
"Pohon yang sangat ajaib. Aku dengan buah pohon ini juga dapat menjadi penawar racun dari getah pohon Νεκρός (Nekrós). Apa itu benar?"
"Tentu saja benar. Buah pohon ini juga merupakan penawar dari seluruh racun yang di dunia."
"Lalu, apa kau tahu tempat pohon ini berada?" akhirnya pertanyaan tersebut keluar juga.
"Aku tidak tahu tempatnya. Cuman yang pasti pohon ΖΩΗ (ZOI) berada tepat di bagian inti dari kastil ini," jawab Onoval.
"Pohon ΖΩΗ (ZOI) berada di bagian inti kastil!" ulang ku dengan nada cukup keras. Saat ini aku masih terhubung dengan Sofia, Lisa dan juga paman Fang. Mereka semua dapat mendengar percakapan aku dan Onoval.
"Kerja yang bagus wolf kecil," puji paman Fang padaku.
"Sama-sama paman Fang."
Setelah mengetahui informasi ini mereka bergerak ke bagian inti kastil yang menurut dena berada di lantai tiga. Aku dan Onoval kembali menjelajahi isi kastil ini sampai ia tiba-tiba mendapat telpon dari kakaknya.
"... Iya, iya kak. Aku akan ke sana," Onoval memutus telponnya setelah selesai bercakap dengan kakaknya. "Kakak menyuruhku ke tempatnya, entah ada apa. Bagaimana denganmu? Apa mau ikut denganku atau kembali ke kamar?"
"Aku mau berkeliling sendiri, boleh?"
"Apa kau yakin. Kau bisa tersesat."
"Aku tinggal menghubungi mu, mudah kan."
"Kenapa aku tidak terpikirkan hal sederhana itu?" gumang Onoval. "Ya sudah baiklah. Aku pergi dulu sebentar. Dah..."
"Dah..." aku membalasnya setelah ia menghilang di udara. "Keberuntungan akhirnya menghampiriku. Saatnya pergi ke ruang inti."
Aku mempercepat langkahku turun ke lantai tiga menyusul Lisa, Sofia dan paman Fang yang kemungkinan besar telah menyulusuri lantai tersebut. Sampai di lantai tiga bagian tengah kastil, aku harus berjalan mengendap-endap dan sesekali bersembunyi. Penjangaan di lantai ini ternyata ketat sekali. Tidak seperti lantai atas yang bahkan tidak ada penjaga sama sekali. Aku menghubungi yang lain sedang berada dimana mereka.
"Lisa, Sofia, paman Fang, dimana kalian?"
"Maaf kak, aku dan Sofia memutuskan kembali turun. Di lantai tiga tidak bisa menggunakan kekuatan sihir sama sekali. Kami sudah berusaha masuk tapi kami mala dicegat para penjaga. Akan sangat berbahaya bagi kami jika ingin menerobos masuk tampa kekuatan sihir," jelas Lisa.
"Jangan paksakan diri kalian. Kembali lah ke tempat yang aman. Biar aku dan paman Fang yang mengambil buah tersebut."
"Berhati-hatilah Rin," kata Sofia.
"Iya. Paman Fang, anda dimana?"
"Sedang berusaha untuk masuk. Kemungkinan besar pohon ΖΩΗ (ZOI) berada di ruangan yang mereka jaga ketat itu."
"Bagaimana caranya kita masuk ke sana?"
"Em... Ah, begini saja. Biar aku alihkan saja semua penjaga yang ada, sedangkan kau ambil kesempatan ini untuk masuk ke ruangan tersebut dan curi buah itu."
"Baiklah. Tapi paman Fang jangan sampai tertangkap."
"Jangan khawatirkan aku. Semua keberhasilan atau gagal tergantung padamu wolf kecil."
"Eh, paman Fang. Bagaimana cara kau mengalihkan para penjaga?"
"Aku merasakan hawa manusia serigala di sekitaran sini."
"Aku juga merasakannya."
"Iya, arahnya dari sana," tunjuk salah satu dari mereka yang berlawanan dari tempatku berdiri.
"Ada seorang manusia serigala menerobos kastil. Tangkap dia!!!" perintah pemimpin dari para penjaga itu. "Jangan biarkan dia lolos."
Semua penjaga pergi yang ada disana pergi mengikuti hawa manusia serigala yang mereka rasakan. Aku tidak menduga cara paman Fang memancing mereka meninggalkan tempat itu dengan cara melepaskan hawa kekuatan dari manusia serigala nya. Paman Fang pasti melepaskan liontinya. Aku mengambil kesempatan ini untuk masuk ke ruangan yang mereka jaga dengan sangat ketat ini. Aku mempercepat langkahku untuk masuk kesana. Sampai di dalam ruangan panjang dan kosong menyambut ku. Tempat apa ini? Baru melangkahkan kaki ku tiba-tiba belasan anak pana terbang ke arahku. Reflek aku menghindar sebisa mungkin.
"Sial! Ternyata ini ruang jebakan. Bagaimana aku melewatinya?"
"Kau berhasil masuk wolf kecil?" tanya paman Fang.
"Iya. Tapi terdapat ruang jebakan yang harus ku lewati dulu."
"Ruang jebakan? Em... Coba lempar sesuatu dan lihat jebakan apa saja yang terpasang disana."
"Baik."
Tapi aku harus melempar apa? Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil berpikir. Ku lirik kanan dan kiri mencari sesuatu yang dapat kulempar kesana. Mataku tertuju pada lili yang tersemat di tempatnya. Aku mengambil lilin tersebut lalu melemparkannya ke tengah-tengah ruangan. Beberapa detik tidak terjadi apapun, tapi kemudian seluruh perangkap aktif dan menyerang lilin yang malang. Pelontar api, anak panah, gergaji bundar, lantai yang terbuka dan beberapa lagi yang lainnya. Satu menit kemudian, semua perangkap kembali ke posisinya semula. Untuk perangkap yang ada di lantai sebagian besar aku ingat letaknya tapi yang aku harus menghindari adalah serangan anak panah dan pelontar api itu.
Setelah menarik nafas panjang, aku mengambil ancang-ancang untuk siap melewati ruangan penuh perangkap ini. Aku berlari secepat yang aku bisa dan berusaha menghindari semua perangkap yang mendeteksi kehadiranmu. Aku hampir saja jatuh ke lantai yang tiba-tiba terbuka. Tepat dibawah sana merupakan susunan besi tajam. Meleset sedikit saja aku pasti sudah jatuh ke bawah sana. Dengan menggunakan kelincahan yang aku miliki, aku akhirnya berhasil melewati ruang perangkap tersebut dengan beberapa luka goresan akibat anak panah. Aku tidak bisa menghindari semua anak panah yang diluncurkan secara tiba-tiba padaku. Cuman mendapat luka goresan saja sudah cukup beruntung bagiku.
Selamat dari ruang perangkap aku langsung masuk ke ruangan yang dimana pohon ΖΩΗ (ZOI) berada. Begitu memasuki ruangan tersebut aku sedikit takjub melihatnya. Ruangan ini seperti taman mini musim semi. Terdapat kolam air sebening kaca yang mengelilingi dengan air terjun mini. Tumbuhan merambat dengan bunga warna-warni tersebar memenuhi dinding ruangan. Dan tepat di sebrang jembatan kayu pohon ΖΩΗ (ZOI) tumbuh dalam vas batu putih setinggi satu meter. Aku menutup hidung serta mulutku disaat aku mencoba menghampirinya. Bau buah ΖΩΗ (ZOI) masih saja menyengat hidungku.
"Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"
Langkahku berhenti di jembatan ketika mantra pengikat lagi-lagi mengikat ku. Aku sudah tahu itu siapa. Aku melirik tajam pada Sindy yang berjalan menghampiriku dari arah belakangku.
"Kebetulan sekali kita berjumpa disini Miss. Morgen," Sindy membelai wajahku sambil mengambil Handsfree yang tersemat di telingaku. Lalu ia melemparkan Handsfree ke lantai kemudian menginjak nya sampai hancur. "Aku cukup terkejut melihatmu dapat selamat dari kolam siang tadi. Umurmu panjang juga ya."
"Sindy, kau jangan macam-macam denganku! Dimana Rosse? Lepaskan dia!!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε