My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Tiga pertanyaan



"Jangan senang dulu. Aku cuman bisa menjawab tiga pertanyaan darimu, tidak lebih."


"Hah? Tiga pertanyaan? Padahal banyak sekali yang mau aku tanyakan," kataku dengan ekspresi murung.


"Sudahlah, jangan bertingkah sok imut, itu tidak akan mempan padaku. Kau mau atau tidak."


"Iya, iya aku mau."


"Em... Apa sebaiknya aku pergi dulu? Kalian bisa bicara berdua," ujar Rosse.


"Tidak," aku menahan tangan Rosse agar ia tidak pergi. "Tetaplah disini. Tidak apa-apakan paman Fang?"


Paman Fang tidak menjawab, ia hanya mengangguk satu kali. Aku berpikir dulu, pertanyaan apa yang lebih baik aku tanyakan? Hanya ada tiga kesempatan bagiku untuk mengetahui sesuatu yang ingin sekali aku tahu.


"Em... Aku ingin tahu kenapa klan Α (Alpha) dan Β (Beta) terpecah setelah perang purnama merah usai? Apa penyebabnya?


"Itu pertanyaan pertama mu? Apa kau yakin?"


"Iya."


"Ok. Seperti yang kau tahu, kedua klan ini bersatu untuk melawan kaum vampire, dan bukan hanya klan Α (Alpha) dan Β (Beta) saja tapi juga beberapa klan manusia serigala lainnya. Semuanya saling membantu dan berkerja keras melawan musuh. Darah ada dimana-mana. Semuanya ditutupi lautan darah dan mayat yang tidak terhitung jumlahnya. Pada saat itu adalah awal dari kekacauan dunia malam. Kalau tidak ada sekte-sekte dan makhluk malam lainnya yang menghentikan, mungkin manusia serigala dan vampire sudah lenyap saling membantai satu sama lain."


"Separah itukah?" tanya Rosse disela-sela cerita.


"Iya. Untuk mengakhiri perang dibuatlah surat perdamaian. Surat ini ditandatangani kedua bela pihak dan sekte pemburu monster. Mereka sepakat untuk tidak akan ada permusuhan lagi antara kedua bela pihak. Untuk melengkapi itu dibuat juga buku peraturan dan hukum dunia malam."


"Semuanya terdengar berjalan sangat baik," ujarku.


"Tidak. Semuanya adalah awal dari kehancuran klan manusia serigala. Beberapa bulan setelah perang usai tiba-tiba klan Β (Beta) menyerang kediaman ini."


"Oh... Sebab itulah rumah ini pernah direnovasi?" tanya Rosse memastikan.


Paman Fang mengangguk. "Alasan penyerangan itu dikarnakan tidak terima Mrs. Abigail Morgen, nenekmu menarik mundur semua pasukan ditengah-tengah perang purnama merah terjadi. Bukan tampa alasan Mrs. Abigail Morgen melakukan itu. Ia melakukannya karna tewasnya suaminya dalam perang tersebut. Lagi pula selama perang berlangsung klan Α (Alpha) lah yang selalu ada digaris depan dan paling banyak kehilangan rekan seperjuangan."


"Nenek sudah mengambil keputusan yang tepat, kenapa klan Β (Beta) tidak terima?" aku mulai merasa geram mendengarnya.


"Apa ini pertanyaan keduamu?" tanya Paman Fang yang seketika kujawab gelengan.


"Em... Ah, aku tahu," aku menjentikkan jariku ketika menemukan pertanyaan yang ingin aku tanyakan lagi. "Kenapa klan Α (Alpha) dinyatakan hilang dari dunia malam?"


Paman Fang sedikit tersentak mendengarnya. "Kenapa kau bertanya demikian? Dari mana kau tahu hal itu?"


"Aku... Paman tahukan..." bagaimana cara menjelaskannya. Apa langsung saja aku katakan kalau aku mengetahuinya dari Perchye yang seorang manusia serigala?


"Apa mungkin bocah itu?" kata paman Fang menebak pikiranku.


"Ah... Kalau paman Fang tidak bersedia menjawabnya. Aku bisa cari pertanyaan lain," tatapan dingin paman Fang benar-benar membuat bulu kudukku merinding.


"Hah..." paman Fang menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa. Aku sudah janji untuk menjawab tiga pertanyaan mu. Apa ini pertanyaan kedua?"


"Iya," kataku pelan.


"Tidak tepat menyebutkan kalau klan Α (Alpha) menghilang dari dunia malam. Klan mu ini bisa dikatakan sedang memulihkan diri. Kenapa temanmu itu bisa berkata demikian, mungkin karna klan Α (Alpha) sudah lama tidak aktif lagi bersosialisasi di dunia malam. Klan mu ini benar-benar perna sampai pada titik paling buruk. Sungguh beruntung ada ibumu yang bisa membalikkan keadaan saat perang melawan klan Β (Beta) terjadi. Kekuatan ibumu benar-benar membuat mereka mundur ketakutan."


"Kenapa paman Fang mengatakan klan mu bukannya klan kita?" tanyaku tanpa sadar.


"Hah?!" walau sangat penasaran akan hal ini tapi untuk pertanyaan ketiga aku sudah menyiapkannya. Mungkin aku bisa mengetahuinya lain waktu. "Tidak. Aku sudah ada pertanyaan lain untuk pertanyaan terakhir ini. Paman Fang aku harap paman mengatakan yang sebenarnya. Kenapa identitas ku sebagai manusia serigala dirahasiakan dari klan? Aku tidak mau mendengar alasan karna aku belum mahir mengendalikan kekuatan ini. Aku tahu kalau itu bukanlah alasan yang sesungguhnya."


"Untuk masalah ini... Lebih baik kau tunggu sampai tahapan keenam mu selesai," kini raut wajah paman Fang terlihat ragu menjelaskannya.


Ternyata benar dugaan ku. Memang ada yang disembunyikan dari masalah ini. "Aku ingin mengetahuinya sekarang paman Fang."


"Apa kau yakin? Jawabannya mungkin tidak dapat terbayang olehmu."


"Aku sangat yakin sekali. Aku bisa menerimanya apapun itu."


"Baiklah. Alasannya karna..."


"Mr. Li! Apa anda disini?"


Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke ruang kerja membuat kalimat paman Fang terpotong. Ia sepertinya sedang mencari paman Fang. Hah... Kenapa harus sekarang?


"Iya, ada perlu apa?"


"Mr. Morgen menyuruh saya memanggil anda. Ada sesuatu yang ingin dibahas bersama dengan yang lain. Semuanya sedang menunggu anda dibawah," kata pelayan itu dengan anggun.


"Apa?! Benarkah? Maaf sekali telah lama membuat menunggu. Miss. Morgen bisa kita lanjutkan lain waktu?" terlihat jelas kepanikan di wajah paman Fang.


"Iya, tidak apa-apa," jawabku dengan rasa kecewa. Padahal sedikit lagi aku pasti mengetahui kebenarnya.


Paman Fang bergegas pergi tapi sebelum itu ia berkata. "Terima kasih."


Kulihat bayangan paman Fang dengan cepat menghilang dari balik pintu. "Hah..." aku menghela nafas panjang. Ku lirik sekali lemari yang menjadi pintu masuk ruang rahasia. Semuanya menjadi tidak menarik. Aku melangkah pelan keluar dari ruang kerja ayah. Rosse mengikutiku dari belakang.


"Padahal Mr. Li hanyalah pengurus kediaman ini tapi ia diperlakukan sama seperti majikan oleh para pelayan dan penjaga lainnya," kata Rosse ketika kami berjalan ke bawah.


"Apa yang kau katakan? Paman Fang lebih dari sekedar pengurus rumah. Ia tangan kanan ayahku, orang yang paling dipercaya. Semua urasan perusahan dan klan, paman Fang bisa dengan bebas terlibat didalamnya. Tidak ada satupun yang bisa menentang itu. Walaupun begitu ia tidak pernah menyalahgunakan kekuasaannya untuk urusan pribadi. Ia masih sangat rendah hati dan ramah pada setiap orang. Dari dulu keluarga Morgen memang mengajarkan untuk memperlakukan setiap orang dengan sama, baik pelayan dan majikan. Dari pada mendapat rasa takut mereka lebih baik mendapat rasa kepercayaan. Maka rasa hormat akan mengikuti."


"Tapi jika seperti ini bukankah sangat rentan akan adanya penghianat? Kau tahukan, kita tidak bisa membaca pikiran setiap orang."


"Bersikap baik harus, tapi jangan bodoh," aku sedikit mendorong kening Rosse mengunakan telunjuk. "Untuk urusan yang bersifat rahasia hanya anggota keluarga yang diperbolekan tahu. Paman Fang sudah dianggap seperti keluarga sendiri karna sejauh yang aku tahu paman Fang telah mengabdikan diri sejak remaja."


"Sejak remaja?" Rosse mengulang kalimat terakhirku dengan tanda tanya.


"Iya. Paman Fang adalah anak yatim piatu yang mengikuti kakek ku. Sabenarnya kakek sudah mengangapnya seperti anak sendiri tapi paman Fang lebih menganggap kakek seperti tuan besar yang sangat ia hormati. Ayahku diangkat menjadi ketua klan diusia yang sangat muda. Ayah menunjuk paman Fang untuk membantunya mengurus klan Α (Alpha) ini."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε