My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Rencana yang matang



"Mohon maaf. Apa saya boleh memberi pendapat?" seorang wanita yang duduk di kursi penonton mengacukan tangannya. "Saya juga salah satu ahli yang ikut memeriksa keaslian video tersebut. Dan hasil akhir yang saya dapat iyalah kalau video tersebut hanyalah editing semata. Saya membawa buktinya."


Semua orang yang ada menoleh pada wanita itu dengan tatapan sama. Pembawa acara meminta wanita tersebut untuk maju ke depan dan menujukan hasil yang ia peroleh. Wanita tersebut menyerahkan flashdisk pada petugas. Dengan cekatan petugas itu memainkan leptopnya. Layar besar kini berubah lagi, menampilkan apa yang ada dalam flashdisk itu.


"Bisa dilihat sendiri terdapat kejanggalan-jengalan kecil yang sulit terlihat. Saya menghabiskan waktu hampir 26 jam untuk dapat menyadari kejanggalan tersebut. Ada beberapa spetrum warna yang tidak kontras antara satu sama lain. Terlebih lagi pada saat serigala putih itu menyerang korban," jelas wanita itu.


Kembali lagi ke rumah tempat Mr. Hope dan rekannya.


Prak . . . ! ! !


Botol bir pecah berhamburan menghantam dinding yang meninggalkan bekas noda disana. Mr. Hope sangat murka ketika menyaksikan konferensi pers yang begitu tidak menguntungkan baginya.


"Bagaimana kerja reporter gadungan yang kau sewa itu?!! Ia saja tidak bisa membuat kekacauan dan malah membuat kita tersudut seperti ini!!!" Mr. Hope menarik krah baju rekannya itu dengan tatapan marah besar.


"Kita masih belum kalah, bos. Memangnya kenapa kalau mereka bisa membuktikan keaslian dari video itu. Kita masih punya banyak kartu untuk mengalahkan mereka," kata rekannya itu gemetar.


"Aaaa...!!!" geram Mr. Hope. Ia mendorong rekannya itu sampai jatuh ke lantai. "Setelah konferensi pers selesai aku mau kepala wanita itu! Berani-beraninya ia mengacaukan rencanaku."


"Baik," rekannya berusaha berdiri dengan nafas putus-putus.


"Lihat saja Derek, aku belum kalah!"


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan di pintu yang membuat mereka bingung.


"Siapa yang berani datang kesini di jam seperti ini?!"


"Biar saja periksa," kata rekan Mr. Hope menawarkan diri.


"Usir saja dia, siapapun itu!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mr. Morgen walau video itu terbukti palsu tapi tidak cukup membutikan kalau putrimu bukan manusia serigala." ujar reporter gadungan itu.


"Lalu kau maunya apa?" lirik tajam Derek pada reporter itu.


"Seperti yang kita tahu, ada beberapa cara untuk mengidentifikasi kalau orang tersebut adalah manusia serigala atau bukan. Contohnya, dengan cara menyayat kulit mereka, apakah benar ada bulu serigala yang tertanam di jaringan kulit mereka?"


"Apa maksudmu?! Kau meminta kami melukai putri ku?!!" amarah Cloey terpancing. Ia menujuk reporter itu dengan nada tinggi.


Tori menyentuh pundak temannya itu untuk menenangkannya. Lalu ia berkata pelan "Jangan mau mengikuti permainan mereka Cloey."


"Hah..." Cloey menghela nafas panjang. "Maafkan saya semuanya."


"Saya tidak bermaksud begitu Mrs. Morgen. Saya cuman memberi salah satu contoh. Masih banyak cara lain, bukan?"


"Sepertinya anda lupa kalau putri saya tidak bisa hadir disini," ujar Derek.


"Bagaimana dengan anda sendiri?"


"Maksudmu?" dengan ekpresi bingung Derek bertanya.


"Kalau memang putri anda seorang manusia serigala maka orang tuanya pasti manusia serigala juga."


"Kau mau aku melukai diriku sendiri?"


"Sepertinya kau ingin sekali buktinya," Cloey berdiri dengan raut wajah marah. Ia menghampiri jendela lalu menarik tirai putih yang menutupinya. Kaca jendela yang hampir memenuhi sebagian sisi kanan ruangan menampakan malam bulan purnama. "Bukankah cara yang paling efektif adalah ketika seorang manusia serigala terpapar cahaya bulan purnama mereka akan berubah? Kita beruntung malam ini bulan dalam keadaan sempurna."


Cloey menghampiri tombol lampu lalu mematikannya. Sinar bulan menerobos masuk menerangi seisi ruangan. Hampir seluruh orang terkena cahaya bulan purnama termasuk Derek. Tidak terjadi apa-apa. Semua orang saling berbisik satu sama lain, tapi reporter itu hanya diam. Tampak jelas ketengangan diraut wajahnya. Cloey menghidupkan kembali lampu ruangan, selepas itu ia berjalan menuju tempat duduknya semula. Perasaan bangga dan puas memancar dari wajah Cloey.


Derek melirik istrinya itu kemudian berbisik. "Sepertinya kau bangga sekali karna berhasil membungkan mulut reporter itu."


"Mungkin saja. Jaseph, suruh seseorang untuk menyelidiki identitas reporter itu," pinta Derek pada Jaseph.


"Baik."


"Oh, iya. Bagaimana dengan Alan? Dimana dia?"


"Alan masih diperjalanan menuju kemari."


"Bagus."


"Wah... Sepertinya sudah terbukti kalau keluarga Morgen itu bukanlah manusia serigala," ujar pembawa acara.


"Tunggu dulu," kata reporter itu lantang.


"Apalagi yang mau dilakukan reporter itu? Berapa banyak Mr. Hope membayarnya sampai-sampai ia sangat bertekat menjatuhkan kita," bisik Tori ke Cloey.


"Tidak peduli. Yang terpenting kita sudah memiliki persiapan yang matang."


"Saya baru ingat sesaat putri anda menghilang terjadi serangan lagi. Walau berita itu tidak terlalu viral dari berita sebelumnya namun tetap saja terjadi serangan serigala. Putri anda masih bisa diragukan."


Beberapa penonton mulai terpengaruh oleh perkataan reporter itu. Diantara mereka ada yang membenarkan dan ada juga yang menyakal hal itu. Semua orang membuat opini masing-masing.


"Ini yang saya tunggu," kata Derek membuat semua orang bingung. "Siapa bilang kalau putri saya menghilang? Ia ada dirumah bibinya untuk menenangkan diri dari masalah ini. Oh... Putri kecilku yang malang. Ia cukup tertekan karna tuduhan tersebut. Sebab itulah kami memintanya menginap di rumah bibinya yang ada di luar kota."


"Apakan kini anda tidak dapat berkata-kata lagi sampai bicara omongkosong? Semua orang sudah tahu beberapa hari ini kalian berusaha mencari keberadaan putri anda."


"Darimana anda mendapat berita ini?" tatap tajam Derek pada reporter itu.


"Kenapa? Apa anda merasa takut karna kini kalian tidak dapat menghindar lagi?" senyum kemenangan terukir di wajah sang reporter. "Kalian mencoba menyembunyikan hal ini tapi kalian semua terlalu sibuk mencari keberadaan Miss. Morgen sampai-sampai tidak mengetahui kalau berita tersebut telah menyebar. Dan kini kalian masih mau berbohong pada kami?"


"Berbohong? Lucu sekali," kata Derek dan masih sempat menahan tawa.


"Apa yang anda tertawakan Mr. Morgen? Mohon jangan berpura-pura lagi!" kini nada bicara reporter itu sedikit meninggi.


"Maaf atas keterlambatan saya."


Terdengar suara dari belakang mereka yang membuat semua orang menoleh. Tiga pria dan satu wanita berjalan masuk ke ruangan konferensi pers. Salah satu pria itu adalah Alan yang berjalan paling depan. Ia menghampiri Derek dan yang lain bersama dua rekannya yang sedang menggiring seorang wanita seperti penjahat. Semua orang mulai bertanya-tanya, siapa gerangan wanita itu? Mengapa ia diperlakukan demikian?


"Akhirnya kau datang juga," kata Tori tampa melirik lawan bicaranya.


"Iya. Kami sudah lama mengulur waktu untukmu," sambung Cloey.


"Maaf, ada masalah sedikit tadi."


"Yang penting kau sudah datang," kata Derek.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε