
"Jika kau memutuskan ingin tinggal disini... Mau kah kau menjaga mereka untukku disaat aku tidak ada?"
["Kenapa kau berkata demikian? Memangnya kita mau kemana?"]
"Sekolah."
["Oh... Kenapa aku tidak terpikirkan soal itu? Perkataan mu ini memang membuat orang salah mengartikan."]
"Kau ini cepat sekali mencari alasan yang lumayan masuk akal."
"Itu bukan alasan tapi kenyataan."
"Hoam... Apa aku tertidur tadi?" ujar Lisa yang baru bangun.
"Kau sudah bangun rupanya."
"Maaf, aku ketiduran. Habis bulu kakak benar-benar membuatku nyaman."
"Dasar kau ini."
Kami akhirnya sampai. Begitu kami masuk, kulihat ada meja makan disana dan para pelayan yang sedang menyajikan bebagai hidangan di atas nya.
"Kemana saja kalian? Kenapa lama sekali?" tanya Mitéra.
"Rin, Lisa, Aftur, ayok makan malam," ajak ibu.
"Sejak kapan kalian menyiapkan semua ini?" tanya Lisa yang turun dari punggungku lalu menghampiri kursinya.
"Sejak kalian keluar untuk berkeliling."
Aku merubah wujudku kembali dan mengambil tempat duduk di samping Lisa. "Oh. Kenapa tiba-tiba kalian ingin makan malam disini?"
"Itu karna aku," Rosse mengacungkan tangannya. "Awalnya aku ingin makan masakan ibu. Tiba-tiba paman Darek menyarankan untuk makan malam disini dan semua orang menyetujuinya."
"Setiap awal musim semi ayah memang selalu mengajak makan siang sambil menikmati udara musim semi. Sekarang kenapa makam malam?" aku menikmati hidangan yang disiapkan pelayan di depanku.
"Itu karna ayahmu lupa. Mendengar permintaan Rosse pada ibunya baru ia ingat tentang itu," ujar bibi Emely.
"Bukannya lupa, tapi mengingat musim semi datang lebih awal disini, apa salahnya mengadakan tradisi kecil kediaman Morgen agar suasana musim semi lebih terasa."
"Alasan. Kalau ayah memang lupa ya katakan saja lupa," kataku sedikit mengejek.
"Kau ini. Padahal aku melakukan ini untukmu," kata ayah pelan.
Aku tersentak mendengarnya. "Untukku? Terima kasih."
"Tidak! Makan malam ini bukanlah tradisi kecil menyambut musim semi. Tradisi itu harus disambut tepat pada waktunya. Aku berjanji akan mengadakannya jauh lebih istimewa dari yang perna kita lakukan selama ini."
Yang lain seketika bingung dengan apa yang barusan ayah katakan. Yang mengerti disini mungkin cuman aku dan Aftur.
"Ada apa denganmu, sayang?" tanya ibu pada ayah.
"Iya. Kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kami dan juga kau terlihat begitu khawatir," sambung Patéras.
"Aku akan sangat menantikan itu," kataku sambil tersenyum pada ayah.
"Rin," ayah memalingkan muka dariku.
["Ada apa dengan ayah?"]
["Aku tidak tahu."]
Makan malam berlanjut. Ayah dan aku tidak tidak terlalu hanyut dalam keseruan cerita di meja makan. Kami cuman menanggapi pertanyaan mereka sekata dua kata saja atau cuman tersenyum tipis. Selesai makan malam, kami bersantai-santai dulu di ruangan ini. Ayah, Patéras, paman Alan, paman Jonshp, paman Fang dan Aftur sudah pergi untuk suatu pekerjaan. Untuk para ibu, mereka masih bersenda gurau sambil menemani Mia dan Jimmy bermain. Sedangkan Aku, Sofia, Lisa dan Rosse, kami iseng-iseng membuat rangkaian bunga hanya untuk sebagai hiasan.
"Lisa, bagaimana bisa keluargamu memiliki permainan unik tadi disaat menjelang awal musim semi?" tanya Rosse.
"Awalnya, sebenarnya dari sesuatu yang tidak di sengaja. Waktu itu umurku baru lima tahun. Tepat di awal musim semi, ayah menghilangkan kunci gudang. Kami mencarinya kemana-mana di dalam seisi rumah. Hampir dua jam mencari kunci tersebut tapi tak kunjung ketemu. Patéras dan Mitéra sudah menyerah mencarinya namun aku tidak. Sampai akhirnya aku berhasil menemukan kunci tersebut. Patéras sangat senang begitu aku menemukan kuncinya. Jadi sebagai hadiah, aku diperbolehkan meminta apapun yang aku inginkan," jelas Lisa.
"Oh... Jadi sejak itu tradisi kecil itu terbentuk," ujar Sofia.
"Eh... Itu karna aku..." Lisa terlihat malu-malu mengatakannya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanyaku pada Lisa.
"Haha... Kau sama dengan Rin yang suka sekali diberi hadiah," ejek Sofia padaku.
"Hm!" aku memalingkan muka dari Sofia. "Kau nakal juga ternyata ya adikku."
"Hihi... Tapi rencanaku itu ketahuan oleh Mitéra. Sebagai balasannya Mitéra mala menyembunyikan boneka ku."
"Hahaha..." aku, Sofia dan Rosse tertawa mendengarnya.
"Senjata makan tuan," kata Rosse disela-sela tertawanya.
"Ingat hati ingin mendapat hadiah mala boneka sendiri yang disembunyikan."
"Sudahlah, kalian berhenti tertawa!" teriak Lisa dengan wajahnya yang cemberut. Ia terlihat sangat imut.
"Hihi... Maaf, maaf. Habis kau imut sekali sih," aku mencubit kedua pipi Lisa dengan gemas.
"Kakak...!"
"Hore! Rangkaian bungaku sudah selesai," Sofia menunjukan rangkaian bunganya yang cantik.
"Aku juga sudah selesai," Rosse juga menunjukan rangkaian bunganya.
"Wah... Cantik sekali," pujiku.
"Bagaimana dengan rangkaian bunga milikmu, Rin?" tanya Sofia.
"Aku belum menyelesaikannya," aku melepaskan wajah Lisa yang sendari tadi masih ku cubit-cubit. Dengan cepat aku menyelesaikan rangkai bungaku. "Sudah siap."
"Kau membuat dua?" kata Rosse.
"Iya. Ini untuk ibu dan Mitéra."
Aku berdiri dan menghampiri ibu dan Mitéra. Aku segera mempersembahkan rakaian bunga yang kubuat itu kepada ibu dan Mitéra. Sofia dan Rosse juga melakukan hal yang sama pada ibu mereka. Sedangkan Lisa, ia masih belum menyelesaikan rangkaian bunganya.
"Oho... Apa yang kau berikan ini Keyla?" tanya Mitéra disaat aku meletakan rangkaian bunga itu di atas kepalanya.
"Setiap tahunnya aku memang selalu membuatkan rangkaian bunga untuk ibu. Sekarang di tahun ini aku memiliki Mitéra. Jadi tentu saja aku harus mempersembahkan rangkaian bunga untukmu," aku merangkul Mitéra dari belakang lalu mengecup pipinya. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, sayang. Terima kasih," Mitéra membalas ciuman pipi ku.
"Maaf, Mitéra, ibu. Cuman ini yang bisa aku berikan pada musim semi ini."
"Tidak apa-apa, Rin. Ini saja sudah cukup," ujar ibu.
"Ini kan cuman musim semi buatan. Disaat musim semi yang sebenarnya tiba, kita akan mencari bunga Muguet seperti biasa," kata Sofia.
Bunga Muguet atau Lily of the Valley merupakan bunga yang berbentuk lonceng berwarna putih. Pada permulaan musim semi aku dan Sofia selalu memetik bunga ini untuk dihadiakan pada ibu. Bunga Muguet adalah tanda kebahagiaan.
"Hei, aku juga selalu memetik bunga Muguet untuk Mitéra. Di bukit kecil yang tidak jauh dari perternakan ada banyak sekali bunga Muguet. Aku biasa mencari bunga itu disana. Selain bunga Muguet, ada juga bunga-bunga rumput yang cantik. Kapan-kapan kita kesana yuk musim semi nanti," kata Lisa.
"Ide bagus," Sofia dengan cepat menyetujuinya.
"Aku juga ingin memetik bunga Muguet. Di rumahku yang lama sangat jarang ada bunga satu ini. Suatu keberuntungan dapat menemukannya."
"Saat musim semi nanti aku ajak kalian kesana. Tempat itu sangat indah. Kalian semua akan takjub."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε