My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kesadaran



Keesokannya aku terbangun karna suara berisik Sofia yang terus memanggilku. Aku tidak membuka mataku. Aku masih ngantuk.


"Rin, ayok bangun. Kau sudah janji padaku," rengeknya sambil menarik tanganku.


"Sudahlah Sofia, kau sudah memanggilnya dari tadi tapi lihatlah, Ia masih belum sadarkan diri," kedengarannya itu suara Rosse.


"Biarkan dia istirahat. Jangan menggagunya."


"Kalian berdua tidak percaya padaku? Aku sudah beritahu kalian pagi tadi kalau Rin memang sudah sadar tapi kalian tidak percaya sama sekali."


"Bukan tidak percaya, namun kau lihat sendiri kan Rin masih belum sadar," ujar Rosse.


"Mungkin kau bermimpi kalau Rin sadar semalam."


"Tidak! Itu bukan mimpi. Ia bahkan mencabut rambutku," kata Sofia dengan tengas agar mereka percaya.


"Kenapa kau tidak membangunkan kami?"


"Karna... Rin sendiri yang memintaku untuk tidak membangunkan kalian. Aah...! Seharusnya aku tahu itu dan tidak menurutinya," Sofia sepertinya mulai kesal. "Dengar ya Rin. Jika kau tidak mau bangun aku akan jual mobil kesanyanganmu itu!"


Alasan itu tidak akan berlaku lagi. "Berisik! Aku masih ngantuk," kataku pelan karna tidak tahan mendengar pertengkaran mereka.


"Rin, kau benar-benar sudah sadar?" suara Rosse terdengar tidak percaya. Aku menghiraukannya.


"Rin, ayok bangun! Kalau tidak aku akan panggang burung hantu mu itu!!"


"Woi... Woi... Apa kalian memang senang mengancam seseorang?" aku langsung membuka mataku dan hendak duduk ketika mendengar itu. Akibatnya kepalaku diserang rasa sakit yang membuatku terbaring lagi. Aku menutup mataku menggunakan lengan. "Stt... Dasar kalian!! Aduuuh... Kepalaku jadi sakit."


"Hihi... Makanya kalau disuruh bangun tuh ya bangun, bukanya pura-pura tidur," Sofia mala tertawa melihatku.


"Aku masih ngantuk tahu!"


"Berhentilah tidur, Rin! Apa kau sama sekali tidak merindukan kami? Kau sudah tertidur lebih dari dua bulan," kata Sofia masih menarik tanganku.


"Apa?! Dua bulan?" aku mengangkat tanganku melirik mereka. Aku berusaha duduk kali ini dibantu Rosse. Aku melepaskan alat bantu pernapasan karna tidak nyaman berbicara ketika mengenakannya. "Rasanya cuman sebentar."


"Apa kau tidak apa-apa melepaskan itu?" tanya Rosse.


"Aku tidak membutuhkannya lagi."


"Hiks..."


Aku melirik adikku yang kini matanya sudah mengalirkan mutiara. Mata indah kristal hijau itu manatapku penuh keharuan yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Aku menatapnya sambil memberi isyarat padanya.


"Huaaaaa........aaaa......aah....." ia langsung memelukku dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua emosi yang dipendam. "Terima, terima kasih telah kembali. Hiks... Hiks..."


"Hei... Berhentilah menangis, nanti tidak cantik lagi loh," bujukku padanya sambil membelai rambut panjangnya.


Ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Aku benar-benar merindukanmu. Semua orang merindukanmu."


"Sekarang aku sudah kembali, kita bisa kumpul bersama dan menjadi teman baik. Eh..." aku menyolek Rosse bertanya siapa nama gadis di depan ku ini sambil berbisik.


"Apa?!" raut wajah Rosse seketika terkejut bercampur bingung.


"Ha?!" sepertinya ia mendengarnya. Adikku berhenti menangis dan langsung menatap tajam padaku. "Kau... Melupakan namaku?"


"Eh, maksudku... Kau tahu, aku..." aduh... Bagaimana ini? Tatapannya mengerikan.


"Setiap hari aku selalu menunggumu, mengharapkan kesadaranmu sampai menangis dan membuat mataku sebam, tapi setelah kau sadar kau mala melupakan namaku!" ia menggulung lengan bajunya sambil menatapku dengan marah.


"Woi, woi tenang Lisa, tenang," Sofia berusaha menghadangnya.


"Mingir Sofia! Aku janji tidak sampai membuat ia mati."


"Redakan marahmu, oke. Kau pasti tidak mau ia jatuh koma lagi, kan? Lagi pula kita tahu kalau Rin pasti bercanda. Tidak mungkin ia melupakan nama adiknya sendiri."


"Iya. Semua orang sudah tahu. Musuhmu disekolah ini ternyata adalah adik kandungmu, walau kami sempat tidak mempercayainya pada awal-awalnya," jelas Sofia.


"Dan kau memang keterlaluan Rin sampai bisa melupakan nama adikmu sendiri. Apa kau tahu? Dialah yang telah menyumbangkan darahnya untuk menolongmu," ujar Rosse.


"Oh... Lisa, terima kasih," aku menunduk menatapi liontinku sambil memain-mainkannya. "Oh, iya. Bagaimana dengan ibu dan ayah? Apa... Kata mereka?" tanyaku tanpa melirik mereka. Bagaimana reaksi orang tua kandungku setelah bertemu dengan putri lama mereka dalam kondisi seperti ini?


Senyap sebentar, tidak ada jawaban. Lisa menghampiriku lalu duduk disampingku.


"Ayah dan ibu sangat sedih setelah mengetahui kalau kakak menderita penyakit jantung bawaan. Tapi percayalah kak mereka baru mengetahuinya sekarang. Mereka tidak bermaksud menitipkanmu di panti asuhan dalam kondisimu seperti itu. Aku mohon jangan marah pada mereka," Lisa menggegam kedua tanganku.


"Itu tidak akan terjadi. Hanya saja..." apa mereka mau menerima ku yang telah menjadi makhluk malam ini?


"Hah... Kekhawatiran mu itu selalu sama saja," kata Sofia yang sepertinya berhasil menebak pikiranku. "Orang tua kandungmu sudah mengetahui kalau kau adalah seorang manusia serigala."


"Apa?!" aku sangat terkejut mendengarnya.


"Tenang kak, ayah dan ibu sudah menerima kenyataan ini. Lagi pula sekarang keluarga Morgen telah memutuskan menjadikan kita sebagai keluarga besar."


"Maksudmu keluarga kita sekarang tinggal dikediaman keluarga Morgen?"


"Iya. Ayah sekarang telah diangkat menjadi wakil Mr. Morgen di perusahaannya, sedangkan ibu..."


"Bibi Cloey dan bibi Zedna pergi berbelanja kebutuhan dapur pagi ini, katanya mau masak bersama lagi," potong Rosse yang sepertinya Lisa tidak tahu kepergian mereka.


"Pantas saja saat aku bangun pagi ini mereka sudah tidak ada," kata Lisa.


"Kalau begitu bangunkan aku kalau mereka sudah kembali," aku memberikan tubuhku di kasur sambil menarik selimut.


"Yang benar saja kau masih mau tidur lagi, Rin," protes Sofia.


"Tidak apa Sofia, kakak baru sadar dari komanya. Mungkin memang masih harus banyak-banyak istirahat," ujar Lisa. Ia membantuku merapikan selimut.


"Terima kasih adikku yang manis. Kau memang pengertian."


"Hei, Rin. Apa sebaiknya kita panggil dokter dulu. Kau baru sadar dari koma mungkin harus mendapat pemeriksaan?" kata Rosse.


"Aku baik. Nanti saja."


Baru hendak memejamkan mataku, tiba-tiba pintu terbuka. Ku lirik siapa yang baru masuk itu. Ternyata kedua ibuku yang baru pulang dari berbelanja. Kami dikejutkan dengan semua barang yang mereka beli. Ditangan mereka penuh dengan kantong belajaan. Itu semua keperluan hari ini atau untuk beberapa minggu? Hah... Masakan apa yang ingin mereka buat sampai harus belanja sebanyak itu? Melihat mereka pulang aku kembali duduk. Sofia, Rosse dan Lisa membantu mereka membawakan semua barang dan meletakkannya dimeja.


"Fiuhh... Melelahkan sekali," kata ibuku Zedna sambil menyandarkan tubuhnya di sofa melepas lelah.


"Banyak sekali belanjaannya," kataku mencoba menarik perhatian mereka yang sepertinya mereka belum sadar.


"Iya. Eh, Keyla kau sudah bangun?" kata ibuku Zedna hanya melirik sekilas.


"Apa? Hanya itu."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε