
"Pegang tanganku," Perchye meraih tanganku. Sentuhan hangat dari tangannya membuatku tenang. Kini genggamanku beralih ke tangannya. "Sekarang buka matamu perlahan. Pemandangan diluar indah sekali," bisiknya di telingaku.
"Apa kau yakin?"
"Lihatlah sendiri."
Aku mengikuti kata-katanya untuk membuka mataku. Walau tubuhku masih gugup. Cahaya jingga adalah warna pertama yang aku lihat. Kilauan emas itu berasal dari sinar matahari berselimut langit biru yang mulai gelap. Benar apa yang dibilang Perchye, ini menakjubkan. Gedung-gedung pencangkar langit kini berhiaskan titik-titik putih seperti permata. Jalanan juga masih terlihat sibuk dengan kendaraannya. Dan untuk pelengkap, jembatan yang menjadi ikonik dari kota ini. Lampu warna-warni menghiasi setiap sisi jembatan bermain sesuai irama. Aliran sungai pun tidak mau kalah memantulkan setiap ke indah yang ada.
"Wow... Pemandangan disini indah sekali," kataku takjub. Belum sempat aku menunduk Perchye sudah menahan kepalaku.
"Jangan lihat ke bawah."
Walau berhasil ditahan tapi aku masih bisa melihat sekilas apa yang terjadi di bawah sana. "Apa yang mereka lakukan di keramaian itu?" tunjuk ku pada kerumunan tersebut. Aku harap tidak salah.
"Em... Sepertinya mereka sedang menyiapkan lentera."
"Lentera?"
"Iya, malam ini adalah perayaan pelepasan 10.000 lentera ke langit."
"Untuk apa mereka melakukan itu?"
"Menurut brosurnya sih, hari ini adalah hari ulang tahun taman hiburan ini."
"Sepertinya menarik. Bagaimana kalau kita ikut berpartisipasi?"
"Pikiran kita sama."
Selesai menaiki bianglala, aku dan Perchye segera ikut mendaftar dalam acara pelepasan 10.000 lentera, antriannya sangat panjang. Setelah mendapat lentera kami diharuskan menulis satu permohonan di atas lentera tersebut. Aku mulai berpikir, permohonan apa yang harus aku tulis di lentera ini? Cinta abadi, bahagia selamanya bersama orang yang kusayang, sehat selalu, panjang umur, sukses dikemudian hari, membahagiakan keluargaku kini dan nanti, sahabat sejati atau...
"Aku tahu," aku menuliskan harapanku diatas lentera menggunakan spidol berwarna merah.
"Harapan apa yang kau tulis?" tanya Perchye setelah ia menulis harapannya.
"Aku ingin semua harapanku bisa tercapai."
"Ha...? Apa yang seperti itu juga bisa?"
"Tentu saja. Mengharapkan agar harapan terkabul juga harapan, kan?"
"Masuk akal juga."
"Sekarang dimana kita akan menerbangkan ini?"
"Bagaimana kalau di dekat sungai? Disana tidak terlalu ramai. Semua orang pasti berkumpul ditengah-tengah taman hiburan."
"Ide bagus."
Kami pergi kepingiran sungai, dan benar saja tidak terlalu ramai disini atau lebih tepatnya tidak ada orang sama sekali. Sungai terletak di sebelah utara taman hiburan, berjarak 200 meter dari tempat pendaftaran. Sebenarnya lokasi ini tidak cocok untuk melepaskan lentera sebab disini terlalu rimbun pepohonan. Hanya keberuntungan kalau-kalau lenteranya tidak tersangkut di dahan.
Pelepasan lentera diadakan jam 20.00. Sambil menunggu, aku menghanyutkan origami berbentuk teratai yang Perchye buat dari kertas warna-warni yang sengaja disiapkan. Total ada 7 bunga teratai yang berhasil dibuat dengan ukuran sama, hanyut beriringan di arus sungai pelan.
"Ini yang terakhir," Perchye memberikan satu lagi origami bunga teratai padaku.
"Em... Aku akan menyimpan yang satu ini. Apa masih belum?"
Perchye melihat jam tangannya. "Tinggal beberapa detik lagi."
"10! 9! 8! 7! 6! 5! 4!..."
Aku dan Perchye duduk di dermanga kecil sambil memandangi langit malam penuh lentera. Hanya kami berdua. Perchye merangkul bahuku, mendekapnya dalam pelukannya. Suhu tubuhnya yang hangat menjadi penghalang udara dingin malam ini. Aku memandangi wajahnya yang manis, mata terang seperti lentera menatapku dengan senyuman. Cukup lama kami saling memandang sampai perlahan wajahnya semakin mendekati wajahku. Apa yang ingin dia lakukan? Apa mau menciumku? Aku hanya memejamkan mata, pasrah menerimanya. Jantungku mulai berdebar kencang, kami sangat dekat. Apa ia bisa mendengar suara detak jantungku? Aku bisa pastikan wajahku memerah saat itu.
Tin!!
Aku tersentak kaget mendengar suara klakson mobil yang begitu dekat. Seketika aku mendorong Perchye menjauh. Terlihat Perchye memalingkan muka dengan telinga merah seperti api. Saat aku menoleh, ternyata paman Fang sudah berdiri dibelakang kami dengan senyum bodohnya.
"Paman... Paman Fang?! Apa... Apa yang paman lakukan disini?"
"Paman, selamat malam," sapa Perchye ketika menoleh kebelakang.
"Ibumu menyuruhku menjemputmu Miss. Morgen,"
Sifat paman Fang seketika berubah. Senyum diwajahnya kini memudar. Aura dingin terpancar menyelimuti tubuhnya. Aku baru pertama kali merasakan tekanan yang begitu kuat dari dirinya, seolah-olah seperti berhadapan dengan ayah. Ia tidak seperti paman Fang yang aku kenal. Apa yang terjadi?
"O... Kalau begitu..." aku menoleh pada Perchye, sebenarnya aku belum ingin pulang.
Perchye hanya tersenyum. "Tidak apa. Ibumu sudah menyuruhmu pulang. Jangan nakal. Besok masih harus sekolah," katanya sambil membetulkan topiku.
"Baiklah. Sampai jumpa di sekolah besok," aku berdiri mengikuti paman Fang menuju mobil. Sebelum mobil melaju pergi, aku melihat ia melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya.
Di jalan tidak terjadi percakapan diantara aku dan paman Fang. Aku hanya menatap kosong keluar jendela, atau sesekali melihat ke langit. Masih terlihat lentera-lentera yang mulai terpencar riah tertiup angin. Malam semakin larut, kini kami melewati jembatan. Kapal-kapal kecil yang biasanya lalu-lalang kini sudah menepi di dermaga. Aku meneliti origami bunga teratai buatan Perchye. Aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana proses pembuatannya. Setiap lapisan demi lapisan kelopak bunga dibuat sedemikian rupa, tersusur rapi bermekaran. Dari lembaran kertas berubah menjadi sesuatu yang cantik.
"Siapa tadi? Pacarmu?" tanya paman Fang memecah keheningan.
"Ha?! Tidak. Kami... Kami cuman teman," jawabku malu karna pertanyaan tersebut. Aku jadi canggung menegur paman Fang duluan akibat perubahan sikapnya tadi. "Dari mana paman tahu aku ada disana?" tanyaku mengalikan pembicaraan.
"Tidak sulit mencarimu. Yang sulit itu mengajakmu pulang," kini sikapnya sudah kembali seperti biasa.
"Hihihi..." aku tidak menanyakan perubahan sikapnya tadi di depan Perchye. Mungkin ada masalah yang sebaiknya aku tidak tahu.
"Hm..." paman Fang menghela nafas sambil menggeleng.
"Lalu bagaimana caranya paman tahu aku ada disana?"
"Penciuman seorang manusia serigala sangat tajam. Kita bisa membedakan antara klan sendiri dengan klan lain dari jarak kiloanmeter."
"Paman Fang juga seorang manusia serigala?"
"Eh, aku tidak memberitahu mu ya?"
"Tidak."
"Hahaha... Sekarang kau sudah tahu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε