
Ting! Ting! Ting!
Aku dan ibu dikejutkan dengan suara notifikasi dari leptopku yang tiba-tiba melonjak. Hal ini membuat kami menoleh tertujuh pada leptop di atas meja. Aku melihat apa yang memicu notifikasi massal tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika melihat layar leptop. Ternyata ada postingan baru dari orang yang tidak dikenal berisi sebuah pernyataan. Dengan cepat postingan itu segerah di serbu komentar tiada henti.
Postingan,
"Informasi terkini! Identitas dari gadis yanga ada dalam video itu sudah terungkap. Ia adalah putri tunggal dari keluarga Morgen."
Komentar,
"Wah, aku tidak percaya, apa benar dia?"
"Keluarga Morgen? salah satu keluarga paling berpengaruh di ibu kota itu."
"Ini sangat mengejutkan!!"
"Masuk akal juga. Keluarga Morgen mamang cukup misterius."
"Kalau tidak salah, saat serangan serigala itu terjadi tidak jauh dari kawasan kediaman keluarga Morgen."
"Apa itu benar keluarga mereka adalah manusia serigala?"
"Jangan membuat aku takut. Rumahku harus melewati kawasan itu."
"Kalian yang tinggal disekitaran kediaman keluarga Morgen harus berhati-hati!"
"Rumahku tidak jauh dari kediaman keluarga Morgen. Aku tidak percaya kalau mereka adalah manusia serigala."
"Mereka sangat pandai menyebunyikan identitas mereka."
"Aku dengar mereka berasal dari keluarga kuno."
"Aku pernah berkunjung ke kediaman keluarga Morgen. Sungguh sangat mengah! Seperti pindah ke abad pertengahan."
"Jika kalian perhatikan lebih detail pada leher serigala tersebut terdapat kalung yang sama persis dikenakan oleh putri keluarga Morgen."
"Iya kau benar."
"Kenapa aku tidak menyadarinya."
"Ternyata mereka manusia serigala."
"Aku jadi takut melewati kawasan itu, apa lagi malam hari."
"Apa mungkin di sekitara sana adalah tanah kekuasaan manusia serigala?"
"Itu mungkin saja. Sangat menyeramkan!!"
"Disamping kediaman keluarga Morgen ada area latihan memanah, berkuda dan menembak. Aku setiap minggu latihan disana. Aku belum perna melihat hal aneh, apalagi manusia serigala disekitaran kediaman itu."
"Itu benar. Aku juga sering berlatih disana."
"Latihan diadakan siang hari bukan malam hari."
"Menurut rumor manusia serigala itu keluar pada malam hari saat bulan purnama."
"..."
Dan ratusan komentar lainnya. Aku tidak sanggup lagi membaca semua komentar itu. Ada diantara mereka masih menyangkal keberadaan manusia serigala tapi banyak juga yang mempercayai kalau manusia serigala itu benaran ada. Berdasarkan bukti-bukti yang terlampir di sosial media membuat kenyakinan masyarakat membulat. Keadaan semakin kacau ditambah lagi dengan identitasku yang terungkap.
"Kertelaluan! Mr. Hope semakin mempercepat langkahnya."
"Kita harus bagaimana sekarang?"
"Aku mau ikut, mungkin aku bisa membantu," kataku membuat langka ibu terhenti.
"Tidak! Tetaplah di kamarmu dan istirahat, kau lebih membutukan itu."
"Tapi bu... Aku baik-baik saja. Lagi pula aku bukannya keluar rumah," aku memohon pada ibu agar aku dibiarkan ikut bersamanya.
"Sherina, dengarkan ibu! Jangan membantah!!" suara ibu meninggi membuatku terkejut.
Mendengar bentakan itu entah mengapa tiba-tiba aku meneteskan air mataku. "Ibu..."
"Maaf, ibu... Ibu tidak bermaksud membentakmu. Ibu harap kau mengerti, tetaplah dikamarmu sampai masalah ini selesai," ibu hendak membelaiku namun aku sontak mundur menghindar.
"Mengerti? Lucu sekali. Bagian mana yang harus aku mengerti?! Ibu bahkan melarangku berkeliaran disekitaran rumah! Oh... Aku tahu. Apa ibu masih meragukanku?" tatapku tajam pada ibu.
"Rin! Kau tidak tahu seberapa besar masalahnya! Semua orang telah berpikir kalau keluarga kita adalah monster! Ibu cuman meminta kau untuk tetap dikamar, dengan bengini mungkin sedikit membuktikan kalau kau bukan pelakunya."
"Dengan mengurungku seperti penjahat juga belum tentu membuktikan apapun!! Aku benar-benar tidak percaya... Setelah semua yang terjadi aku masih dianggap sebagai penjahat... Bahkan di keluargaku sendiri," aku hanya tertunduk menatap dinginnya lantai.
"Sherina cukup!!! Terserah kau mau berpikiran seperti apa, semua ini demi kebaikanmu! Tampa seizinku kau tidak boleh meninggalkan ruangan ini!! Jangan bermimpi untuk kabur lagi!" tekan ibu diakhir kalimat. Ibu berlalu pergi sambil membanting pintu.
"Ibu buka pintunya! Ibu tidak bisa melakukan ini! Ini terlalu keterlaluan!!" aku terus berteriak sambil mengedur pintu yang terkunci. "Ibuuu...!!"
"Kalian berdua tetaplah disini. Jangan biarkan Rin keluar. Mengerti," perinta ibu pada pelayan yang ada diluar tampa memperdulikan teriakanku.
"Baik Mrs. Morgen," ucap kedua pelanyan itu serempak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Arg...!! Sial!" teriaku kesal. Oo... Aku mengerti maksud ekpresi ibu sebelumnya. Ibu meragukan ingatanku saat aku mengalami perubahan. "Kalau begitu! Aku tidak akan bermimpi untuk kabur tapi aku akan melakukannya!" geramku dalam hati. Tapi bagaimana?
Aku memikirkan cara untuk meninggalkan tempat ini. Aku tidak bisa mendobrak pintu depan, ada dua pelayan yang berjaga. Lagi pula aku tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Aku mencoba mengunakan cara biasa. Aku menuju balkon... Astaga ibu...! Ibu pasti bercanda, pintu balkon juga dikunci. Aku membaringkan tubuhku dikasur sambil menghembuskan nafas panjang. Bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini?
Tiba-tiba pandanganku tertujuh pada ventilasi udara yang ada di sudut langit-langit kamar. Segerah aku bangkit dari tempat tidur untuk mulai menyusun tumpukan meja dan kursi agar aku dapat menggapai ventilasi udara tersebut. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sama sekali. Kugunakan gunting sebagai pengganti obeng untuk melepas satu persatu sekrub yang menahan jari-jari ventilasi ini.
Setelah berhasil melepaskan semua sekrub, aku meletakan secara pelahan jari-jari ventilasi dan mulai naik ke atas ventilasi ini agar aku bisa kabur. Ruang dalam ventilasi ini cukup kecil, aku hanya bisa melaluinya dengan cara merayap. Tidak sampai semenit akhirnya aku keluar dari ruang sempit itu. Ternyata ventilasi udara di kamarku terhubung langsung ke perpustakaan. Ini tidak bagus. Perpustakaan ini hanya memiliki satu pintu keluar, tidak ada jendela dan aku tidak mungkin lewat ventilasi lagi.
Hm... Otakku mulai berpikir lagi. Jika aku memaksakan diri keluar melalui pintu itu, aku akan ketahuan oleh para pelayan. Cukup sulit untuk menghindari para pelayan yang biasanya lalu-lalang di lorang. Aku terus berpikir sampai aku dikejutkan dengan suara pintu dibuka. Gawat ada yang datang!/ Aku bergegas mencari tempat sembunyi. Aku diam-diam naik ke lantai paling atas perpustakaan ini sebelum orang itu sampai ditangga. Aku bersembunyi dibalik rak-rak buku, berharap orang itu tidak naik dan menemukanku. Aku sedikit penasaran siapa yang masuk ke perpustakaan, setelah aku kintip... Oh... Ternyata itu paman Fang. Apa yang ia lakukan disini? Hm... Sepertinya ia mencari beberapa dokumen.
Tidak penting apa yang ia cari, aku harus menemukan tempat sembunyi lain karna ia menujuh ke arahku. Aku mulai ketakutan ketika paman Fang semakin mendekat. Aku harus bersembunyi dimana? Jalan buntu disini, disisi kiri dan kananku adalah rak buku. Ah... Aku pasra bersandar di dinding ketika suara langkah kaki paman Fang semakin terdengar jelas mendekat. Namun sepertinya ini hari keberuntunganku. Sesuatu yang dicari paman Fang ada di lorong rak sebelahku. Fiuh... Aku menghembuskan nafas lega.
Buk...!!!
Di hari keberuntungan apa masih bisa sialnya? Aku tampa segaja menyengol beberapa buku yang mambuatnya jatuh berhamburan dan menimbulkan suara nyaring. Paman Fang yang mendangar itu sangat terkejut sampai berteriak. Aku berusaha menahan tawa karna aku tidak menyangka ternyata paman Fang begitu sangat terkejutnya. Tapi rasa takut kembali menghampiri ketika paman Fang berjalan mendekat untuk memeriksa asal suara.
"Gawat, gawat, bagaimana ini?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε