My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Akhirnya



"Tunggu," kata Lisa membuat aku menoleh. Ia tidak melirikku sama sekali dengan wajah cemberut. "Aku terima tawaranmu."


Aku tersenyum lalu berbalik menghampirinya. Aku membantu ia memasukan sepeda lipatnya ke dalan bagasi mobil. Ternyata ban sepedanya bocor. Aku melajukan mobilku sesuai arahan Lisa. Tidak ada percakapan diantara kami. Salju semakin lebat turun membuat jalanan licin. Aku harus berhati-hati. Aku tidak menyangkah, melaju santai dihamparan salju ini cukup menyenangkan. Tidak ada rumah satupun disisi kanan dan kiri kami. Hanya ada pohon-pohon ditutupi salju dan hamparan ladang yang tertutup lautan putih dengan rumah-rumah serta pertenakan yang saling berjarak-jarak cukup jauh. Tempat ini adalah salah satu pedesaan di pinggiran kota. Jadi selama ini Lisa tinggal di tempat ini. Lokasi ini membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit bersepeda. Aku tidak percaya ternyata ia menempu jarak sejauh itu hanya untuk bersekolah. Aku melirik Lisa yang menatap kosong ke depan.


"Kau kenapa diam? Biasanya kalau selalu bertemu denganku kau tidak berhenti berbicara," kataku memecah keheningan.


"Anggap saja kau beruntung hari ini. Aku malas meladenimu."


"Hah... Sebenarnya aku bingung, kenapa kau begitu membeciku? Aku tidak berbuat salah padamu?"


"Hm, tidak perna? Aku dihukum Mr. Griat karnamu."


"Hei itu juga salahmu yang memulai. Aku juga dihukum tahu."


"Oh, bagaimana dengan loker penuh serangga? Kau juga mempermalukanku saat jam olahraga dan terakhir kau menyerangku dalam wujud serigalamu itu."


"Aku juga tidak bermaksud melakukannya. Aku cuman membalasmu. Lagi pula salah sendiri tidak bisa beremang."


"Hm!" ia tidak berbicara lagi. Hanya memalingkan muka sambil mendengus kesal. Tiba-tiba ia lalu berkata. "Aku minta maaf."


"Apa?" sebenarnya aku sudah mendengarnya dengan sangat jelas tapi entah mengapa aku ingin mengarnya lagi.


"Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini."


"Ffhhh..." aku berusaha menahan tawa. Wajah Lisa benar-benar lucu sekali. Aku belum perna melihat ekspresinya seperti itu.


"Apa yang lucu?!! Kenapa kau tertawa seperti itu?" kali ini ia bertambah lucu dengan menggebungkan pipinya.


"Tidah ada. Hanya saja kau sangat lucu saat menggebungkan pipimu saat marah," aku menirukan wajahnya yang cemberut. "Hei, kenapa kita tidak berteman saja dari pada bermusuhan seperti ini?"


"Hah... Sebenarnya aku iri sekali padamu."


"Apa yang kau irikan dariku?"


"Iya, kau memiliki banyak teman-teman yang setia dan semua orang menyukaimu."


"Bukankah kau juga memiliki banyak teman?"


"Tidak bisa dikatakan teman jika mereka mendekatiku cuman sekedar mencontek. Mereka semua tidak benar-benar mengangapku sebagai teman mereka," kata Lisa murung.


"Jika tahu begitu, kenapa kau masih tetap bersama dengan mereka?"


"Tidak ada cara lain. Hanya itu satu-satunya cara agar mereka mau berteman denganku."


"Jangan bersedih. Yang sepatutnya iri itu adalah aku. Kau sangat pintar sampai-sampai mendapat beasiswa di sekolah ternama dan dapat lompat kelas. Ibu sering membanggakan dirimu yang sangat pintar ini. Jujur saja waktu pertama kali aku bertemu denganmu aku bertekat menjadi temanmu. Tapi siapa sangkah kau mala menyukai pria yang sama denganku," kataku mulai terbuka.


"Apa?! Bohong," aku mengerem secara mendadak ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya yang mungil.


"Aduuh... Kau sengaja ya?" Lisa mengusap bagian belakang kepalanya yang menghatam sandaran kursi cukup keras.


"Kalau kau tidak menyukainya, kenapa kau menangis saat Perchye menolakmu waktu itu?" kataku tidak percaya.


"Hahaha... Kau lupa ya? Aku ini dijuluki sebagai ratu lakon pentas drama. Untuk akting menangis seperti itu sangat mudah bagiku," ujarnya dengan sombongnya.


"Dasar ratu drama," ejekku. Kali ini aku yang cemberut dan dia yang tertawa. Aku melajukan kembali mobilku dijalan bersalju. "Oh, iya aku ingat. Bukankah kau menjadi pemeran utama wanita di pentas drama hari natal nanti?"


"Tentu saja. Kau akan lihat sang ratu ini akan beraksi dipanggung yang megah," Lisa kembali membanggakan dirinya.


"Aku harap bisa menontonnya," kataku pelan.


"Eh? Kenapa tidak? Apa kau tidak akan hadir di pesta natal nanti?"


"Aah... Lupakan itu. Yang mana rumah mu?" tanyaku mengalikan pembicaraan.


"Rumah disamping perternakan itu," tunjuk Lisa pada sebuah rumah satu tingkat bercat putih.


Aku memberhentikan mobil tepat di depan rumah sederhana alah pedesaan yang nyaman. Atap dipenuhi salju dengan cerobong asap mengepul. Terdapat pohon besar di halaman dan kursi bersantai di bawahnya. Pasti sangat sejub duduk bersantai disana dikala musim panas tiba.


"Mau mampir sebentar? Sekalian menunggu salju redah. Tapi maaf saja kalau terlalu sederhana."


"Hah, mulutmu itu tidak bisa diubah."


Kami keluar dari mobil. Aku membantunya mengambil semua barangnya di bagasi. Lisa berjalan menduluiku sambil menuntun sepedanya. Aku mengikutinya perlahan dari belakang karna kaki ku kesemutan. Ada seorang wanita menghampiri Lisa dengan kayu bakar ditangannya. Tak jauh dari wanita itu datang seorang pria dengan jengot tipis menutupi wajahnya. Pria tersebut baru selesai membersikan salju yang menutupi jalan di depan rumah. Terlihat mereka sedang berbincang sambil bergurau dan Lisa menujuk ke arahku sepertinya ia baru saja memperkenalkanku pada orang tuanya. Aku tidak mendekat. Percakapan merekapun tidak dapat kudengar walau jarak kami cuman tiga meter.


Wajah dari sepasang suami istri itu seperti pernah aku lihat sebelumnya. Walau sudah bertahun-tahun namun tidak ada perubahan yang begitu besar dari mereka. Aku mengeluarkan foto yang aku dapatkan dari rumah terbakar tempo hari. Aku membandingkan mereka berdua dengan sepasang suami istri dalam foto ini. Sama persis. Hanya saja ayah tidak memiliki jengot sama sekali sedangkan ibu tetap cantik seperti dulu, rambut panjang bergelombang terikat rapih ke depan. Aku tidak percaya akhirnya kami akan dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Pantas saja aku memiliki perasaan berbeda terhadap Lisa. Walau ia itu selalu membuatku kesal setiap kali kami bertemu tapi aku mengangap semuanya hanyalah candaan saja. Ternyata selama ini dia... Adikku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε