
Aku melangka pelan menuju ruang kepalah sekolah yang ada di lantai atas. Apa yang dilakukan Sindy sampai-sampai aku di penggil kepalah sekolah? Tidak ada lain selain datang dan mengetahuinya. Sampai di depan pintu ruang kepalah sekolah aku menarik nafas panjang lalu dengan cepat menghebuskannya, sebelum mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam mempersilakan aku masuk. Aku memutar knop pintu dan membukannya. Terlihat seorang pria berpakaian kemeja putih berserta dasi hitam panjang dari balik jas berwarna senada. Celana hitam panjang serta sepatu hitam mengkilat. Pria tersebut menoleh dan langsung berdiri saat aku melangkah masuk.
"Paman Fang?!" kataku ketika tahu siapa pria tersebut.
"Miss. Morgen. Akhirnya saya menemukan mu."
"Dari mana paman tahu aku ada disini?" tanyaku sambil memasukan kedua tanganku ke saku baju.
"Sebenarnya... Mr. Morgen sudah mengetahui kalau anda ada di kediaman keluarga Hartley. Sebab itu Mr. Morgen memerintahkan saya untuk menjemput anda," jelas paman Fang.
"Kalau ayah tahu aku ada disini, kenapa tidak ayah sendiri saja yang menjemputku?! Aku tidak mau pulang sebelum ayah datang!" tegasku diakhir kalimat. Aku baru sadar kalau aku ada di ruang kepalah sekolah. "Maaf Mrs. Marrel, aku tidak bermaksud berteriak disini."
"Eh... Jangan sungkan begitu Miss. Morgen. Saya..."
"Saya permisi," potongku. "Sekali lagi maaf Mrs. Marrel."
Aku bergegas keluar dari ruang kepalah sekolah dengan perasaan kesal. Ayah menyuruhku pulang namun ia sendiri tidak bisa menjemputku. Apa ia tidak ingat, kenapa aku kabur dari rumah? Dalam benakku, aku masih marah atas tuduhan itu. Kecurigaan mereka. Aku putri kalian tapi mengapa kalian tidak percaya sama sekali padaku? Ditambah lagi tatapan hormat Mrs. Marrel saat mengetahui kalau aku adalah Miss. Morgen. Aku benar-benar benci tatapan penuh kepura-puraan itu.
Pikiranku bercampur aduk membuat kepalaku pusing. Aku tidak terlalu memperhatikan jalan sampai di ujung lorong saat hendak belok kiri, aku tidak sengaja tersandung kaki Rosse. Hal tersebut membuatku jatuh dengan keadaan paling mengenaskan. Aku mengangkat wajahku yang menghatam lantai duluan. Aku menoleh ke arah Rosse. Terlihat ia begitu santainya bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangan.
"Apa kau harus sengaja melakukan itu?"
"Tidak. Kenapa kau di panggil ke ruang kepalah sekolah? Kau tidak buat ulahkan?"
"Apa maksudmu? Sebaiknya kau bantu aku berdiri baru bertanya," kataku sambil berusaha berdiri.
"Kau sudah berdiri."
"..." aku membersikan debu di baju serta celanaku lalu melakah pergi.
"Hei...! Kau mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kriiing... Kriiing...
Bell dibunyikan, menandakan jam istirahat di mulai. Aku membereskan buku ku dan beranjak meninggalkan kelas. Entah mengapa setelah kembali dari ruang kepalah sekolah ada hawa dingin yang terus menatapku, dan itu bukan berasal dari Rosse. Aku dan Rosse pergi ke taman depan gedung sekolah. Disana ada kursi yang nyaman tepat di bawah pohon. Rosse terus saja bersikeras menyuruhku menjelaskan apa yang terjadi, kenapa aku di panggil ke ruang kepalah sekolah? Aku tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semuanya, tentang kedatangan paman Fang untuk menjemputku pulang. Ia hanya menganguk dan membujukku agar aku menurut untuk pulang. Iya, aku juga ingin tapi...
Sedang asik-asiknya berbincang, eh... Lalat datang.
"Apa yang kau katakan pada kepalah sekolah sampai kau terlihat begitu santai-santai saja dan masih bisa tertawa sisini," kata Sindy yang sudah berdiri di depan kami.
"Oh... Jadi kau yang membuatku di panggil kepalah sekolah?" aku berdiri dan kini jarak kami sangat dekat.
"Tapi Rin, bukan..."
Belum selesai bicara aku sudah mengisyaratkan pada Rosse untuk diam. Ups, terlalu dekat. Rosse menepis tanganku menjauhkannya dari wajahnya.
"Kalau iya, kenapa? Gadis kampung jangan harap bisa lolos dariku!"
"Sudah seharusnya. Kau..."
Tin...!
Suara klason sebuah mobil. Mendengar hal itu membuat kami semua menoleh. Mobil berwarna hitam bergerak memasuki halaman depan sekolah. Beberapa siswa siswi yang ada disini terlihat terkagum-kagum dan berbicang satu sama lain. Mobil tersebut berhenti berjarak 20 meter dari kami. Sepertinya aku mengenali mobil tersebut. Mobil itu mirip dengan... Keluarlah seorang pria dan wanita yang tentu saja persis sama dengan dugaanku. Mereka ayah dan ibuku.
"Itu... Mr. Morgen dan Mrs. Morgen. Apa yang mereka lakukan datang ke sekolah ini? Apa mereka datang untuk bertemu denganku?" kata Sindy penuh percaya diri.
"Otak gadis ini terlalu percaya diri," kata Rosse yang dihiraukan Sindy.
Sindy telah hilang ditempatnnya. Kulihat ia sudah berada di depan kedua orang tuaku. Sejak kapan ia ada disana? Wajahnya begitu berseri ketika menyapa kedua orang yang begitu ia kagumi. Tutur kata manis dan sopan ia gunakan agar terlihat baik dimata mereka. Sungguh berbeda saat ia berbicara denganku. Menyebalkan!
"Hallo Mr. & Mrs. Morgen. Perkenalkan, saya Sindy Wilton, putri kedua dari keluarga Wilton. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Mr. & Mrs. Morgen berkesempatan datang ke sokalah sederhana kami?" sapa Sindy sambil bertanya.
"Gadis cantik yang manis," ujar ibuku.
"Keluarga Wilton sungguh beruntung memiliki putri yang baik sepertimu. Sampaikan salamku pada Mr. Wilton serta Mrs. Wilton. Saya menunggu kehadiran keluarga kalian di pejamuan pemegang saham Megaproyek di kawasan baru yang akan datang," ucap ayahku basa basi.
Melihat mereka berbincang begitu asik membuatku jengkel. Raut wajah ayah dan ibu terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak ada masalah sama sekali. Apa mereka tidak merindukanku sama seperti aku merindukan mereka? Apa mereka tidak merasa kehilangan sama sekali? Kalau tadi aku ikut pulang bersama paman Fang mungkin mereka tidak menyambutku dengan hangat. Aku sempat berpikir kalau sikapku tadi terlalu egois, tapi nyatanya tidak. Aku berbalik dan melangkah pergi.
"Hei... Rin, kau mau kemana?" tanya Rosse seketika menyusulku. "Kau tidak mau bertemu dengan orang tuamu? Aku ingin sekali lihat wajah Sindy yang tercengang kalau ternyata ia baru saja menghina putri dari keluarga yang ia kagumi."
"Oh... Sepertinya kau sangat menantikan hal itu. Kau bisa menghampiri orang tuaku dan memperkenalkan diri. Aku ingat saat kunjungan terakhir, ibu terlihat kecewa karna tidak berjumpa denganmu," saranku.
"Sebaiknya tidak usah. Pipiku bisa lebab karna cubitan ibumu."
"Aku menantikan itu. Aku tahu ibu selalu mencubit pipimu setiap kali bertemu."
"Sherina...!"
Aku tersentak ketika mendengar teriakan seseorang memanggilku. Suara yang begitu aku kenal. Saat ini aku dan Rosse sudah berada di lorong lantai dasar dalam gedung sekolah. Jelas, sangat jelas itu suara dari Sofia. Dan benar saja saat aku menoleh, ia berlari menghampiriku sambil melambaikan tangan. Apa yang dilakukan penyihir satu ini?
.
.
.
.
.
.
ξκύαε