My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kakak yang baik



"Rosse kemari lah," panggil Lucas.


"Rosse! Apa-apa ini? Apa kau yang memberitahu ia tempat persembunyian ini?" betak Sofia sambil menujuk Lucas.


Rosse hanya diam. Ia melangkah mendekat Lucas. "Kalian memang bodoh," katanya kemudian dengan tatapan dingin.


"Aku akan menghukum kalian dengan sangat berat karna telah membawa lari salah satu budak darahku."


"Kembalikan dia. Rosse adalah adikku."


"Aku sungguh terharu dengan persaudaraan kalian. Mau bagaimanapun kondisinya kau tetap menganggap ia sebagai saudara. Lihatlah dia Rosse. Apa kau juga merasa terharu?" Lucas menjepit kedua pipi Rosse, memaksanya melihat ke arahku.


"Tidak sama sekali tuan," jawab Rosse tampa ekspresi.


"Kalian dengar itu? Rosse saja tidak peduli sama kalian, lalu kenapa kalian masih menganggapnya seperti saudara?"


"Apa tujuanmu melakukan semua ini? Aku tahu kau pasti telah mengetahui identitas kami dari awal, tapi kau membiarkannya. Aku kini telah menyadari kalau semua ini terlalu kebetulan. Dari mulai ibuku terluka, penawar racun yang satu-satunya hanya buah ΖΩΗ (ZOI) dan hanya ada 100 tahun sekali tapi secara kebetulan buah itu matang malam ini. Kemudahan ku masuk ke ruang tempat pohon ΖΩΗ (ZOI) berada dan dengan mudahnya pula kau menangkap ku. Semua itu rencana mu, kan!!"


"Lumayan pintar juga. Tapi sayangnya sudah terlambat."


"Kenapa kau melakukan semua ini? Klan Α (Alpha) tidak memiliki dendam apapun dengan kerajaan vampire!!"


"Itu benar. Kerajaanku memang tidak memiliki dendam apapun pada klan Α (Alpha). Kenapa aku melakukan semua ini? Itu hanya untuk membuatmu menderita dan akhirnya membunuh mu."


Lucas mengangkat tangannya lalu mengarahkannya padaku. Muncul kilatan petir dari telapak tangannya melesat cepat ke arahku. Aku tidak sempat menghindari serangan tiba-tiba tersebut. Aku cuman bisa memejamkan mataku dan pasra.


DUAR ! !


Terdengar suara ledakan yang begitu dekat namun tidak terasa mengenai ku. Aku mencoba mengintip apa yang terjadi. Ternyata dinding perisai berlapis milik Sofia dan sihir perlindungan milik Lisa yang telah berhasil melindungi ku. Aku menoleh pada mereka yang terlihat terengah-tengah.


"Tidak akan kubiarkan kau melukai kakak ku. Kakak sudah sering melindungku dan juga telah menyelamatkan ku. Kali ini biar aku yang melindungi kakak," kata Lisa masih terengah-engah. Permata di liontinya ini berubah warna dari ungu ke pink.


"Kau tidak sendirian Rin," sambung Lisa.


"Menarik," gumang Lucas. "Aku juga tidak berencana membunuh mu hari ini. Rosse, serang mereka!"


"Baik tuanku," dengan tatapan dingin Rosse melangkah maju dan siap menyerang.


"Rosse aku tidak mau melawan mu."


"Kalau begitu menyerah saja!"


Rosse melesat cepat ke arahku dan seketika menyerang ku. Aku berusaha menangkis setiap serangannya dan menghindarinya.


"Sungguh keterlaluan kau Rosse! Kami adalah temanmu. Setega itu kau menyerang teman mu sendiri!" bentak Sofia yang hendak menyerang Rosse namun segera ku hadang.


"Jangan menyerangnya Sofia. Dia sekarang ini sedang di kendalikan oleh Lucas."


"Apa kau yakin? Bagaimana bisa kau tetap berpikiran seperti ini? Melihatnya saat ini aku mala ingin memukulnya."


"Karna aku tahu adikku tidak akan melukai kakaknya," aku terus mehidar setiap serangan Rosse. Terlihat ia sudah mulai kelelahan karna berulang kali menyerang ku namun tidak dapat mengenai ku.


"Hai semuanya. Apa aku ketinggalan sesuatu?" kata Sindy yang baru muncul.


"Dari mana saja kau?" tanya Lucas pada Sindy.


"Oh... Aku baru dari membunuh Hewan berbulu ini. Fhuu..." Sindy meniup helaian bulu berwarna hitam dan putih ke udara. "Kau mengenalnya Rin?"


"Tidak... Ini tidak mungkin," aku mematung. Aku sangat mengenal bulu itu. Air mata seketika mengalir di pipiku. "ARGH!" Rosse berhasil memukul bagian belakang leherku yang membuatku pingsan seketika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar matahari masuk melalui jeruji besi yang tinggi dan tepat mengenai wajahku. Aku membuka mataku perlahan. Aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan lembap dan pengap dengan keadaan tangan serta kakiku terantai. Tubuhku terasa lemah sekali. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi tapi kepalaku terlalu pusing untuk mengingatnya.


"Apa yang terjadi? Dimana ini?"


"Kau sudah sadar?"


"Sherina? Kenapa kita terikat disini? Aku seperti mengalami mimpi yang panjang."


"Oh..." berita itu menjadi tidak mengejutkan lagi. "Semua itu nyata. Aku telah gagal. Aku berpikir dapat melindungi semuanya tapi nyatanya tidak. Aku mala kehilangan orang yang sku sayangi satu persatu. Hiks... Hiks..."


"Berhentilah menangis. Kuatkan dirimu. Sebaiknya kita cari cara agar dapat keluar dari sini, menyelamatkan Sofia dan Lisa, setelah itu kita dapat pulang."


"Pulang?"


Suara pintu penjara dibuka. Aku mengangkat wajahku melihat siapa itu. Lucas berjalan masuk bersama Sindy di belakangnya.


"Sudah sadar?" tanya Lucas.


"Lucas, Sindy. Dimana Lisa, Sofia, Rosse dan Prof. Peter?"


"Benar-benar mengejutkan. Kau masih mengkhawatirkan mereka dari pada dirimu sendiri."


"Karna mereka hidupku."


"Jangan khawatir Rin. Sindy dan Lisa baik-baik saja, walau mereka sempat melawan sebelum dibawa kemari tapi mereka cuman mengalami luka kecil. Mereka dipenjara di sel sebelah. Aku akan memberitahu mereka kalau kau sudah sadar," jelas Sindy dengan senyum diwajahnya.


"Untuk apa kalian membawa mereka kembali kesini? Bukankah kalian mengingkan aku. Lepaskan lah mereka. Masih kurang kah kalian merengut semua orang yang aku sayang?"


"Rin, Rin. Kau ini terbuat dari apa sih? Kau sudah seperti ini, di rantai dalam keadaan lemah tak berdaya. Tidak kah kau mau memohon agar kami melepaskan mu dulu, tapi kau mala lebih memikirkan keselamatan teman-temanmu. Aku sungguh bingung melihatmu."


"Akan kah itu berhasil?"


"E? Kalimat bagus."


"Kau sungguh membuatku malu," kata Lucas datar.


"Maaf, maafkan saya tuanku."


"Apa kau tidak perna bertanya-tanya, kenapa aku menginginkan nyawamu?" tanya Lucas yang menghampiriku lebih dekat.


"Kenapa?"


"Karna aku sama sepertimu. Aku juga kakak yang sangat sayang pada adiknya. Aku hanya ingin melihat ia bahagia. Apa Onoval sudah pernah bercerita tentang kekasihnya?"


"Natali."


"Itu berarti ia sudah bercerita. Aku tidak perlu bersusah-susah lagi menjelaskannya."


"Kau menginginkan darah jantungku agar Onoval dapat bersama kembali bersama Natali. Lalu kenapa kau merengut semua orang yang aku sayang."


"Untuk bersenang-senang."


"He..." aku tersenyum kecil begitu mendengar jawaban Lucas. Aku menatap lurus pada Lucas. "Tidak. Aku tidak percaya itu. Cara bersenang-senang mu terlalu serius. Kenapa kau tidak katakan saja alasan mu yang sebenarnya dari pada berbohong?"


Buk ! !


Satu cambukan keras mendarat di wajahku, darah mengalir dari luka yang tercipta. Cuman luka kecil tapi terasa begitu perih dan sakit.


"Berani sekali kau menganggap tuanku sebagai pembohong!" bentak Sindy yang tidak terimaaku mengatai tuannya sebagai pembohong.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε