
"Selamat malam anak-anak. Kita hari ini kedatangan murit dari program pertukaran pelajar," kata Miss. Oesman menjelaskan. Ia merupakan wali kelasku di sekolah ini. "Silakan perkenalkan dirimu."
Aku mengangguk sekali padanya lalu melirik semua wajah dalam kelas ini sekali lewat. "Hai semuanya, namaku Sherina. Kalian bisa memanggilku Rin."
"Hai... Rin! Kita berjumpa lagi."
Teriak seorang pria yang duduk di barisan belakang. Ia melambaikan tangannya padaku dengan semua nyum mengembang di wajahnya. Aku sedikit tersentak begitu tahu siapa dia. Hah... Kenapa aku harus satu kelas dengan Patric? Hari-hariku tidak akan bisa tenang di sekolah ini. Untungnya bukan Lisa yang ditempatkan dikelas ini. Aku harap dia tidak satu kelas dengan vampire seperti Eric ini.
"Mr. Allende harap tenang," tegur Miss. Oesman. "Silakan duduk ke tempatmu."
"Baik."
Aku berjalan ke tempat duduk yang kosong di barisan belakang. Miss. Oesman memulai pelajarannya seperti biasa. Aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran tersebut. Tujuanku di sekolah ini hanya untuk mencari obat penawar untuk ibu. Menjadi salah satu murit cuman samaran saja. Aku sungguh tidak menyukai kelas ini karna vampire di sebelahku ini selalu saja menggangu ku. Ia berisik sekali. Ia tidak memperdulikan teguran Miss. Oesman dan terus mengoceh di telingaku seperti nyamuk.
Tapi aku sedikit menyukai serangan sekolah ini. Kemeja putih polos dibalut jas berwarna biru tua dengan garis putih dan merah ditepinya dipadukan dengan rok mini senada, dasi kota-kota bergaris sama dan sepatu hitam. Terdapat lambang sekolah disisi kanan jas. Lambang sekolah ini berbentuk pohon ΖΩΗ (ZOI) yang terukir di atas perisai. Aku baru tahu itu begitu meneliti gambarnya.
Kriiiiiing... Kriiiiiing...
Bell istirahat dibunyikan. Aku mendapat pesan dari Sofia yang mengatakan kalau mereka sedang menungguku di taman. Hah? Kenapa mereka mau duduk di luar yang dingin? Aku mengenakan jaket yang diberikan khusus dari pihak sekolah dan segera menyusul mereka. Sampai disana kulihat mereka duduk di kursi taman dengan penerangan cahaya lampu tepat di atas kepala mereka. Aku bergegas menghampiri.
"Rin, kenapa lambat?" tanya Sofia begitu melihatku datang.
"Hah, apa kalian tahu? Aku satu kelas dengan Patric. Sepanjang jam pelajaran mulutnya terus saja mengoceh dan menggangu ku. Aaah.... Sangat mengesalkan!!! Aku ingin sekali menojok wajahnya," jelasku dengan raut wajah kesal.
"Eric?! Dia tidak berbuat macam-macam padamu kan?" tanya Onoval terdengar khawatir.
"Coba saja kalau berani," aku menyilangkan kedua tanganku di dada. "Oh, iya bagaimana kau bisa bersama mereka," tanyaku pada Onoval.
"Sofia dan Rosse satu kelas denganku," jelas Onoval.
"Kalian berdua mah enak. Bagaimana denganmu Lisa? Tidak ada orang-orang yang menggangu mu, kan?" pertanyaan ku beralih ke adikku.
"Tidak ada. Hanya saja aku satu kelas dengan Sindy," jawabnya membuatku kaget.
"Apa?! Dia tidak berbuat macam-macam, kan?" tanyaku penuh kekhawatiran.
"Dia cuman diam saja selama kelas berlangsung."
"Sindy? Siapa dia? Kenapa kau terlihat khawatir begitu?" tanya Onoval padaku.
"Dia salah satu murit pertukaran pelajar yang lebih dulu datang dari kami. Dia adalah musuh kami. Aku takut dia akan berbuat yang macam-macam pada adikku. Kalau sampai ia berani melakukannya..." dengan geram aku mengepalkan tanganku.
"Rin!" teriak Sofia membuatku sadar.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali sambil memalingkan pandang. Aku harap Onoval tidak menyadari sesuatu.
"Jadi si Sindy ini musuh kalian. Bisa kebetulan sekali satu program pertukaran pelajar di sekolah ini. Aneh."
"Itu hanya faktor kebetulan semata. Masih wajar kebetulan itu terjadi satu dua kali dalam satu waktu," kataku dengan cepat menghalau pikiran Onoval yang sensitif ini.
"Masuk akal juga."
"Fiuh..." aku menghembuskan nafas lega.
"Onoval, apa boleh aku bertanya sesuatu?" kataku memulai.
"Tanyakan saja. Selagi aku mengetahuinya akan ku jelas kan semua."
"Apa kua tahu tentang pohon..."
Wuf... Wuf...
Kalimat ku terputus begitu aku mendengar suara Angel. Aku menoleh kebelakang menegadak ke atas. Kulihat itu memang dia yang terbang menuju kami. Sofia sudah hampir melompat dari tempat duduknya, namun Rosse berhasil menahannya. Dengan sigap aku menyiapkan lenganku untuk pendaratannya, tapi ia lebih memilih kepalaku. Perilaku Angel sedikit berbeda malam ini. Dia yang biasanya tenang sekarang mengepak-ngepakan sayapnya, terbang sebentar lalu hingap lagi. Ia seperti mau mengatakan sesuatu padaku.
"Ada apa Angel? Apa yang coba mau kau beritahu padaku?"
"Dia sepertinya mau menyuruhmu mengikutinya," ujar Onoval menepak apa yang mau disampaikan Angel.
"Sungguh? Aduuh....!" tarik Angel di rambutku menggunakan parunya. "Baiklah, baiklah, aku akan mengikuti mu."
Angel melepaskan rambutku lalu ia terbang ke arah timur. Dengan cepat aku merlari mengikutinya disusul yang lain di belakangku. Angel terus terbang sampai melewati pagar tembok yang memisahkan hutan dan halaman kastil. Aku sedikit bingung antara memilih tetap dalam wilayah kastil yang cukup aman atau mengikuti Angel keluar menuju hutan.
"Hosh... Hosh... Larimu cepat sekali Rin. Kami kesulitan menyusul mu," kata Rosse yang baru sampai bersama dengan yang lain.
"Apa kau masih mau mengikuti Angel, kak?" tanya Lisa.
"Jangan keluar. Sangat berbahaya keluar dari lingkungan kastil pada malam hari," cegat Onoval dengan nafas putus-putus.
"Tidak biasanya Angel berperilaku seperti itu. Ia pasti menemukan sesuatu atau masalah... Aku harus memeriksanya," aku mengambil ancang-ancang melompati tembok pagar tersebut. Tiga kali pijakan zik-zak aku berhasil sampai diatas tembok lalu melompat terjun ke keluar.
"Hah?! Rin benar-benar terlalu bar-bar. Ia bahkan bisa melompati tembok setinggi lima meter," kata Onoval teperangak.
"Aku masih bisa mendengar itu!!" teriakku dari balik tembok.
"Kita juga harus pergi membantu," kata Sofia.
"Ikut aku. Aku tahu jalan keluar rahasia," kata Onoval.
Aku ke tinggallan dari Angel. Aku tidak tahu kemana arah yang ia tuju. Tapi beruntungnya ia menyadari ketertinggalanku dan kembali berputar. Melihatnya kembali aku kini dapat mengikutinya. Aku mempercepat langkahku. Tidak ada seseorang disini, jadi aku tidak perlu menahan diri. Aku terus mengikuti Angel masuk kedalam hutan. Selang beberapa detik aku menghentikan lajuku begitu melihat Angel mendarat. Aku mendengar suara parau dan lemah minta tolong. Aku mendekati sumber suara sampai aku mendapat seorang gadis seumuran Lisa tergantung terbalik di dahan pohon yang tumbuh melengkung pinggir jurang bebatu. Ia sepertinya terlilit jaring dan tidak bisa melepaskan diri. Suaranya telah habis karna terus berteriak.
"Karna dia Angel bersikeras memintaku untuk mengikutinya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε