
Terlihat Sofia berserta keluarnganya melangka masuk setelah menyapa paman Alan dan bibi Emely. Mereka lalu menghampiri ayah dan ibuku. Aku segera memanggil Sofia untuk naik ke lantai dua. Ia menganguk sekali lalu menghampiri kami.
"Hai Sofia, kenapa baru datang?" sapaku ketika ia telah sampai dihadapan.
"Ini semua karna Jimmy yang sibuk mencari jam tangannya," kata Sofia sambil melipat tangan di dada. "Kenapa kalian belum turun?"
"Menunggumu," jawab Rosse.
"Sekarang aku sudah ada disini. Ayok ke bawah," ajak Sofia.
"Sebentar lagi. Aku masih malas untuk bertemu seseorang," kataku kemudian.
"Hah... Baiklah," Sofia hanya menghela nafas panjang.
"Oh, iya Rin. Apa menurutmu Sindy akan datang?" tanya Rosse tiba-tiba.
"Pastinya. Bukankah ia sangat menantikan hari ini," kataku.
"Tunggu, maksudmu Sindy si gadis penyihir itu? Dia akan datang?" tanya Sofia memastikan.
"Iya. Dia putri keluarga Welton. Salah satu pemegang saham yang diundang," jelasku. Aku harap tidak bertemu dengan gadis aneh itu.
"Yang dibicarakan akhirnya muncul juga," Rosse melirik satu keluarga yang baru memasuki aula utama.
Sepasang suami istri dan dua anak remajanya. Sindy terlihat begitu anggun berjalan memasuki aula. Gaun merahnya begitu mencolok di bawah cahaya lampu. Tepat disamping Sindy adalah kakak laki-lakinya. Ia cukup menawan dibalik Tuxedo itu dan juga sikapnya terlihat lebih baik dari adiknya. Satu keluarga itu menyapa orang tuaku dan dibalas hangat oleh mereka. Dari percakapan mereka seperti teman lama yang tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Keluarga Welton sepertinya sangat pandai menarik hati lawan bicaranya.
"Kakak, aku ingin ke tempat ibu," Mia menarik gaunku memohon diantar ke ibunya.
"Baiklah. Ayok kuantar kau menemui ibumu."
Aku menggadeng Mia turun ke bawah bersama Sofia dan Rosse. Hampir semua orang yang kami lalui melirik kami dan menyapa. Aku membalas sapaan mereka dengan senyuman. Tinggal semeter lagi dengan Paman Alan dan bibi Emely, Mia segera berlari memeluk ibunya.
"Rin."
Panggil seseorang membuatku menoleh. Sepasang suami isti berjalan menghampiri kami. Mereka adalah Mr & Mrs. Anderson.
"Selamat malam Mr. Anderson Mrs. Anderson," balasku menyapa mereka.
"Malam juga untukmu. Sudah lama tidak bertemu. Kau tambah cantik saja," puji Mrs. Anderson.
"Anda terlalu menyanjung."
"Siapa ngerangan nona-nona disampingmu ini?" tanya Mr. Anderson ketika melihat Sofia dan Rosse yang ada dibelakangku.
"Kuperkenalkan teman-temanku, Sofia Liana Livitt dan Rosse Hartley," kataku memperkenalkan mereka.
"Hallo Mr. Anderson Mrs. Anderson," sapa Sofia.
"Salam kenal Mr. Andorson Mrs. Andorson," sapa Rosse setelanya.
"Miss. Livitt ya, saya sudah sering mendengar tentangmu. Kau memang gadis yang sopan dan cantik," ujar Mr. Anderson.
"Terima kasih Mr. Anderson. Saya merasa beruntung disanjung oleh anda."
"Dan pandai berkata-kata manis," ujar Mrs. Anderson menyambung kalimat suaminya. Ia lalu pandangannya beralih ke Rosse. "Miss. Hartley. Em... Maaf saya belum perna mendengar nama keluargamu. Apa keluargamu salah satu pemegang saham disini?"
"Eh... Tid..."
"Keluarga Hartley baru pindah kesini dari luar kota. Wajar saja Mrs. Anderson belum tahu," kataku memotong Rosse. Aku menggegam erat tangannya.
"Oh... Begitu."
"Apa Mr & Mrs. Anderson mau bertemu ayah dan ibuku?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Ah, iya. Dimana mereka?" tanya Mr. Anderson.
"Disana," aku menujuk ke arah orang tuaku.
"Kalau begitu kami menyapa mereka dulu. Permisi nona-nona yang manis," ujar Mr. Anderson sambil menggadeng istrinya pergi.
"Nanti kita ngobrol lagi ya nona-nona."
"Baiklah Mrs. Anderson," kulirik sebentar mereka yang menyapa orang tuaku.
"Hei, kita ke tempat duduk kita yuk," ajak Sofia.
"Ayok. Aku sudah lelah berdiri terus," kataku sambil menarik Rosse mengikuti Sofia.
"Aku merasa begitu asing disini," ujar Rosse pelan dengan nada sedih.
"Alah, kau terlalu banyak berpikir. Apa kau juga merasa asing denganku dan Sofia? Tidak kan? Jadi jangan pedulikan orang lain, kita sebagai tuan rumah disini," hiburku pada Rosse. Ia hanya diam.
"Apa kau tidak punya mata?! Lihat gaunku..." Sindy terdiam sebentar setelah melihat siapa yang baru saja ia marahi. "Rosse?! Dan kau... Gadis kampung!! Apa yang kalian lakukan disini?"
"Apa yang kami lakukan disini? Apa harus minta izin darimu? Ini rumahku. Sudah sewajarnya kami disini," kataku membuat ekspresi tidak percaya muncul diwajah Sindy. Semua mata tertujuh pada kami saat mendengar suara tinggi Sindy.
"Ti... Tidak mungkin. Ini kediaman keluarga Morgen. Bagaimana bisa ini jadi rumahmu?"
"Bagaimana bisa? Menurutmu?" aku mendekatkan wajahku sangat dekat wajah Sindy.
"Kau Miss. Morgen?" katanya pelan menebak pikiranku. "Aku tidak percaya! Gadis kampung sepertimu mana mungkin Miss. Morgen!! Kalian pasti pelayan disini, bukan?"
Ooh, pelayan ya. Sudah cukup kau menghinaku diluar, jangan harap bisa menghinaku di rumahku sendiri. "Sindy kau..."
Rosse menarik tanganku mencoba menghadangku. "Sudahlah Rin, jangan disini. Semua orang melihat kita. Jangan kacaukan malam perjamuan hari ini."
"Kau terlalu baik Rosse," ujar Sofia.
"Ada apa ini?" tanya ayahku menghampiri bersama ibu.
"Rin," panggil ibuku.
"Ibu?!" aku menoleh saat ibu sudah ada di belakangku.
"Mr. Morgen Mrs. Morgen," raut wajah Sindy terlihat sangat terkejut ketika orang tuaku menghampiri. Tampa sadar ia mundur dua lankah.
"Sindy!" panggil Mr. Welton ketika melihat putrinya terlibat. Istri dan putranya berdiri tidak jauh darinya.
"Ayah?!"
"Apa kau sudah gila? Beraninya kau membentak putri keluarga Morgen seperti itu," bisik Mr. Welton memarahi putrinya.
"Ayah... Aku..."
"Saya mohon maaf atas ketidak sopanan putriku. Putriku memang bodoh telah berani menyingung anda. Saya akan mengajarinya baik-baik dirumah nanti. Mohon maafkan dia kali ini," Mr. Welton memaksa Sindy menundukan kepala meminta maaf padaku.
"Mr. Welton saya kurang paham dengan permasalah diantara putri kita, tapi sejauh yang saya tahu putri anda telah menghina putri saya. Menurutmu bagaimana anda menjelaskan ini?" kata ayahku.
Mr. Welton terlihat tegang ketika dua mata itu menatap tajam ke arahnya. Ia menodong putrinya masu seraya berbisik. "Cepat minta maaf atau aku akan menghukummu selama sebulan!"
"Aku..." Sindy terlihat engan mengucakan kata itu. Ia memalingkan mukanya tidak mau melihatku. "Aku minta maaf," dengan suara pelan ia mengucapkannya.
"Aku tidak mendengarmu," kataku membuat ia melirik kesal.
"Keraskan suaramu," bisik ayahnya lagi sambil mencubit Sindy.
"Saya minta maaf karna telah menghina anda, Miss. Morgen. Saya tidak bermaksud begitu. Saya... Mohon maafkan saya," dengan suara lantang dan terpaksa Sindy mengucakannya di depan seluruh tamu hadirin. Rasa malu dapat kupastikan menyelimutinya.
"Minta maaf juga pada Rosse. Dialah yang kau tabrak. Aku tidak terlalu suka berurusan dengan gadis bodoh," aku menarik Rosse kehadapan Sindy.
"Apa?! Atas dasar apa aku harus minta maaf sama dia?!! Dia tidak pantas mendapat kata maaf dariku," dengan nada tinggi Sindy menolak.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat dipipi Sindy. Ia hanya memegangi pipinya yang merah dengan air mata perlahan mengalir. Aku cukup terkejut melihatnya. Mr. Welton tega sekali menampar putrinya sendiri didepan umum. Tapi aku tidak merasa kasihan pada Sindy, ia memang pantas mendapatkannya.
"Ayah menamparku?"
"Apa kau mau menghancurkan keluarga kita?!! Beraninya kau membentak Miss. Morgen seperti itu! Aku tidak pernah mengajarimu berperilaku tidak sopan. Sekarang cepat minta maaf lagi."
Sindy menggeretakan giginya dengan kesal. "Saya minta maaf."
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan setengah hati, Sindy berlari pergi meninggalkan kerumunan. Mrs. Welton segera menyusul putrinya sambil memanggil namanya sekali. Ada perasaan sedikit puas melihatnya begitu. Aku harap kali ini ia belajar untuk menghormati seseorang, atau mungkin tidak.
"Saya mewakilkan putri saya meminta maaf sekali lagi pada anda," kata Mr. Welton.
"Sudahlah, saya juga bukan orang yang tidak beperasaan. Saya tidak akan memperpanjang masalah ini," aku berlalu pergi sambil menari tangan Rosse.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε