung dengan bibir berlapis lipstik merah muda. Miss. Fallom orang yang ramah, murah senyum dan lembut. Selama perjalanan menuju asrama ia sedikit menjelaskan beberapa tempat di sekolah ini. Kami hanya menganguk dan bertanya disana sini seperti murit baru pindah biasa. Semua murit terlihat mulai berkeliaran karna hari memang telah menjelang malam. Beberapa dari mereka melihat kami dengan saling berbisik satu sama lain. Aku tidak menghiraukan mereka. Kami terus saja berjalan sampai di depan pintu kamar asrama kami.


"Nah gadis-gadis yang manis, ini kamar kalian. Istirahatlah dulu malam ini, kalian pasti lelah selama perjalan atau mau berkeliling sebentar untuk membiasakan diri dengan lingkungan sekolah. Saya undur diri dulu. Sampai jumpa di kelas besok malam. Oh, iya serangan kalian sudah ada di dalam lemari. Selamat malam," Miss. Fallom berlalu pergi.


"Selamat malam Miss. Fallom," kata kami bersamaan.


Aku memutar knop pintu lalu membukanya. Ruang kamar cukup luas dengan dua tempat tidur bertingkat, satu lemari besar empat pintu dan kamar mandi. Kamar ini lumayan juga sebagai asrama sekolah. Tempatnya bersih dan nyaman. Kami membereskan barang-barang bawaan kami setelah itu baru membaringkan diri kami yang lelah di tempat tidur. Aku memilih tempat tidur di bagian atas sedakan di bawahku Lisa. Untuk ranjang bertingkat yang satunya Rosse di atas dan Sofia memilih di bawah. Hah... Awal perjalan di pulau Vyden sudah membuatku tegang. Bertemunya kembali dengan paman Fang sangatlah tidak terduga bagiku. Itu berarti ayah menempati janjinya padaku. Permintaan terakhir... Ya, lagi pula aku memang tidak akan meminta apa-apa lagi.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε