My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Rencana ke pulau Vyden



"Latas bagaimana caranya kita mendapatkan buah pohon ΖΩΗ (ZOI) untuk obat penawar ibu?" tanyaku.


"Jika keberadaan pohon ΖΩΗ (ZOI) tubuh di dataran hutan pulau Vyden, itu masih bisa kita menyusup kesana mengambilnya. Sayangnya pohon ΖΩΗ (ZOI) itu tumbuh di dalam kastil vampire. Pohon ΖΩΗ (ZOI) merupakan harta karun paling berharga milik kerajaan vampire di pulau Vyden."


"Itu artinya mustahil bagiku untuk mendapatkan buah pon itu," aku tidak bisa menahan air mataku lagi.


"Tidak."


"Ayah ibu," panggil Sofia saat melihat orang tuanya melang masuk.


"Aku perna ke pulau Vyden untuk perjalanan bisnis. Itu merupakan pulau yang indah dan ramah. Penduduknya hidup sangat baik dan rata-rata berkecukupan. Karna pulau Vyden terletak di jalur perlayaran antar samudra. Jajaran bisnis berkembang pesat di pulau itu. Untuk mempererat hubungan manusia dengan vampire, kastil yang menjadi tempat tinggal bansawan vampire kini diuban menjadi sebuah sekolah bagi seluruh anak-anak di pulau itu," ujar paman Jaseph.


"Jadi maksudmu?" tanya ayah apa yang mau direncanakan paman Jaseph sebenarnya.


"Biarkan Rin dan Sofia masuk ke sekolah itu sebagai pertukaran pelajar," kata paman Jaseph menyampaikan rencananya.


"Akan sangat berbahaya bagi Rin untuk pergi ke pulau Vyden, apalagi masuk ke kastilnya," ayat terlihat sangat tidak mengizinkan aku pergi.


"Jika ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan obat penawar untuk ibu, maka akan aku lakukan apapun resikonya!" tegas ku agar ayah mengizinkan aku pergi.


"Tidak nak. Identitas mu sebagai manusia serigala akan di ketahui oleh mereka," tatapan ayah terlihat penuh kekhawatiran.


"Aku rasa tidak juga, kak. Selama Rin tidak melakukan perubahannya. Rin sama sekali tidak memiliki hawa manusia serigala saat ia dalam wujud manusia. Para vampire itu tidak akan mengetahui identitas Rin sebagai manusia serigala," kata bibi Emely.


"Itu benar. Putri anda masih aman masuk ke pulau Vyden," Mr. Guttman.


"Ayah. Aku mohon izinkan aku pergi. Aku akan baik-baik saja. Akan kudapatkan buah itu. Ini demi kesembuhan ibu," aku mencoba menyakinkan ayah yang terlihat masih engan mengizinkan aku pergi.


"Izinkan kami juga ikut," kata Lisa tiba-tiba.


"Iya," sambung Rosse. "Kami juga ingin membantu.


"Kalian, tapi..." aku menoleh pada Lisa dan Rosse. Aku hargai mereka mau membantu tapi mereka hanya manusia biasa. Bagaimana kalau mereka dalam bahaya dan tidak ada aku atau Sofia yang membantu mereka?


"Tidak apa jika mereka berdua mau ikut. Aku bisa memberi mereka kekuatan sihir untuk melindungi mereka dari segala macam bahaya, tapi aku butuh media untuk menyimpan kekuatan sihir tersebut," kata bibi Tori.


"Media seperti apa?" tanya Sofia.


"Seperti keristal, batu permata atau berlian yang..."


"Aku punya koleksi batu permata dirumah. Aku bisa memberi kalian masing-masing satu sebagai media sihir," potong Sofia begitu saja.


Bibi Tori sepertinya kesal karna kalimatnya dipotong begitu saja oleh putrinya. Geram, bibi Tori menjentikkan jari lalu tiba-tiba entah datang dari mana air mengguyur tubuh Sofia. Hal hasil tubuh Sofia basa kuyup.


"Aah.....! Dingin!" pekik Sofia begitu air itu mengguyurnya.


"Aku belum selesai bicara kau mala nyerocos saja seperti kereta api."


"Maaf ibu," kata Sofia sambil menggigil.


"Tidak sembarang batu permata bisa menjadi media untuk menyimpan sihir. Batu permata ini harus berasal dari pemberian yang tulus. Semakin tulus seseorang memberikannya padamu maka semakin kuat pula sihir yang bisa disimpan dalam batu permata tersebut," jelas bibi Tori.


"Iya itu bisa."


Rosse melepaskan gelangnya lalu memberikannya pada bibi Tori. Tapi kulihat Lisa sedikit murung. Apa ia tidak memiliki batu permata yang memenuhi syarat? Aku melepaskan liontinku dan langsung mengenakannya pada leher Lisa.


"Ambil ini. Liontin ini adalah pemberian Mrs. Andersson karna aku membantunya bertemu dengan putrinya yang telah tiada. Sekarang aku berikan liontin ini padamu. Bantu aku menjaganya."


Lisa tersenyum sambil memperhatikan kalung liontin yang kini melingkar di lehernya. "Terima kasih."


"Oh... Jadi itu sebabnya keluarga Andersson tiba-tiba mau berkerja sama dengan keluarga kita. Ternyata kau membantu hantu lagi di belakang kami."


Aku merasakan aura dingin menusuk punggungku. Ketika aku berbalik, kulihat ayah menatapku penuh dengan tekanan. "E... Ini... Tidak penting di bahas hari ini, bukan?"


"Tentu, tentu saja. Kita bisa membahasnya bersama ibumu," kata ayah sambil menyeringai.


"Habislah sudah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari persiapan menuju pulau Vyden. Paman Alan sudah mengurus keperluan pertukaran pelajar untukku, Sofia, Lisa dan Rosse dari sekolah. Bibi Tori juga sudah selesai menyimpan kekuatan sihir dalam batu permata pada gelang Rosse dan kalungku yang kini berganti pemilik ke Lisa. Ke berangkat kami akan dilakukan sore ini sebelum matahari terbenam menggunakan portal teleportasi agar menghemat waktu perjalanan. Hal ini juga dilakukan untuk menghindari kami sampai di kastil sebelum gelap, yang dimana pada malam hari adalah dunia bagi vampire.


Aku sedang menyiapkan semua keperluanku untuk pergi ke pulau Vyden seperti beberapa pakaian ganti, perlengkapan mandi, buku, alat tulis, leptop, dan beberapa perlengkapan pelajar biasa agar kami tidak terlalu di curigai. Aku tidak bisa memperkirakan waktu kami akan berapa lama disana. Yang pasti bagiku aku harap bisa mendapatkan buah pohon ΖΩΗ (ZOI) secepat mungkin untuk ibu. Ini akan jadi pengalaman baru ku melihat seperti apa kehidupan vampire disana, karna memang aku belum perna bertemu satupun vampire di dunia ini.


Aku baru selesai memasukan semua barang-barang ku ke dalam tas disaat Rosse memanggilku. Sebelum keberangkatan aku izin pamit pada ibu. Kucium kening serta pipinya dengan air mata mengalir. Aku harap ibu bisa bertahan sampai aku kembali membawa obat penawar itu. Mitéra memelukku dan Lisa dengan erat sambil berbisik untuk saling menjaga serta saling membantu satu sama lain. Sedangkan Patéras membelai lembut rambut kami berdua dan berpesan agar selalu berhati-hati. Aku melirik ayah yang bersandar dinding sambil melipat kedua tangannya. Ia masih keberatan aku pergi ke pulau Vyden. Aku berjalan mendekatinya.


"Ayah," panggilku sambil mencari pandangan ayah yang terus dipalingkan dariku. "Ayah masih keberatan aku pergi?"


Tiba-tiba ayah memeluk erat, diciumnya ubun-ubunku dan dibelainya beberapa kali rambutku. "Segeralah kembali."


"Aku bahkan belum pergi."


"Dengar ini, walaupun pulau Vyden terlihat sangat damai kau harus tetap waspada. Hindari sebisa mungkin berkontak langsung dengan vampire. Jika terjadi sesuatu segera hubungi ayah, mengerti."


"Mengerti," jawabku sambil mengangguk. "Ayah jangan khawatir. Kami pasti akan pulang dengan selamat membawa obat penawar untuk ibu."


"Kau putri kecilku yang pemberani," ayah mengelus sekali rambutku lalu mengacak-acaknya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε