My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kedai cantik



Belum sempat aku menyerang pria menjengkelkan ini, tiba-tiba entah datang dari mana kaleng cat melayang tepat menghatam kepala pelontos bos preman itu. Karna serangan mendadak membuat bos preman itu hampir terjatuh. Aku juga sangat terkejut atas apa yang terjadi.


"Siapa yang melempar kaleng cat ini ke atas kepalaku?!!" teriak bos preman itu sangat marah sambil memengangi kepalanya yang sakit.


"Kalian sekelompok orang payah beraninya mengganggu gadis kecil!" teriak seseorang yang berdiri diluar gang.


"...?" aku menoleh melihat siapa itu. Seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi, rambut berwarna pirang basa oleh air hujan dan mata biru terang, berdiri di ujung gang sambil menenteng balok kayu. Wah... Sepertinya pegeran berkudaku sudah datang. Aku harap ia tidak belaga sok berani untuk menolongku. Jika iya hanya dengan modal nekat saja, aku juga yang repot.


"Kalian berdua hajar bocah sialan itu!!" suruh bos preman itu pada anak buahnya.


"Baik bos."


Kedua preman itu berlalu mengikuti perintah bosnya. Terdengar suara gemeretak jari yang ditekan, mereka siap menyerang. Tampa aba-aba mereka meleparkan tinju mereka secara bersamaan. Remaja itu berusaha melawan dengan balok kayu di tangannya. Perkelahian terjadi begitu sengit. Ini tidak adil, dua lawan satu. Tapi sepertinya aku tidak perlu khawatir karna ramaja ini cukup pandai dalam ilmu bela diri. Terlihat dari gerakan dan serangan yang ia berikan begitu terancang. Tubuhnya yang lebih kecil dari kedua preman itu memungkinkan ia bergerak lebih lincah. Berbeda halnya dengan kedua preman itu, serangannya kacau dan hanya mengadakan tinju besarnya saja.


"Gadis manis sebaiknya kau ikut denganku, pahlawanmu itu tidak akan mampu melawan anak buahku," bos preman ini menarik paksa tanganku menjauh dari perkelahian itu.


"Aku tidak mau! Kau anggap aku ini gadis seperti apa?!" aku membalas menarik tangan bos preman itu, menghajar wajah serta perutnya secara bertubi-tubi. Karna serangan yang cepat dan tiba-tiba ia tidak mampu melawan balik. Sebagai penutup aku melemparkannya masuk tong sampah. Kau berurusan dengan gadis yang salah. Secara bersamaan kedua preman tadi juga berhasil dikalakan remaja tersebut. Kedua preman itu lari terbirit-birit bahkan sampai melupakan bosnya yang sudah pingsan dalam tong sampah.


"Kau tidak apa-apa?" tanya remaja itu ketika menghampiriku.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah menolongku."


"Oo, apa yang terjadi padanya?" ia sedikit terkejut ketika baru menyadari kondisi dari bos preman itu yang cukup mengenaskan.


"Em... Dia tergelincir dan menghatam tembok."


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku berkerja di sebuah kedai kecil tidak jauh dari sini, mau mampir?" tawarnya padaku.


"Boleh."


Aku mengikutinya keluar dari gang kecil ini. Ia mengajakku ke sebuah toko yang sudah tutup. Bangunan dua lantai dengan papan nama bertuliskan kedai Lotus, nama yang menarik. Remaja itu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan membuka pintu kedai tersebut. Ia mempersilakan aku masuk. Ruang gelap menyambut kami. Tak lama satu persatu lampu menyalah memperlihatkan ruang kedai biasa. Seluruh kursi tersusun rapi secara terbalik diatas meja. Lemari-lemari kaca tempat biasanya menyimpan kudapan manispun sudah kosong.


Ini kedai yang cantik terutama kedai ini berhias sesuai namanya, mulai dari lukisan diatas meja, ukiran kepala kursi, piring, cangkir, dan beberapa hiasan yang tersebar di kedai ini juga bertema bunga teratai. Apa mungkin makanannya juga berbentuk teratai? Aku jadi ingin melihatnya. Salah satu ornamen yang paling menarik di kedai ini adalah lampu gantungnya, dan tentu saja lampu gantung itu berbentuk bunga teratai namun dalam keadaan terbalik. Saat aku menagakan kepalaku terlihat jelaslah bunga kaca berwarna merah muda dipadukan dengan sari bunga berwarna kuning, menyalah terang ketika lampu dihidupkan.


"Aku baru menutup kedai saat aku lihat seorang gadis kecil berjalan masuk ke gang sempit. Apa yang kau lakukan disana? Dan sepertinya aku baru pertama kali melihatmu di daerah sini?" tanya laki-laki itu sambil melakukan sesuatu di meja dapur. Ia membiarkan aku berkeliling melihat-lihat kedai ini.


"Oh, aku sedang mencari rumah bibiku. Aku sudah lama tidak kesini, banyak yang telah berubah. Aku jadi sedikit tersesat," aku menarik kursi dan duduk di dekatnya agar aku lebih leluasa bercakap dengannya. Kini aku dan dia hanya terpisah meja panjang yang saling terhubung dengan meja dapur.


"Di malam hujan begini?" ia meletakan secangkir kopi panas di hadapanku.


"Terima kasih," aku menyerumput kopi itu. Em... Rasa manis tidak terlalu pahit menyelimuti lidahku. Kini tubuhku mulai terasa hangat. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. Kubiarkan ia menunggu sampai kami terdiam cukup lama.


"Mau jalan bersamaku?" tanyanya kemudian memecah keheningan.


"Ukhuk!" aku sedikit tersedak mendengarnya ketika aku meneguk tegukan terakhir dari kopiku.


"Ha... Sebenarnya aku tidak terlalu takut dengan mereka."


"Aku tahu itu. Memangnya aku percaya kalau bos preman itu tergelincir dan pingsan begitu saja," selasai mencuci cangkir yang kami gunakan tadi ia melemparkan jaketnya padaku. "Pakai itu. Apa kau tidak kedinginan karna memakai pakaian basa?"


"Kau rasakan sendiri, pakaianmu juga basa," aku mengenakan jaket yang ia berikan tadi sambil mengikutinya keluar.


Hujan telah redah. Selesai mengunci kedai, kami melangkah pergi kembali menyelusuri jalan. Malam yang sunyi, hanya ada beberapa kendaraan lalu-lalang. Setelah melewati lima bangunan dari gang kecil tadi, belok kanan, terus berjalan sejauh 100 m akhirnya kami sampai di sebuah kompleks perumahan. Secara kebetulan atau tidak ternyata rumahnya memang searah dengan rumah bibiku. Tidak ada percakapan berarti diantara kami. Aku dan dia hanya berbicara untuk menghilangkan rasa sepih disekitaran kami. Lampu jalan cukup menerangiku untuk mengenali rumah bibi. Yap, akhirnya aku menemukannya. Rumah ini tidak berubah sama sekali, masih seperti dulu.


"Terima kasih karna telah menemaniku. Aku banyak berhutang padamu."


"Bukan apa-apa, tidak perlu berterima kasih."


"Bagaimana bisa, kau sudah banyak membantuku. Aku harus membalasmu."


"Begini saja, bagaimana kalau kau sesekali mampir ke kedaiku? Seven color lotus cake adalah hidangan paling populer di kedai kami."


"Baiklah. Sekalian mengembalikan jaketmu ini."


Ia tersenyum manis. "Sampai jumpa lagi," ia berlalu pergi sambil melambaikan tangan.


Aku baru ingat sesuatu yang sangat penting belum aku tanyakan padanya. "Hei... Aku lupa menanyakan namamu."


Langkahnya terhenti dan menoleh ketika ia mendengar teriakanku. "Panggil saja Tobi, semua orang disini mengenalku. Oh iya, bagaimana dengan namamu?"


"Kau bisa memanggilku Rin."


"Rin. Kalau begitu sampai jumpa Rin. Dah..."


"Dah..."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε