
"Kenapa kau tiduran di lantai?" tanya Lisa sambil membantuku bangkit.
"Siapa juga yang mau tiduran di lantai, kaki ku tersandung selimut," jelas ku singkat. "Dari mana kalian?"
"Biasa, jam segini membeli makan siang," jawab Rosse.
"Bagaimana keadaanmu kak? Kami sangat khawatir kau kembali bersama Onoval dalam keadaan tidak sadarkan diri."
"Onoval?"
"Iya. Dia bilang kau terlalu kelelahan dan pingsan. Ia tidak mengatakan hal lainnya."
"Sikapnya kemarin sedikit berbeda," kata Rosse membuatku meliriknya.
"Berbeda? Seperti apa?" tanyaku pada Rosse penasaran.
"Dia tidak banyak berbicara. Setelah mengantarmu dia langsung pergi begitu saja. Bukankah itu aneh?"
"Pergi? Ia seperti menghilang begitu saja dalam gelap. Aku sempat meliriknya kembali, tapi banyagannya saja tidak aku temukan," kata Lisa.
"Menghilang, bisa dibilang begitu. Ia memiliki kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat. Hm... Aku jadi penasaran, apa semua vampire memiliki kemampuan ini atau hanya Onoval saja?" batinku. "Bagaimana keadaan Trysta?"
"Ia mulai membaik. Sekarang dirawat di ruang kesehatan. Lukanya tidak terlalu para, ia cuman kelelahan melawan serangan vampire kemari yang terlalu banyak," jelas Sofia.
"Malam nanti bisa kita menjenguknya?" ajakku pada mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya. Aku merasakan sesuatu yang sedikit berbeda dari tubuhku. Biasanya jika aku mengalami kelelahan sampai pingsan, paling tidak butuh waktu setidaknya tiga hari baru sadarkan diri dan itupun masih dalam keadaan lemah. Tapi kali ini berbeda. Setelah sadar aku merasa sangat bertenaga dan seperti tidak perna pingsan sama sekali. Padahal kemarin Onoval menghisap cukup banyak darahku, setidaknya itu bisa sampai membuatku Anemia. Akan ku tanyakan hal ini pada Onoval.
Jam istirahat tiba, aku mencari keberadaan Onoval di seluruh penjuruh sekolah. Setelah berkeliling beberapa kali, aku tidak menemukannya. Ia pasti menghindari ku. Sangat mudah baginya untuk melakukan itu menggunakan kemampuan teleportasinya. Padahal aku keluar lebih awal agar bisa menemui ia di kelasnya. Tapi nyatanya ia sudah menghilang bahkan sampai tidak ada satupun orang di kelasnya yang menyadari kepergiannya. Aku tidak akan menyerah. Bagaimanapun caranya kau harus menjelaskan semua ini padaku. Karna ini mencangkup hidupku. Onoval seorang vampire dan kemari ia menggigitku, bukankah itu sama saja membuatku jadi budak darahnya. AAAH.... Aku tidak mau! Menjadi budak darah dari seorang vampire itu berati aku harus tunduk dan patuh pada vampire yang menandaiku. Aku tidak mau menjadi bonekanya walaupun itu Onoval sekalipun. Bagaimana kalau sampai ayah tahu. Itu akan sangat gawat...!
"Onoval keluar kau!! Kau tidak bisa terus bersembunyi seperti ini!" teriakku meluapkan kekesalanku padanya. Sekarang ini aku ada diatas atap bangunan sekolah sambil memandang ke kastil tua itu. "Jika kau ada disini, aku cuman mau tanya satu hal padamu. Jika kau memang benar seorang vampire, apa aku akan menjadi budak darahmu? Jika iya, itu berarti aku arus tunduk dan patuh padamu. Jujur saja aku sedikit takut akan hal ini karna aku tidak tahu apa-apa tentang budak darah. Masih bisa kah aku menjalani kehidupanku seperti biasa?"
"Jangan takut."
Aku segera berbalik begitu mendengar suara Onoval. Ia berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Aku harus mengangkat wajahku agar aku bisa melihat wajahnya.
"Onoval. Kemana saja kau? Kenapa kau bersembunyi dariku?"
Onoval cuman menatapku, lalu ia membelai wajahku sampai berakhir di leher ku. Rasa dingin dari tangannya mengingatkan ku pada kejadian disaat ia menggigit ku. Onoval menatap sedih tepat dimana ia perna menancapkan taringnya untuk menghisap darahku.
"Aku takut kau marah padaku. Maafkan aku karna telah menggigitmu. Aku sungguh tidak bisa menahan diri. Bau darahmu manis sekali."
"Ternyata benar kau seorang vampire. Lalu, apa aku akan jadi... Budak darahmu?"
"Onoval, sebenarnya vampire jenis apa kau ini? Aku sudah bertanya pada Trysta. Tidak ada vampire yang memiliki kekuatan sepertimu. Kemampuan berpindah tempat dengan sangat cepat dan kau bilang telah menghapus tanda gigitan itu... Tidak ada vampire yang bisa melakukannya. Aku tahu betul seberapa cepat pergerakan vampire. Mereka seperti angin yang berhembut dengan lembut, sedangkan kau... Kau jauh lebih mirip seperti berteleportasi bukan bergerak dengan kecepatan tinggi. Apa karna kekuatan ini kau bisa pergi ke ibu kota sesuka hatimu? Seorang vampire biasa tidak bisa melakukan perjalanan jauh itu."
"Mau ikut aku ke suatu tempat? Asalkan kau tidak takut ketinggian," kata Onoval.
"Aku tidak takut apapun, tapi asalkan kau mau menceritakan siapa jati dirimu."
"Baiklah," Onoval menggenggam kedua tanganku. "Berpergang yang erat ya. Jangan lepaskan genggaman tanganku."
Dengan menggunakan kemampuannya, Onoval membawaku pergi ke suatu tempat. Rasa dalam sekejap jadi gelap lalu tiba-tiba aku membuka mataku dan mendapati diriku telah berada di tempat berbeda. Ini bukan di atas atap sekolah lagi. Tempat ini jauh lebih tinggi dari atap sekolah. Aku memandang jauh ke depan karna pemandangan yang disuguhkan lebih menarik. Hamparan laut pada malam hari membentang sejauh mata memandang dengan langit berbintang. Sungguh suatu malam yang sangat jarang dapat aku nikmati di ibu kota.
"Wow... Dimana kita? Kau mengajakku kemana?" tanyaku tampa melirik Onoval.
"Kita masih berada di lingkungan sekolah."
Mendengar itu membuatku menoleh pada Onoval. "Lingkungan sekolah?"
"Kita berada di puncak tertinggi dari kastil NorthVyden, menara lonceng."
Aku baru sadar kalau ada sebuah lonceng besar tepat di belakangku. Tempat ini tidak memiliki penerangan apapun. Hanya sinar samar dari lampu terang yang ada di bawah sana yang naik ke atas sini. Aku menundukkan kepalaku melihat ke bawah. Dan benar saja, tepat di bawah sana merupakan sekolah. Beberapa siswa/siswi terlihat begitu kecil berjalan menyelusuri taman. Cuman sebentar mataku tertuju ke bawah kini teralihkan ke pemandangan kota pelabuhan. Kota ini lebih menakjubkan lagi pada malam hari. Semua lampu mengghiasi gedung-gedung pencakar langit dan pelabuhan yang masih terlihat aktif melakukan pekerjaannya. Dunia malam disini benar-benar bebas beraktifitas tampa harus takut apapun.
"Menara lonceng kastil? Bukannya murit sekolahan dilarang masuk ke dalam kastil?"
"Kita hanya berdiri di menaranya, bukan di dalamnya."
"Tapi tetap saja ini bagian dari kastil."
"Jangan khawatir. Tidak ada yang marah kok. Aku sering kemari kalau lagi ingin sendirian. Tempat ini tenang dan tidak mungkin ada yang mengganggu," Onoval duduk di pingir menara dengan keadaan kaki menjuntai ke bawah.
Aku mengikutinya duduk di sampingnya. "Kau benar. Tempat ini memang sangat tenang, apalagi disuguhkan dengan pemandangan seindah ini. Aku juga sangat menyukai tempat-tempat setenang ini," aku merasa Onoval menatapku yang membuatku menoleh padanya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε