
"Gawat, gawat, bagaimana ini?"
Tiba-tiba tampa sengaja aku sepertinya memicu tombol rahasia yang membuatku berpindah dari perpustakaan ke tempat yang entah dimana, aku juga tidak tahu. Ruang gelap tampa cahaya sedikitpun. Aku meraba-raba dinding mencari tombol lampu yang akhirnya aku temukan. Satu-persatu lampu dirungan ini menyala dan memperlihatkan ruangan kecil penuh debu. Sepertinya ruangan ini tidak perna dikunjungi selama bertahun-tahun. Jaring laba-laba tersebar dimana-mana, debu yang hampir sesenti tingginya menutupi seluruh prabotan dan lantai. Terdapat meja serta kursi kerja dengan peralatan kerja lengkap berserakan di atasnya. Ada juga beberapa lemari berisi buku-buku kali ini tersusun rapi terkunci.
Aku mulai melangkahkan kakiku sambil melihat-lihat sekeliling. Aku baru tahu kalau rumah ini memiliki ruang rahasia. Aku jadi terpikir, Apa ayah dan ibu juga mengetahuinya? Ada dua tangga yang saling berhadapan, tangga itu mengatarku ke ruangan yang lebih besar. Ruangan tersebut dilengkapi dengan sofa tua kusam tertata manis di atas permadani, vas bunga cantik dengan bunga kering tak terawat, dan koleksi mumi berbagai serangga yang memenuhi dinding, tersusun rapih dari dibalik bingkai kaca. Ada satu mumi yang menarik perhatianku. Mumi itu tersimpan dalam lemari tua yang ada di sudut ruangan.
Aku lekas turun untuk melihat lebih dekat dan memastikan apa itu benaran mumi atau hanya sekedar boneka. Mumi bayi yang tersimpan dalam tabung kaca berisi cairan itu membuatku merinding. Walau sudah terawetkan bertahun-tahun atau mungkin puluhan tahun, kondisi dari mumi tersebut sangat baik. Dari garis wajah, bentuk tubuh, rambut dan serta kukunya tidak ada kerusakan sedikitpun. Seolah-olah bayi tersebut masih bernyawa. Siapa dia? Kenapa bayi malang ini harus diawetkan dalam tabung kaca? Apa alasanya?
Aku tidak mau berlama-lama menatap mumi itu. Aku segerah mengalihkan pandangku ke sisi lain. Lebih baik aku mencari jalan keluar dari tempat ini. Aku menemukan sebuah pintu dan mencoba untuk membukanya, kuputar knop pintu yang ternyata tidak terkunci. Baru sedikit terbuka... Aku langsung menutupnya dengan cepat. Kenapa? Karna pintu itu terhubung ke ruang kerja ayah. Kalau begini namanya keluar dari kandang singa masuk kandang harimau. Aku mencari jalan keluar lain yang akhirnya aku temukan di lantai atas tadi. Kali ini baru benar, pintu ini mengarahkanku ke loteng rumah. Dengan begini aku bisa kabur lewat jendela.
Kuperhatikan sekeliling dari atas bangunan rumah ini. Sepertinya bagian barat daya cukup sepih dari orang yang lalu lalang. Dengan hati-hati aku berjalan dipinggiran atap. Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya kalau aku melakukan ini sebelum ingatanku pulih? Aku pasti sudah kehilangan kesadaran ketika baru melirik ke bawah. Di tambah lagi aku harus melompat, iya melompat. Tidak ada cara lain selain melompat terjun ke bawah.
Aku menarik nafas panjang melalui hidungku dan menghebuskanya perlahan malalui mulutku. Dalam hitungan ketiga, aku memberanikan diri terjun bebas dari atap rumah. Aku berhasil mendarat dengan selamat. Sebelum ada yang menyadari, aku bergegas berlari menyelusuri rute pelarianku. Sesekali aku bersembunyi dibalik pohon ataupun tanaman lainnya untuk menghidari para pelayan. Sampai di sisi pagar terjadi kendala. Bagaimana caranya aku melewati tembok setinggi lima meter ini? Aku menoleh ke kanan ke kiri dan kudapati sebuah pohon yang cukup tinggi untuk membawaku melewati tembok tersebut. Tampa pikir panjang aku memanjat pohon itu. Dahan-dahan yang kokoh mampu menahan berat badanku, aku jadi tidak perluh khawatir kalau-kalau dahannya patah, kecuali...
"Aaaah...!"
Diatas tembok pagar tampa sengaja kakiku tergelincir dan membuatku jatuh dengan keadaan paling mengenaskan. Aku terjerumus masuk ke dalam semak-semak yang telah menungguku dibawah. Hampir semenit aku diposisi ini tidak bisa bergerak. Kenapa setiap kali aku memanjat pohon pasti saja jatuh, padahal aku sudah berhati-hati? Aku mencoba untuk berdiri dengan rasa sakit di punggungku. Aku harus bergegas pergi dari sini sebelum ada orang mendekat karna aku sempat berteriak saat terjatuh tadi.
Serasa cukup jauh dan kulihat tidak ada orang yang mengikuti, di jalan raya aku memanggil taxi. Dalam taxi aku hanya berpikir... Kemana tujuanku? Kerumah Sofia? Tidak. Tempat itu adalah alamat pertama yang akan ditujuh saat mereka menyadari kehilanganku. Rumah sanak saudarah? Tidak, itu sama saja. Aku baru tersadar ketika aku memandang langit merah keemasan yang semakin redup. Ternyata sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarku itu bukanlah sinar fajar tapi melainkan sinar senja. Itu berarti sudah hampir 24 jam aku tertidur.
Taxi kuberhentikan dekat halte bus yang ada di pusat kota. Tidak jauh dari sana kulihat ada telpon umum. Aku segerah menghampirinya. Aku ingin menelpon Sofia sambil menunggu bus datang. Apa kabarnya setelah kejadian kemarin? Aku belum sempat menghubunginya setalah bangun. Terlebih lagi hpku sudah jadi remah karna perbuatan Mr. Hope. Aku memasukan koin ke tempat yang tersedia, menekan no hp Sofia dan akhirnya terhubung.
"Hallo Sofia ini aku Rin."
"Rin bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Terakhir aku telpon kau masih belum siuman," dari suaranya terdengar ia sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Baik, sangat baik. Hei Rin, kau nelpon dari mana?"
"Telpon umum dekat halte," jelasku.
"Ha? Kenapa kau ada disana?"
"Aku kabur dari rumah."
"Kabur lagi?!"
"Iya."
"Tapi kenapa? Berpikir panjanglah sedikit Rin!"
"Aku bosan Sofia! Aku bosan dicurigai seperti penjahat!"
"Ingat saat aku melakukan perubahan? Anak buah Mr. Hope merekamnya dan sekarang rekaman tersebut telah tersebar di internet. Aku tidak bisa membatah itu."
"Oh, soal video itu. Aku sudah melihatnya, wajahmu tidak tampak jelas. Apa yang kau takutkan? Masyarakat juga tidak tahu kalau itu kau."
"Tidak tahu apa! Apa kau tidak melihat berita terbaru hari ini? Ada postingan baru yang menyatakan kalau manusia serigala itu adalah aku. Semua orang telah memojokanku di internet! Dan lagi ibu, bisa-bisanya ia mengurukan dikamar sampai masalah ini berakhir. Bukankan itu sama saja seperti mengangapku sebagai penjahat sebenarnya."
"Bukankah itu bagus untukmu? Jika kau berada di kamar seharian dan tiba-tiba serangan serigala itu terjadi lagi, kau dapat membuktikan kalau kejadian itu bukan ulahmu. Masyarakat akan berpikir ulang untuk masalah ini."
"Bagaimana kalau serangan-serangan itu tidak terjadi lagi? Bukankah kecurigaan mereka akan bertambah padaku!"
"Tapi kalau kau kabur seperti ini, para penjahat itu akan memanfaatkanya. Dan bilah terjadi kau tidak dapat membantah itu! Sebaiknya kau kembali. Orang tuamu pasti memiliki cara untuk menangani masalah ini."
"Tidak. Kembali bukan pilihan terbaik. Sudah dulu ya Sofia busnya sudah datang."
"Rin..."
Aku memutus telpon sebelum Sofia menyelesaikan kalimatnya. Aku bergegas menghampiri bus setengah berlari kecil. Aku tidak mau ketinggalan karna ini bus terakhir untuk keluar kota. Aku memilih kursi paling belakang yang kodisinya paling sepih. Kusandarkan tubuhku di kursi berwarna merah tua ini. Bus perlahan bergerak membawahku pergi. Kupejamkan mataku sambil mengatur nafas. Iya aku disini. Sekarang apa? Aku jadi terpikir perkataan Sofia tadi. Tidak seharusnya aku bertindak gegabah. Aku terlalu emosi saat itu. Tidak ada bayangan selain kabur dari rumah. Hatiku sangat marah! Ingin sekali aku beteriak meluapkan semua beban pikiran ini! Atau sekedar menangis kecil membiarkan semuanya hanyut bersama air mata.
Perkataan Sofia ada benarnya. Jika aku kabur Mr. Hope pasti memanfaatkan kesempatan ini. Keluargaku akan terus ditekan dan ditambat lagi tidak adanya kehadiranku... Ah...! Semakin aku pikir semakin sakit kepalaku. Maafkan aku semuanya, jikalau aku kembali juga sudah terlambat. Bus telah beranjak meninggalkan kota. Kuperhatikan bintik-bintik putih kecil padat itu dari balik jendela perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang.
Ada beberapa alasan yang membuatku pergi meninggalkan kota, salah satunya agar ayah kesulitan menemukanku. Jika seandainya aku tetap bersembunyi di dalam kota dengan koneksi dan kemampuan yang ayah miliki dapat dipastikan aku cepat ditemukan. Dan juga karna video itu aku harus pergi jauh. Bisa-bisa aku diarak keliling kota jika ada yang mengenali wajahku. Aku tidak mau semua itu sampai terjadi.
Duarrr...!!!
Aku dikagetkan dengan suara dentuman keras. Suara tersebut berasal dari awan gelap yang telah menutupi langit malam. Bintang tak tampak lagi, cahaya bulan pun juga sudah tertelan awan. Langit hanya berhiaskan kilatan petir yang terus menyambar membentuk pola unik nan cantik namun mengerikan. Perlahan titik-titik air mulai berjatuhan dan semakin banyak. Angin juga tidak tinggal diam, ia ikut memeriahkan pesta malam ini. Sepertinya perjalananku akan ditemani badai yang dasyat.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε