My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Permintaan Lisa



"Kau terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Apa kau sungguh tidak apa-apa?" tanya ibu lagi memastikan


"Apa suhu tubuhmu naik lagi?" Patéras meletakan tangannya di dahi ku.


"Aku baik, sungguh. Kalian tidak perlu khawatir," aku memberi senyuman untuk membuktikannya. Rasa sakit yang aku alami sudah hilang.


"Rin, jika kau merasakan sesuatu, jangan takut untuk memberitahukannya pada kami. Kau belum pulih sepenuhnya dari demam. Kau masih perlu banyak istirahat," nasehat ayah padaku.


"Iya, ayah."


["Maaf Keyla. Apa aku menyakitimu?" raut wajah Sherina tampak merasa bersalah.]


["Tidak. Cuman kepalaku sedikit sakit saja tadi. Sekarang tidak lagi. Kenapa kau tiba-tiba menukar jiwa kita?"]


["Saatnya adikmu mengajukan permintaannya padamu. Aku sudah tahu kalau ia sengaja mencari bola dengan nama Rin. Ia pasti menginginkan sesuatu yang spesial darimu dan ini kesempatan yang bagus untuk memintanya," lirik Sherina pada Lisa.]


["Ngomong saja kalau kau mau menghindari apapun itu permintaan anehnya."]


["Dia itu adikmu. Apapun permintaannya pasti ingin kakaknya sendiri yang mengabulkannya."]


["Dia juga adikmu tahu."]


Aku berjalan mendekati Lisa. Ia baru saja selesai memenuhi permintaan dari bibi Emely untuk menunjukan kemampuan Psikokinesis.


"Baiklah. Lisa, apa permintaanmu?" tanyaku.


"Em... Sebenarnya aku cuman ingin naik ke punggung kakak," katanya pelan dan sedikit malu.


"Hah? Kau ingin aku menggendong mu?" tanyaku untuk memastikan.


"Apa? Kau ingin digendong oleh kakakmu?" kata Sofia dengan nada sedikit mengejek. Ia telah berdiri di belakang Lisa.


"I, iya, tapi... Dalam wujud kakak sebagai serigala."


Aku melirik Mia yang terlihat asik naik di punggung ibunya. "Oh... Kau ingin seperti Mia?"


"Uhuk... Jika tidak mau juga tidak apa-apa," Lisa memalingkan wajahnya yang terlihat merona.


"Kalau seperti itu, aku juga mau," kata Rosse yang membuatku menoleh padanya.


"Itu permintaanmu. Sesuai aturan aku harus menurutinya. Ayok, aku ajak kau berkeliling rumah," Aku merubah wujudku menjadi serigala. Saatnya gilaranku dalam wujud seperti ini. "Naiklah."


"Sebaiknya cari permintaan lain saja, Lisa. Kakakmu masih belum sehat sepenuhnya," kata Mitéra.


"Tidak apa Mitéra. Aku dalam keadaan sehat."


Aku berlari dan melompat mengitari mereka untuk menujukan kalau aku sehat. Aku menyenggol tangan Lisa dengan moncongku untuk memberi isyarat memintanya naik ke punggung ku.


"Ayok naiklah adikku."


Dengan ragu Lisa naik ke punggungku. Ia berpegang pada helaian bulu ku. Setelah ia menyeimbakan diri di atas tubuhku, aku baru melangkah pelan keluar. Kami berkeliling-keliling saja mengitari rumah. Tidak ada percakapan diantara kami. Walaupun ada, Lisa juga tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Aku paling cuman memberi isyarat sebagai jawaban.


"Apa aku berat?" tanya Lisa memecah keheningan.


"Tidak," jawabku sambil menggeleng. "Kau itu sangat ringan. Aku bahkan masih bisa mengangkat sepuluh orang sepertimu."


"Bulu kakak halus dan lembut sekali," katanya kemudian.


Lisa mengelus kepala sampai leherku dengan kelembutan yang membuatku nyaman. Ada kesenangan tersendiri yang aku rasakan. Aku senang bisa mewujudkan satu keinginan kecil dari adikku ini. Setiap menit yang aku lalui bersamanya sangatlah berharga. Aku tidak akan melupakan momen ini. Terima kasih telah hadir dalam hidupku dan telah menjadi musim semi terindah.


"Grr... Kita kembali?" tanyaku namun tidak ada jawab. Begitu aku meliriknya, aku baru sadar kalau ternyata ia tertidur. "Astaga..."


"Dia tertidur selama perjalanan," ujar Sherina yang melayang di samping ku.


"Ini namanya ia minta padaku untuk dijadikan tempat tidur."


"Hehe..."


Aku melangkah kembali ke ruangan musim semi. Diperjalanan menuju ke sana aku melihat Aftur di depanku.


"Aftur!" panggilku sambil mempercepat langkahku menyusulnya. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Tuntu saja memenuhi permintaan dari Mr. French yang meminta diambilkan kamera."


"Cuman itu?"


"Mr. French tak enak hati meminta hal lain."


"Oh..." aku melirik semua luka ditubuh Aftur. "Bagaimana keadaan lukamu?"


"Sudah membaik."


"Apa kau suka disini?"


"Kenapa kau bertanya? Jika dibandingkan dengan penjara di kastil NorthVyden tentu saja jauh lebih baik disini. Aku berhutang banyak pada kalian. Terima kasih."


"Apa kau akan tinggal?"


"Itu bagus."


Senyap sebentar diantara kami. Lalu aku merasa kalau Aftir melirik padaku. Itu membuatku menoleh padanya.


"Ada apa?"


"Tanda di dahimu itu..."


"Tanda jiwa," potongku.


"Sudah aku duga. Aku merasa seperti tidak asing dengan tanda tersebut, namun sedikit berbeda dari tanda jiwa yang perna aku lihat."


"Kau perna melihat tanda jiwa? Apa kau tahu maksud tanda di dahiku ini? Apa kau juga tahu tentang ramalan kuno itu?"


"Soal ramalan itu aku tidak terlalu tahu. Aku sudah di penjara sewaktu ramalan tersebut ditemukan. Tapi soal tanda jiwa, aku memang perna melihatnya. Tanda jiwa yang kulihat lebih sederhana dari milikmu dan juga lebih kecil."


["Ada satu yang membuatku bingung. Kenapa semua orang tidak tahu kalau itu merupakan tanda jiwa?" tanya Sherina.]


["Itu mungkin karna tanda jiwa sangat jarang sekali muncul. Hal wajar jika kebanyakan orang tidak mengetahuinya dan sangat sedikit informasi tentangnya. Bahkan cuman buku di perpustakaan sekolah NarthVyden saja yang memiliki gambar dari tanda jiwa."]


"Apa boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Aura mu terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Apa yang terjadi?"


"Kau ingin tahu?"


"Jika tidak keberatan. Aku cuman ingin memastikan, apa yang aku pikirkan benar atau salah?"


"Jangan beritahu siapapun tanpa terkecuali karna tidak ada yang tahu soal ini."


"Baiklah."


"Tubuhku ini memiliki dua jiwa. Satu jiwa telah terbangun dalam tubuh ini beberapa bulan yang lalu. Dia ada disampingku sekarang," jelas ku.


"Ternyata benar. Tapi apa kau tahu kalau..."


"Sudah tahu," potongku sebelum Aftur mengatakannya.


["Tahu apa Keyla?" tanya Sherina.]


"Bunga layu."


["Hah? Apa maksudnya? Apa Aftur tahu penyebab dari layunya bunga-bunga di alam bawah sadarmu?"]


"Iya, dia tahu dan hal itu wajar terjadi jika ada dua jiwa dalam satu tubuh."


"Kau tidak memberi tahu nya?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku tak mau kalau dia akan merasa bersalah nantinya."


["Kenapa aku harus merasa bersalah?"]


"Karna kau yang paling peduli dengan kondisiku."


["Sudah seharusnya. Lagi pula jika kau memberitahu ku dari awal aku juga tidak akan merasa khawatir."]


"Sudahlah. Sekarang kau juga sudah tahu, kan?"


["Kau ini mamang suka menyimpan semuanya sendiri. Sesekali ungkapkanlah pada orang lain. Tidak ada ruginya juga. Mala itu membuatmu merasa lega."]


"Kau lebih memikirkan orang disekitarmu dari pada dirimu sendiri."


"Mau bagaimana lagi. Karna mereka lah aku bisa bertahan sampai sekarang," aku terdiam sesaat kemudian melanjutkan. "Em... Aftur. Apa boleh aku meminta satu permintaan darimu?"


"Katakanlah."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε