My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pulau Vyden



"Hoek...! Teleportasi sangat mengerikan," kata Rosse begitu ia mengangkat wajahnya.


"Aku tidak mau lagi berteleportasi. Lebih baik aku pulang naik kapal saja," kata Lisa yang sepertinya kapok.


"Nanti kau mala mabuk laut," ejek Sofia.


"Biarin."


"Ini yang pertama bagi kalian, wajar saja. Nanti juga terbiasa," kataku.


Aku kembali memandang kota pelabuhan yang ada di bawah sana. Kota yang cukup luas dengan seluruh keelokannya. Beberapa gedung percangkar langit menghiasi seisi kota dengan beberapa kapal besar maupun kecil singgah dipingiran pantai berombak tenang. Benar kata ayah Sofia, pulau ini memang sangat indah dan juga damai. Sungguh tidak menyangka kalau sebenarnya kota ini adalah wilayah dari kekuasaan vampire.


Lisa menghampiriku setelah selesai memuntahkan isi perutnya. "Apa tempat itu yang akan kita tuju?" tunjuk Lisa pada sebuah kastil yang terlihat sangat begitu tua. Kastil tersebut berdiri kokoh di atas bukit tepat di sebrang kami.


"Iya. Kastil NorthVyden. Menurut buku yang ku baca di perpustakaan, kastil ini dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Lucas Northman. Ia menggantikan ayahnya yang sedang berhibernasi kurang lebih 100 tahun. Ia jarang terlihat keluar dari kastinya setelah menandatangani surat perjanjian perdamaian dengan manusia. Rumor mengatakan kalau ia sebenarnya sedang menahan diri untuk tidak menyerang manusia. Tapi disisi lain banyak juga yang mengatakan kalau sebenarnya ia cuman tidak suka kebisingan. Para siswa/siswi yang tamat dari sekolah tersebut yang sempat bertemu dengan putra mahkota mala mengatakan kalau sebenarnya ia adalah jenis vampire yang ramah," jelas ku.


"E? Kalau begitu rumor mana yang harus kita percaya?" tanya Rosse.


"Tidak tahu. Mau ia baik atau jahat sebaiknya kita tidak bertemu dengannya," ujar Sofia.


"Aku juga sempat mencari informasi tentang pulau Vyden dan juga tentang kerajaan vampire. Dikatakan masih ada satu pangeran lagi di kerajaan itu yaitu adik dari Lucas Northman. Sang pangeran ini tidak perna mengungkap identitasnya ke publik, tapi ia suka berkeliaran di kota dengan identitas manusia biasa dan berbaur dengan masyarakat luas," jelas Lisa.


"Itu berarti keluarga kerajaan vampire ini masih sangat misterius," pikir Sofia.


"Semisterius apa mereka nanti kita akan segera tahu. Yang jadi pertanyaan, bagaimana caranya kita kesana? Tidak mungkin dengan jalan kaki, kan?" ujar Rosse mempertanyakan masalah ini.


"Naik taxi," jawab Sofia dengan nada becanda.


"Bisa-bisanya kau becanda di saat seperti ini! Memangnya ada taxi yang masuk hutan!!" betak Rosse geram.


"Sudah, sudah. Ada halte bus di kaki bukit ini. Kita bisa naik bus sampai kesana," kataku melerai mereka.


Kami berjalan kaki turun dari bukit ini menuju halte terdekat. Lima menit berjalan akhirnya kami sampai. Cukup lama kami menunggu bus sampai-sambai Lisa berbaring-baring di kursi tunggu. Bus berwarna biru putih berhenti tepat di depan kami. Pintu secara otomatis terbuka mempersilakan kami naik.


"Pusat kota Vyden?" kata sopir bus itu saat kami melangkah masuk.


"Iya," jawabku.


Di dalam bus kami mencari kursi kosong yang kami dapat di baris ketiga sebelah kanan. Tidak terlalu banyak penumpang dalam bus ini. Cuman ada sepasang orang tua, tiga remaja seperti kami yang duduk di barisan belakang, seorang pria dengan headset di telinganya dan seorang pria gemuk yang tertidur pulas. Bus melaju menyelusuri jalan menuju pusat kota. Pemandangan yang disuguhkan sungguh memanjakan mata kami dari balik kaca jendela. Kami berempat di buat takjub begitu bus memasuki kota. Tempat ini jauh lebih memukau dari yang terlihat di atas bukit tadi. Suasana yang diberikan tidak berbeda dari ibu kota. Keramaiannya sama, apalagi begitu kami melewati pelabuhan nya.


Bus perlahan berhenti di halte terakhir. Aku, Sofia, Rosse dan Lisa turun dari bus. Kami masih harus naik taxi untuk sampai dikastil karna jalur bus tidak mecangkup area tersebut. Sambil mencari taxi Lisa bersikeras mengajak kami berkeliling dulu dengan alasana karna lapar. Mungkin saja ia memang lapar setelah muntah tadi sebab Rosse juga merasa demikian. Baiklah, tidak ada salahnya mencicipi hidangan kuliner khas pulau ini yang aku tahu pulau ini terkenal dengan olahan seafood nya. Lagi pula kami masih memiliki cukup waktu sebelum matahari terbenam.


Tak berapa lama pesanan kami sampai, semuanya tampak lezat. Kami mulai mencicipi hidangan yang ada. Em... Ternyata memang benar. Olahan seafood di pulau ini sangat lezat. Tidak heran semua orang yang mampir ke pulau ini menetapkan olahan seafood nya sebagai yang terbaik.


"Kalian baru ya datang ke pulau Vyden?" tanya seorang pria yang duduk bersebelahan dengan meja kami.


Ia sendirian dengan mengenakan kacamata hitam. Aku tidak terlalu dapat mengenali wajahnya tapi aku merasa pernah bertemu dengan pria ini. Tapi dimana? Suaranya begitu familiar di telinga ku, namun aku tak bisa mengingatnya. Aku mencoba mengingat-ingatnya. Em... Suara pria ini benar-benar tidak asing.


"Iya," jawab Sofia.


"Mau kemana?" tanya nya lagi terlihat sangat akrab.


"Kastil NorthVyden," kali ini Lisa yang menjawab.


"Kalian murit baru di sekolah itu?"


"Iya. Sebenarnya kami murit pertukaran pelajar," jelas Rosse.


"Kebetulan sekali. Saya salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut. Mau berangkat bersama kesana?" katanya sambil menawarkan diri mengantar kami.


"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku tanpa menatapnya. Rosse, Lisa dan Sofia melihatku bingung.


"Sungguh kau tidak mengenali ku? Ternyata aku cepat dilupakan ya," pria itu membuka kacamatanya.


Betapa terkejutnya aku begitu melihat wajahnya. Aku terdiam menatapi wajah yang sungguh sangat aku rindukan. Mata itu. Senyum yang menghiasi wajahnya. Bagaimana bisa aku melupakan ia. Tanpa sadar air mata mengalir di ujung mataku.


"Pa... Paman, paman Fang!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε