
...Sudut pandang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Aku ada di lantai dua berusaha mengikuti Perchye secara diam-diam, tapi aku kehilangan dia. Saat aku sedang mencarinya tiba-tiba terdegar suara ledakan tepat berasal dari lab fisika yang berjarak tiga ruangan dariku. Aku bergegas berlari menghampiri ruangan itu untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sampai disana hanya ada kabut tebal hasil dari ledakan barusan. Aku tidak bisa lihat apapun. Ruang gelap penuh asap dan samar sinar bulan menerangi suatu sosok hitam yang semakin jelas saat kabut perlahan-lahan menghilang.
Sosok itu melihat ke arahku dengan sorot mata merah menyalah. Jelas sekali sosok itu bukanlah seseorang yang mengenakan kostum monster. Ia terlalu besar untuk ukuran manusia normal. Aku hanya diam dan tampa sadar mundur perlahan ketika sosok itu melangkah mendekatiku. Sosok hitam besar itu semakin dekat. Ia menjelurkan tanggannya mencoba menggapaiku dengan kukunya yang hitam nan tajam. Aku tidak bisa mundul lagi karna di belakangku ada tembok yang menghalangi.
Tubuhku tidak takut ataupun gemetar sedikitpun, cuman aku merasa tidak bisa bergerak sama sekali. Ingin sekali aku berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat ini atau berteriak sejadi-jadinya, namun mulutku seperti terkunci. Aku hanya diam terpaku melihat sosok hitam di depannku yang kini berjarak dua meter dari tempatku berdiri. Tatapan dari sosok itu tidak terasa ingin menyerangku, apalagi membunuh. Tidak ada ancaman bahaya darinya. Mala aku merasa tatapan itu terlihat begitu sedih.
Tiba-tiba aku mendengar suara derapan langkah kaki menuju ke sini dari sebelah kiriku. Aku melirik ke arah sosok itu, sepertinya ia mendengarnya juga. Sosok itu mundur perlahan lalu melompat keluar jendela yang sendari tadi terbuka. Suara langkah kaki semakin jelas terdengar. Aku bergegas pergi dari tempat ini ke arah yang berlawanan sebelum orang-orang tersebut datang. Aku tidak mau disalahkan atas apa yang terjadi di lab fisika. Terlebih lagi jika aku jelaskan apa yang aku lihat mereka pasti tidak akan percaya.
Aku berlari tampa arah sampai baru menyadari bahwa aku masuk ke ruang musik. Aku duduk sebentar bersandar di salah satu kursi yang ada disana melepas lelah. Aku mencoba menenangkan pikiranku. Semua yang terjadi berlalu terlalu cepat. Aku perlu waktu untuk memahaminya. Awalnya aku cuman mengikuti Perchye saja karna perilakunya terlihat aneh, lalu terdengar suara ledakan kemudian muncul sosok hitam tadi di lab fisika.
Bagaimana bisa sosok tersebut muncul disana? Dan secara kebetulan juga aku kehilangan jejak Perchye. Tidak mungkin kan... Aku mengeleng cepat menghalau pikiran aneh tersebut. Tidak, aku tidak percaya kalau sosok tadi itu Perchye. Aku akan mencarinya lagi dan memastikannya sendiri. Aku berdiri dan keluar dari ruang musik itu. Aku berjalan kembali ke lab fisika. Di persimpangan tampa sengaja aku menabrak seseorang, hal itu membuat aku dan mereka terjatuh.
"Aduuuh...!" keluh kami berbarengan.
"Rin, ternyata kau!"
"Kalian?" kataku begitu mengetahui ternyata mereka adalah teman-temanku sendiri. "Apa yang kalian lakukan disini?"
"Seharusnya kami yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rosse balik sambil ia membantuku berdiri.
"Tidak ada, cuman jalan-jalan cari angin," alasku.
"Cari angin, ditempat seperti ini? Terlalu mencurigakan," Nic mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Memangnya tidak boleh?"
"Sudahlah ayo kembali," kata Evan menepuk bahuku dan Nic.
"Rin kau dengar suara ledakan tadi?" tanya Sofia ketika kami sudah berjalan kembali.
"Iya, sebab itu aku kembali. Kenapa?"
"Apa kau tahu ledakan tadi berasal dari lab fisika," ujar Sofia.
"Lab fisika?" kataku pura-pura tidak tahu.
"Iya. Sekarang lab fisika hancur berantakan dan masih tidak diketahui penyebabnya," jelas Kevin.
"Bagus dong," kataku membuat mereka berhenti.
"Apanya?" tanya Rosse bingung.
"Karna sekarang lab fisika hancur jadi beberapa minggu ini tidak akan ada pelajaran fisika sebelum lab fisika direnovasi. Itukan bagus."
"Kenapa aku merasa kaulah dalang dari ledakan tadi," ujar Sofia tampa ekspresi.
"Aduh," satu pukulan mendarat di kepalaku. Aku mengusap kepalaku yang sakit. Pukulan tadi berasal dari... "Nic...! Kenapa kau memukulku?!"
"Akukan cuman becanda," kataku setela membalas Nic.
Kami melanjukan perjalanan menyelusuri koridor. Sampai di depan tangga, kami turun berderetan dengan aku pada urutan terakhir. Saat baru melakakan kaki ke anak tangga, tiba-tiba ada seseorang menyekap mulutku dari belakang dan menarikku menjauh dari teman-teman. Aku tidak bisa teriak minta pertolongan. Aku berusaha melepaskan diri tapi percuma, tenaga orang ini kuat sekali. Siapa dia? Apa Perchye? Tapi kenapa ia melakukan ini?
Orang aneh ini menarikku ke tempat gelap yang hanya ada penerangan cahaya bulan. Ia mendorongku ke tembok dengan keadaan tangannya masih menutup mulutku. Aku meneliti siapa orang di depanku ini. Seorang pria, dari raut wajahnya seperti ketakutan. Ia terus saja melirik ke belakang atau melirik ke kanan dan ke kiri, melihat apakah ada seseorang yang mengikutinya. Dia bukan Pechye. Pria ini jauh lebih tinggi darinya. Rambut perak dengan mata merah terlihat menyalah dalam kegelapan. Dia terlihat tidak asing, terutama rasa dingin dari tangannya.
"Em... Em..." aku masih berusaha melepaskan cengkramannya dari mulutku.
"Ah, maaf, maaf. Apa aku menyakitimu?" nada suaranya terdengar khawatir. Dengan keadaan panik ia melepaskan tangannya dari mulutku. Ia juga mundur beberapa langkah.
Aku mengatur nafasku perlahan. "Apa yang kau lakukan disini Onoval?"
"Ceritanya rumit. Kau harus membantuku keluar dari sini," pinta Onoval tampa melirik padaku. Ia terus saja menoleh ke belakang dengan gelisa.
"Ada apa denganmu? Apa yang kau lihat?" tanyaku penasaran. Aku mengikutinya melihat ke arah yang ia lihat.
"Nanti aku jelaskan, tapi kau harus membantuku keluar dari sini," katanya dengan tatapan memohon.
"Kalau mau keluar ya keluar saja. Pintu sekolah ini tidak dikunci. Kenapa harus minta bantuanku?"
"Karna aku tidak tahu," katanya pelan. "Lorong disekolah ini lebih rumit dari kastil. Banyak ruangan dan sudut yang sama. Aku kesulitan membedakannya. Kau harus membantuku."
"Hah, baiklah."
"Terima kasih. Oh, iya sebaiknya kita jangan sampai bertemu orang lain."
"Kenapa lagi?"
"Aku cuman tidak mau bertemu dengan mereka. Bukankah jadi aneh kalau orang luar seperti aku ada disini."
"Tidak akan aneh juga. Semua orang tidak akan terlalu memperhatikan setiap wajah yang mereka temui."
Onoval menarikku pergi meninggalkan tempat itu. Aku menunjukan arah jalan keluar yang jarang di lalui seseorang. Dari beberapa suara yang aku dengar sepertinya pesta berlanjut kembali. Ledakan tadi hanya menyebabkan keriuhan sesaat. Walau ruang aula adalah tempat acara pesta utama tapi banyak juga para siswa/siswi berkeliaran menyelusuri koridor. Mereka cuman sekedar mencari angin ataupun nongkrong-nongkrong santai, bercada bersama teman-teman mencari ketenangan dari keriuhan pesta. Ada juga diantara mereka yang menjahil orang lain dengan cara mengangetkan mereka yang sedang lewat.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε