
"Mengobati lukamu."
"Ta, tapi kenapa kau menggunakan darahmu? Aku tidak mau menjadi salah satu hewan buas seperti mu."
"Kau bicara apa sih?" aku mengangkat sebelah alisku.
"Gadis ini terlalu banyak menonton flim horor kayaknya," ejek Sofia.
"Eh? Bukankah memang seperti itu? Jika kau digigit manusia serigala maka kau akan berubah menjadi manusia serigala dibawah cahaya bulan purnama dan kekuatan itu tidak terkendali. Aku tidak mau menjadi monster," ujar Rosse mengutarakan ketakutannya.
"Hanya digigit Rosse. Jika aku mencakarmu, kau tidak akan berubah manjadi manusia serigala. Lagi pula aku cuman menggunakan sedikit darahku. Itu masih aman," jelasku. Aku kembali melanjuti mengobati lukannya.
"Aku tidak menyangka ternyata darah manusia serigala bisa digunakan untuk penyembuhan luka agar lebih cepat," kata Rosse.
"Aku juga baru tahu soal ini. Tidak perna ada yang mengatakan kalau darah manusia serigala dapat menyembukan luka," kata Sofia yang juga baru tahu.
"Aku mengetahuinya waktu jari Mia terluka. Aku coba-coba mengunakan darahku untuk mengobatinya karna aku berpikir kenapa daya sembuh manusia serigala sangat cepat. Apa mungkin karna darahnya. Tidak disangka itu memang berhasil," jelasku lagi.
"Tapi Rin, bukankah aneh jika tidak ada yang mengetahui hal ini? Manusia serigala sudah ada lebih dari ribuan tahun yang lalu," ujar Sofia kebingungan.
"Atau mungkin hanya darah kau saja yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka seseoarang," tebak Rosse sambil menujuk sangat dekat dengan mataku.
"Kalau itu memang benar kau harus berhati-hati Rin. Kau bisa jadi incaran semua orang untuk mendapatkan darahmu. Apa ada orang lain yang tahu soal ini?" tanya Sofia.
"Tidak ada. Huam..." tiba-tiba aku merasa ngantuk sekali. Untuk menahan mataku tetap terbuka rasanya sangat sulit.
"Kau kenapa Rin?" tanya Rosse.
"Aku ngantuk. Hei Sofia, boleh aku pinjam tempat tidurmu?"
"Boleh."
Aku mengangguk pelan lalu merangkak ke tempat tidur Sofia dan langsung tertidur. Aku bahkan tidak sempat membersikan bekas darah di tubuhku akibat terlalu ngantuk.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Tidurnya cepat juga," ujar Rosse saat melihat Rin sudah tertidur lelap.
"Hah... Begitulah ia kalau sudah lelahnya. Tapi aku bingung, kenapa akhir-akhir ini Rin mudah sekali kelelahan? Biasanya tidak seperti ini. Sejak ia mengalami tahapan perubahannya daya tahan tubuhnya perlahan-lahan menurun," kata Sofia sambil berpikir.
"Mungkin penyakit lamanya kambuh."
"Penyakit? Ayoklah Rosse, kita perna tumbuh bersama kurang lebih tujuh tahun dan aku sudah mengenal makhluk itu jauh seperti adikku sendiri," tunjuk Sofia pada makhluk yang ia maksud adalah Rin. "Aku belum perna dengar kalau ia memiliki penyakit tertentu."
"Aku dengar hal itu dari chef Sylvia. Katanya Rin perna jatuh sakit sampai mengalami kritis di rumah sakit."
"Yang aku tahu ia perna masuk rumah sakit akibat kecelakaan bukannya sakit."
"Bagaimana saat bayi? Kau belum memiliki ingatan pada saat itu, bukan?"
"Tidak ada seorang pun yang membahasnya..."
"Aku ingin makan Pancake."
Sofia dan Rosse sedikit dikejutkan dengan Rin yang tiba-tiba mengigau. Lantas mereka menoleh ke arah Rin yang masih tertidur.
"Bahkan dalam mimpipun pikirannya cuman makanan saja."
"Biarkan saja dia. Ayok kita bersikan tempat ini, akan gawat kalau ada vampire, kan?" kata Sofia mengalikan pembicaraan.
"Aah, aku harap tidak bertemu dengan hantu pengisap darah itu," Rosse berajak berdiri membantu Sofia membereskan semuanya. "Tapi ngomong-ngomong Sofia, di ruang bawah tanah tadi Rin kenapa mendadak seperti kesakitan?"
"Pergi kemasa lalu?"
"Itu salah satu kemampuan yang dimiliki seorang Necromancy. Mereka dapat melihat kejadian peristiwa kematian seseorang dimasa lalu."
Duar!!!
Mereka dikejutkan dengan pintu yang seketika membanting keras menggrlegar ditelinga. Sofia dan Rosse sampai berteriak histeris dan semua barang yang hendak dibereskan kembali berhamburan. Sedangkan Rin jangan ditanya, ia tidak terusik sama sekali dan masih melanjutkan tidurnya.
"Sofia putriku, apa kau merindukan ibumu ini? Aaah!!!" Tori, ibu Sofia yang mendorong pintu juga mala dikejutkan saat melihat dua gadis dengan tubuh dibalut plester luka dan satunya tidak sadarkan diri ditempat tidur serta ruang kamar berserakan dengan handuk bekas membersikan luka. "Astaga, apa yang terjadi dengan kalian? Baru ditinggal beberapa menit dudah seperti ini. Bagaimana kalau ditinggal berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, ber..."
"Sudahlah ibu. Jangan berlebihan. Kami hanya mengalami luka kecil," Sofia membereskan kembali semua barang yang berhamburan dibantu Rosse.
"Luka kecil! Sampai pingsan begitu," tunjuk Ibu Sofia pada Rin.
"Pingsan apa? Rin cuman tidur."
"Oh. Lalu bagaimana bisa kalian jadi mengalami luka seperti ini?"
"Itu, sebenarnya..." Sofia menceritakan seluruh kejadian yang mereka alami tanpa terlewat satupun.
"Em... Pasti segelnya rusak. Ibu akan meminta ayahmu untuk segera melenyapkan roh jahat itu," ibu Sofia berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Ayahmu seorang Necromancy?" tanya Rosse.
"Iya."
"Kenapa tidak minta ayahmu saja tadi?"
"Ayah sedang berkerja di luar kota, hari ini baru pulang."
...Sudut pandang orang pertaman....
...ΩΩΩΩ...
Atu tidak tahu sekarang aku ada dimana. Tempat ini gelap dan tidak ada apa-apa. Tiba-tiba lampu menyala. Aku mendapati diriku berada disuatu ruangan seperti rumah sakit. Ada dua pintu besar dengan dinding kaca transparan yang memisakan jarak kedua pintu tersebut. Ruangan ini bukan ruangan kosong. Terdapat dua tempat tidur bayi dengan masing-masing bayi yang sedang tertidur lelap. Aku mendekatinya untuk melihat lebih dekat. Bayi yang begitu manis. Yang satu memiliki rambut berwarna merah dan satunya lagi berambut pirang. Ada tanda nama di tempat tidur mereka.
Aku belum sempat melihat tanda nama itu ketika aku dikagetkan dengan kemunculan seorang gadis tepat di depan tempat tidur bayi yang berambut merah. Gadis yang cantik. Ia memiliki warna rambut yang sama dengan bayi di depannya. Mata biru terang menatap lembut ke arah ku sambil tersenyum. Siapa dia? Aku mencoba menyapanya namun tidak dijawab. Ia berjalan perlahan mendekatiku lalu meletakan telunjuknya di dada kiriku. Rasa dingin dari telunjuknya seketika menusuk sampai ke jantung dan mulai terasa nyeri. Tanpa sadar aku berteriak sampai salah satu dari bayi itu menangis kencang namun yang satunya tidak terusik sama sekali.
"Aaaah...!!" aku terbangun sampai terduduk.
"Eh? Ada apa Rin?" kata Rosse menatapku penuh keanehan.
Aku masih linglung. Aku menoleh kesana kesini dan baru menyadari kalau sebenarnya aku masih di kamar Sofia. Apa tadi itu mimpi? Mimpi yang sangat nyata bahkan aku masih bisa merasakan dinginnya telunjuk gadis itu di dada kiriku. Hah... Kenapa aku bisa sampai bermimpi seperti ini.
"Hei... Rin. Kau bermimpi bertemu hantu apa?" tanya Sofia.
"Bukankah tadi kita sudah bertemu hantu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε