My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Rosse, dimana kau?



"Ada apa denganmu?" tanya Lucas pada Sindy yang sedikit cemberut.


"Setelah menjadikan Rosse sebagai budak darahmu, anda tidak akan berpaling dariku, kan?"


"Kenapa? Kau iri jika nanti aku lebih menyukai gadis itu dari pada dirimu?"


"Tentu saja iri. Jika ia berani merebut kasi sayang tuan padaku, aku akan membunuhnya."


"Ini yang sangat aku suka darimu. Kau bebas melakulan apa yang kau suka asalkan itu tidak mengganggu rencanaku."


"Tuanku memang yang terbaik."


"Dasar, gadis bodoh."


"Hihi..."


Sudut pandang orang pertama


ΩΩΩΩ


"Darimana saja kalian berdua?" tanya Sofia begitu kami bertemu dengan mereka di koridor.


"Dari atap sekolah," jawabku.


"Apa kau tahu? Sendari tadi kami mencarimu."


"Onoval ada apa dengan bibirmu?" tanya Lisa.


"Oh, ini... Seekor kucing menggigitku," jawab Onoval sambil melirik sekilas padaku.


"Kucing bisa menggigit bibir?" ujar Sofia meragukan.


"Tentu, tentu saja bisa. Bahkan kucingnya bisa mengejar dan memukul. Punggung ku sampai sakit dibuatnya. Kucing itu benar-benar galak."


Ocehan Onoval membuatku kesal. Aku menginjak kakinya dengan keras sebagai peringatan padanya agar ia tidak membahas hal itu lagi.


"Aw! Rin! Kenapa kau menginjak kaki ku?" rintih onoval kesakitan.


"Maaf, sengaja. Oh, ya. Dimana Rosse? Kenapa ia tidak bersama dengan kalian?" tanyaku mengalikan pembicaraan. Aku tidak memperdulikan Onoval yang masih merintih kesakitan.


"Eh... Kami sebenarnya berpencar mencarimu agar lebih cepat. Kami tidak tahu dia ada dimana sekarang," jelas Sofia.


"Iya. Aku dan Sofia saja baru bertemu," sambung Lisa.


"Kalian ini. Aku sudah pernah bilang jangan berpencar, selalu tetap bersama. Ya sudah ayok cari dia. Aku takut terjadi sesuatu padanya," ajak ku pada mereka yang dibalas anggukan.


"Hei, tunggu aku!" teriak Onoval menyusul kami.


Kami berempat menyelusuri setiap ruangan mencari Rosse, namun kami tidak menemukannya. Hpnya juga di telpon tidak diangkat sama sekali. Kemana perginya ia? Persaan takut mulai menyelimutiku. Aku takut kalau telah terjadi sesuatu padanya. Tidak. Jangan sampai hal itu terjadi. Jam sudah menunjukan pukul 04.45 kami masih belum menemukan Rosse. Sebenarnya kemana dia? Sudah belasan kali kami memutari sekolah sampai seluruh halaman kastil, asrama, setiap bangunan, bertanya disana sini dan meminta Angel untuk ikut membantu. Tapi tetap saja kami tidak menemukannya.


"Rin, kita kembali dulu ke asrama ya. Lisa sudah ngantuk berat. Hoam... Aku juga ngantuk," pinta Sofia yang terlihat sudah tidak bisa menahan kantung matanya lagi.


"Kalian kembali duluan. Aku mau mencarinya sekali lagi."


"Jangan memaksakan dirimu Rin."


"Iya. Kembalilah."


Mereka berjalan pelan kembali ke asrama. Aku harap mereka dapat sampai ke kamar tampa menabrak apapun karna sangking ngantuknya.


"Bagaimana?" tanyaku pada Onoval yang baru muncul setelah Sofia dan Lisa pergi.


"Aku sudah mengancam Eric dan beberapa vampire nakal lainnya. Tapi mereka sama sekali tidak melakukan itu pada Rosse."


"Kemana lagi aku harus mencarinya? Kita sudah memutari tempat ini belasan kali."


"Masih ada satu tempat yang belum kita periksa."


"Kastil."


"Tapi bukankah siswa/siswi dilarang masuk ke kastil? Penjagaan disana sangat ketat. Rosse tidak mungkin ada di dalam sana."


"Tidak ada tempat lain, kecuali itu di luar. Aku akan mencarinya disana dan memberi kabar padamu."


"Mohon bantuannya Onoval."


"Iya."


Onoval kembali menghilang. Walau aku tak pasti Rosse akan ada di kastil tapi patut di coba. Aku juga kembali menyelusuri sekolah sekali lagi dengan harapan mungkin ada suatu tempat yang ku lewat kan dan Rosse ada disana dalam keadaan baik-baik saja.


Jam 06.40 aku baru kembali ke asrama, sendirian. Aku masih belum menemukan Rosse. Kulihat Lisa dan Sofia telah tertidur dengan masih mengenakan sepatu mereka. Hah... Mereka terlalu ngatuk berat sampai tidak melepaskan sepatu. Aku membantu melepaskan sepatu mereka dan menarikan selimut untuk mereka. Aku mengambil tempat duduk di pinggir kasur Lisa. Onoval juga telah memberi kamar kalau ia tidak menemukan Rosse di kastil itu. Sudah kuduga ia tidak disana, lalu di mana dia?


"Rosse... Aku mohon pulanglah. Hiks... Hiks... Dimana kau sekarang?"


"Keyla!"


Dalam kesedihanku tiba-tiba Sherina memanggil. "Ada apa? Apa kau masih meributkan soal tanaman yang layu?"


"Cepat kesini dan coba lihat ini!"


Aku pergi ke alam bawah sadar ku mencari tahu. "Apa yang mau kau tunjukan?" begitu sampai aku dikejutkan dengan hamparan bunga rumput seluas 5×5 meter layu semua dan ada diantaranya yang mati. "Apa yang terjadi?'


"Itulah yang mau aku tanyakan padamu. Tumbuhan yang layu semakin luas. Kalau terus dibiarkan bisa-bisa seluruh tumbuhan disini akan mati dan akan berdampak padamu."


Aku memetik setangkai bunga rumput yang layu itu. "Apa mungkin karna gigitan Onoval berdampak sampai pada alam bawah sadar?" bunga yang aku petik mala semakin layu.


"Tidak. Setelah gigitan Onoval waktu itu, ada sebagian dari mereka segar kembali. Tapi hari ini mereka layu semakin luas."


Aku memetik setangkai bunga rumput lalu menyematkannya di daun telinga Sherina. Seperti yang aku pikirkan. Perlahan-lahan bunga itu segar kembali. "Sudah kuduga," gumangku. Aku duduk di antara bunga rumput tersebut lalu membaringkan diriku sambil menatap langit.


"Kenapa kau mala tiduran disini."


"Untuk sesaat bolehlah aku melepas lelah disini? Mungkin beban pikiranku terlalu menumpuk sampai berakibat pada tempat ini."


"Bisa jadi," Sherina mengambil tempat duduk di sebelah ku. "Dari semua masalah yang silih berganti ini. Liburan akhir pekan saja terjadi bencana yang besar."


"Terkadang aku merindukan tempat dimana aku menunggu disaat aku koma dulu. Duduk disana tampa memikirkan apapun sambil menatap semua keceriaan yang ada di sebrang sana. Aku merasa ingin kembali."


Sherina segera menutup mulutku menggunakan kedua tangannya. "Jangan coba-coba berpikir untuk kembali ke sana! Aku sudah susah paya menarikmu meninggalkan tempat itu."


"Tenang saja. Banyak hal yang belum aku selesaikan disini. Aku tidak akan mungkin kembali dengan meninggalkan semua tanggung jawabku disini. Lagi pula aku masih harus mencari Rosse dan membawakan obat penawar untuk ibu," Aku bangkit dan melangkah pergi. "Sampai jumpa."


"Hah... Terkadang aku tidak mengerti sama sekali dengan kata-katanya."


"Tidak aku sangka ternyata mereka masih bisa tidur tampa merasa khawatir kemana hilangnya aku semalam. Aku sempat berpikir kalau mereka mencariku, tapi nyatanya tidak. Sindy benar. Mereka cuman berpura-pura saja peduli di depanku, dibelangkangku tidak sama sekali," gumang Rosse yang baru kembali. Ia melangkah masuk untuk mengambil beberapa barangnya. "Hm... Kenapa Rin tidur di kasur Lisa? Bahkan kakinya masih menyentuh lantai. Hah... Terkadang Rin memang masih suka ceroboh. Tunggu, apa ia habis menangis?"


"Aduuh... Kepalaku sedikit pusing," aku bangkit sampai terduduk. Aku sedikit memijit dahiku. Setelah agak mendingan aku baru sadar kalau Rosse berdiri di hadapanku. "Rosse?!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε