My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Permainan keinginan



"Baiklah. Musim semi akan tampak lebih menarik kalau ada beberapa serangga cantik yang menari diantara bunga-bunga," paman Alan menjentikan jarinya, bersamaan dengan itu muncul beberapa kupu-kupu berbagai warna berterbangan mengitari ruangan ini.


Kami mendapat bantuan untuk menyelasaikan ruangan ini. Tidak sampai 15 menit semuanya sudah selesai. Musim semi dalam ruangan ini sungguh cantik. Berbagai bunga warna-warni dengan aromah khas mereka memanjahkan penciumanku. Kupu-kupu, belalang, capung dan ikan dalam kolam juga menambah keindahan tempat ini. Semuanya seolah-olah memang tampak seperti musim semi telah datang.


Dan tepat di hari ini aku baru tahu kalau keluarga kandungku memiliki tradisi kecil untuk menyambut musim semi. Itu semacam permainan, dimana mengharuskan masing-masing dari kami menyembunyikan satu bola bernamakan diri sendiri. Kemudian, kami diminta untuk mencari satu bola yang di sembunyikan lawan. Setelah mendapatkan bola tersebut, kami dapat meminta apapun pada orang dengan nama yang tertera di bola itu. Jadi masing-masing dari kami akan memiliki satu permintaan dan satu kewajiban mewujudkan permintaan dari orang lain.


Tepat sebelum permainan dimulai ayah dan ibu serta adik Sofia datang. Mereka tentunya langsung ikut bergabung. Tak berselang lama, paman Fang dan Aftur juga datang. Mereka ikut diseret untuk bergabung. Permainan dimulai. Kami berpencar di dalam rumah ini untuk menyembunyikan bola masing-masing. Karna Rosse masih lemah untuk berjalan, jadi bola bernama kan dirinya akan disembunyikan oleh ibunya dan sebagai gantinya, bola bibi Merry diberikan pada Rosse. Itu berarti Rosse dapat meminta sesuatu dari ibunya sendiri.


Sherina masih ngeyel untuk tidak merubah wujudnya menjadi manusia. Dengan bola di mulutnya, kami mencari tepat yang memungkinkan seseorang tidak akan menemukan bola ini. Selesai menyembunyikan bola tersebut, kami kembali ke ruangan semula. Setelah semua orang kembali, kami mulai melakukan pencarian. Tapi sebelum itu Lisa sempat protes pada Sherina. Ia meminta Sherina merubah wujudnya menjadi manusia karna dalam wujud serigala, Sherina akan dengan mudah mencari bola tersebut. Terpaksa Sherina harus berubah. Ia sempat memintaku untuk bertukar jiwa namun aku tidak mau.


"Kau menemukan bola siapa?" tanyaku begitu Sherina menemukan bola yang tersembunyi di dalam vas bunga.


"Ibu," Sherina menunjukan bola bernama kan Cloey padaku.


"Ah, ibu. Jadi permintaan apa yang kau inginkan dari ibumu?" tanyaku sambil menyenggol bahu Sherina.


"Kau saja yang pikirkan," katanya sambil melangkah pergi.


Aku dengan cepat menyusulnya. "Kenapa aku? Kau yang menemukan bola itu."


"Aku tidak memiliki permintaan apapun."


"Ayolah, pikirkan saja sesuatu yang sederhana."


"Sederhana? Em... Baiklah. Aku akan memikirkannya."


Kami kembali ke ruangan musim semi buatan. Sampai disana kami mendapati ayah, paman Fang, ibu, Patéras, Mitéra, Rosse dan Lisa.


"Kakak," Lisa menunjukan bola pada Sherina yang bernama Rin.


["Oh, tidak. Kenapa harus dia. Aku merasakan firasat buruk soal ini."]


["Setidaknya itu bukan Sofia,"]


["Kau benar. Penyihir satu itu pasti akan sangat memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan hal aneh."]


"Rin, kau dapat bola bernama kan siapa?" tanya Mitéra.


Sherina tidak menjawab. Ia cuman menunjukan bola yang ada di tangannya.


"Itu namaku. Jadi sayang, apa permintaanmu?" tanya ibu ketika melihat nama di bola tersebut.


"Em..." Sherina terlihat gugup menjawab pertanyaan dari ibu. ["Apa yang harus aku katakan?"]


["Katakan saja apa permintaanmu."]


["Tapi aku belum memikirkannya."]


["Katakan saja begitu pada ibu."]


"Aku... Aku belum memikirkannya."


Sherina terlalu malu-malu mengatakannya. Aku harap mereka tidak mencurigai perubahan sikap ini. Lebih dari sejam kami semua berhasil menemukan masing-masing satu bola dan telah berkumpul. Ibu dan Mitéra membantu menyusun nama-nama kami di papan tulis agar lebih mudah.


Nama Bola atas nama


Derek Mia


Cloey Sofia


Alan Jonsph


Emely Lisa


Jonsph Tori


Tori Zedna


Marry Li


Zedna Rosse


Li Derek


Aftur Alan


Rin Cloey


Sofia Jimmy


Rosse Marry


Lisa Rin


Mia Emely


Jimmy Carlos


"Nah... Sekarang semuanya sudah mendapatkan bolanya, sesuai peraturan yang disepakati, kita harus menuruti permintaan dari orang yang menemukan bola yang kita sudah sembunyikan sebelumnya," jelas Mitéra mengingatkan. "Jadi, mari kita menagih hutang."


Sesuai nama yang tertera, kami menuruti permintaan dan meminta keinginan secara bergantian. Seperti ayah yang meminta Mia untuk melakukan balet. Dengan cepat Mia menyetujuinya. Selesai mengabulkan permintaan Ayah, kini giliran Mia yang meminta pada ibunya. Mia meminta ibunya untuk berubah menjadi serigala. Dan begitulah seterusnya. Ada yang meminta bernyanyi, menari, tantangan, hadiah dan khusus untuk yang bisa menggunakan sihir mereka diminta melakukan sesuatu yang berkaitan dengan mantra.


"Okey, Rin. Apa yang kau inginkan? Apa kau sudah memikirkannya?" tanya ibu pada Sherina.


["Ini kesempatan mu Sherina. Kau bisa meminta apapun yang sangat kau inginkan dari ibumu sejak dulu."]


["Aku sudah memikirkannya. Sesuatu yang sederhana tapi sudah lama sekali ingin kurasakan."]


["Itu bagus. Ayok cepat katakan pada ibu," aku sedikit mendorong Sherina untuk lebih dekat pada ibu.]


"Eh... Em... Aku... Aku ingin..." Sherina mala semakin gugup mengatakannya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah ibu secara langsung.


"Rin, kanapa kau terlihat gugup? Tidak seperti biasanya."


["Langsung katakan dengan lantang, atau nanti mereka akan mencurigai kita."]


["Okey,"] Sherina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Apa... aku boleh mendapat pelukan dari ibu?"


["Hah?" aku mengangkat sebelah alisku begitu mendengarnya.]


"Sayang, itu bukan suatu permintaan. Tapi... Kemari lah," ibu merentangkan kedua tangannya.


Sherina mematung sesaat dengan mata hendak menangis. Aku menarik tangannya mendekati ibu. Ibu langsung memeluk Sherina. Dengan tangan gemetar Sherina membalas pelukan tersebut. Ia merangkul pinggang ibunya dengan sangat erat. Ia pasti sudah lama memendam keinginan tersebut dan hari ini ia bisa mewujudkannya. Satu kecupan mendarat di dahi Sherina. Ibu membelai untaian rambut panjang tersebut dengan kehangatan seorang ibu pada putrinya.


"Kau tidak perlu memintanya. Sebagai ibumu, aku sangat mencintaimu dan tanganku akan selalu terbuka untuk memberi kehangatan padamu," satu kecupan lagi mendarat di dahi Sherina.


"Terima kasih... Ibu," Sherina menoleh padaku dengan senyum bahagia di wajahnya. "Keyla."


Bersamaan Sherina memanggil namaku, ia dengan lembut menukar jiwa kami. Walaupun begitu aku masih diserang rasa sakit sedikit di kepala karna pertukaran jiwa ini bukan dari kehendakku. Lutut ku tiba-tiba terasa melemas. Ibu yang menyadarinya dengan cepat menahan tubuhku agar tidak jatuh.


"Rin, kau baik-baik saja?" tanya nya dengan nada khawatir.


"Iya," jawabku hampir tak terdengar. Aku menutup sebelah mataku menggunakan telapak tangan dan sedikit mengatur nafasku untuk meredakan rasa sakit yang menyerang kepalaku. "Aku baik."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε