
"Aku ingin sekali memukulnya waktu itu tapi Lisa melarangku mencarinya. Dan anehnya lagi sampai sekarang aku tidak melihatnya di sekolah ini."
"Tunggu, sihir perlindungan? Mrs. Livitt memberi kalian sihir perlindungan?" tanya Prof. Peter.
"Cuman Lisa dan Rosse yang..." aku tersentak begitu menyadarinya. "Rosse juga memiliki sihir perlindungan. Kenapa sihir itu tidak aktif disaat ia diserang vampire?"
"Mungkin Rosse dengan suka rela menjadi budak darah," ujar Sofia membuat kami terkejut. "Sihir perlindungan hanya akan aktif secara otomatis apabila pemiliknya dalam kondisi terancam. Tapi sihir ini juga bisa dikendalikan oleh pemiliknya sesuka hati. Seperti kau misalnya Lisa. Kau bisa mengaktifkan sihir itu kapan saja kau mau tampa harus dirimu terasa terancam, dan juga menggunakannya untuk melindungi bagian tertentu dari tubuhmu atau melindungi orang lain," jelas Sofia.
"Tidak mungkin Rosse mau dengan suka rela digigit oleh vampire. Dia yang paling tidak suka dengan makhluk ini."
"Aku menduga pasti Sindy yang menghasutnya."
"Jika Sindy terlibat. Itu berarti dia memilik hubungan dengan seorang vampire kuat. Tapi bukankah dia ada di pihak klan Β (Beta)?" ujar Lisa.
"Apa mungkin klan Β (Beta) telah berkerja sama dengan vampire untuk memperkuat diri?"
"Kita tidak bisa menebak-nebak hal ini. Harus ada bukti kuat untuk itu. Aku akan memberi laporan hari ini pada Mr. Morgen," Prof. Peter sedikit menjauh dari kami saat hendak menelpon ayah.
"Paman Fang mohon jangan katakan pada ayah kalau Rosse telah menjadi budak darah. Aku takut bibi Marry tidak bisa menerima ini," pintaku.
"Hah... Baiklah."
"Kalau memang benar klan Β (Beta) berkerja sama dengan vampire, mereka semakin keterlaluan. Kita tidak boleh berbelas kasihan lagi dengan mereka! Jika mereka berani mengajak perang, kita musnakan saja mereka, lalu..."
"Sofia!" potong Lisa sambil memberi isyarat mata.
"Oh, maaf. Aku lupa kalau Perchye merupakan bagian dari klan Β (Beta)."
"Aku tidak peduli lagi dengannya. Setelah tahu kalau ia sudah bertunangan dengan Sindy. Aku mala tidak ragu lagi menyerangnya jika ia berani menghalangi ku merebut buah ΖΩΗ (ZOI)," aku mengepalkan tinju ku membuang kesal.
"Padahan bulan purnama tinggal dua hari lagi. Bagaimana dengan rencana kita? Ini lagi, Rosse mala menjadi budak darah seorang vampire," keluh Lisa.
"Kita lakukan sesuai rencana. Untuk masalah Rosse, aku akan pikirkan caranya. Mau bagaimanapun Rosse harus kembali pada kita."
"Tapi bukankah onoval perna bilang kalau tidak ada jalan kembali bagi seseorang yang telah menjadi budak darah. Bagaimana bisa kita membawa Rosse kembali?" tanya Sofia.
"Aku mungkin tidak bisa tapi aku yakin Onoval bisa memembantu. Mengingat dia perna menghapus tanda gigitan nya di leherku. Mungkin ia juga bisa menghapus tanda tersebut yang ada pada Rosse," pikirku.
"Hei, kak! Kau melamun?" panggil Lisa sambil menepuk bahuku.
"Aku cuman memikirkan cara untuk membawa Rosse kembali."
"Anak-anak kita akhiri dulu pertemuan kali ini. Matahari juga sudah hampir terbenam. Kalian masih harus masuk kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Untuk rencana bulan purnama nanti kita bahas lagi sebelum acara dimulai," kata Prof. Peter ketika menghampiri kami.
"Iya."
Sofia membatalkan dinding penghalang. Aku, Lisa dan Sofia kembali ke asrama untuk bersiap-siap, sedangkan Prof. Peter kembali ke gedung sekolah. Ia ingin menyelidik vampire mana yang kemungkinan menjadi tuan dari Rosse di antara ketiga guru tersebut dan kepalah sekolah, atau ada yang lain?
Setelah makan malam kami berangkat ke sekolah. Jam pelajaran pertama kelas ku malam ini adalah Kimia. Seluruh anggota kelas ku pergi ke laboratorium kimia yang ada di lantai tiga. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan pelajaran kimia apalagi Prof. Peter yang mengajar. Yang tidak aku sangka cara mengajar paman Fang sangat mengerikan. Ia lebih seram dari Mr. Brow, guru fisika di sekolah lama ku. Ditambah lagi, kenapa selalu aku yang selalu ditegur dan di hukum untuk kesalahan yang tidak aku perbuat? Semua itu karna Eric yang selalu mengganggu ku, dan juga sepertinya paman Fang memang sengaja melakukannya.
Jam pelajaran petama berakhir. Aku sedikit lega akan hal itu. Aku mengambil kesempatan ini pergi mencari tempat yang sepi dan sendirian. Aku mau menolpon Onoval untuk meminta bantuan darinya. Aku harap Onoval dapat membantuku menghapus tanda gigitan pada Rosse sama seperti ia menghapus tanda gigitan di leher ku. Aku mengeluarkan hpku, mencari no nya lalu segera menghubunginya. Telpon diangkat.
"Hallo. Onoval bisa kita bertemu?"
"Ada apa? Tidak seperti biasanya. Ada hal penting yang ingin kau katakan, atau kau merindukan ku?"
"Di belakangmu."
Aku langsung menoleh dan melihat dia memang telah berdiri dibelakang ku. "Sejak kapan kau ada disana?"
"Sejak mengangkat telpon darimu."
"Apa kau itu hantu?" kataku memasang ekspresi datar.
"Memang hantu bisa menyentuh tanah?" Onoval berjalan mendekati ku.
"Sebagian diantara mereka memang ada yang yang bisa namun tidak banyak," jelas ku.
"Oh... Seharusnya aku tidak tanyakan itu. Ada apa kau memanggilku kemari?"
"Ada yang ingin aku minta tolong darimu. Bisakah kau menghapus tanda gigitan pada Rosse?" kataku tampa basa-basi lagi.
"Tunggu, tunggu. Menghapus apa? Tanda gigitan? Rosse? Bicara yang jelas Rin," Onoval terlihat sedikit tidak mengerti maksudku.
"Begini, Rosse sekarang ini telah menjadi budak darah dari vampire..."
"Apa?!" potong Onoval sangking terkejutnya. "Vampire mana yang telah berani melakukan itu?"
"Tidak tahu. Sebab itu aku minta tolong padamu untuk menghapus tanda ini. Aku mohon Onoval. Hanya kau harapanku agar Rosse bisa kembali. Aku tidak tahu harus bilang apa pada ibunya, kalau putrinya satu-satunya telah menjadi budak darah seorang vampire. Aku akan sangat bersalah karna telah gagal melindunginya dan melanggar janjiku," pintaku dengan sangat pada Onoval.
"Rin, tenangkan dirimu dulu. Sebenarnya... Maaf aku tidak bisa melakukannya."
Kalimat itu membuatku menatap lurus pada Onoval. "Onoval... Huaaa.........aaah.... Kalau begini bagaimana caranya aku bisa membawa Rosse pulang? Huhu.......hu...."
"Jangan, jangan menangis Rin," Onoval berusaha menenangkan ku. "Aduuh... Bagaimana caranya aku dapat menolongnya? Mungkin..." pikir Onoval. "Kita bisa cari tahu dulu siapa yang telah memberi tanda gigitan itu pada Rosse. Dan, dan mungkin aku dapat menghapus tandanya jika aku tahu siapa dia."
"Sungguh?" aku menyekat air mataku.
"Iya, iya. Berhentilah menangis, okey," Onoval mengelus lembut rambutku. Ia seperti kakak bagiku. "Jika aku tahu siapa dia mungkin aku bisa mengacamnya untuk memberi kebebasan pada Rosse, sama seperti aku memberi kebebasan pada Rin. Dengan begitu aku tinggal menyembunyikan tanda gigitan itu. Aku tidak akan membiarkanmu bersedih lagi Rin."
"Terima kasih Onoval. Maaf merepotkan mu."
"Kau tidak perlu memintanya. Aku sudah tentu akan membantu mu apapun itu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε