
Sampai di depan pintu sekolah aku lihat Kevin dan Evan berdiri di sana. Mereka melambaikan tangan sambil memanggil kami mendekat. Pada malam ini Kevin mengenakan setelan jas hitam penuh bercak darah di kemeja putihnya. Ia berdandan sebagai pembunu berantai atau biasa disebut Psikopat. Untuk melengkapai aksinya ia membawa senjata mainan. Sedangkan Evan, ia kali ini mengenakan kostum vampire dengan taring tajam disela-sela bibirnya. Halloween tahun ini mereka dapat dibedakan. Tidak seperti tahun kemarin. Mereka mengenakan kostum sama dan memakai topeng pula. Kami benar-benar bingung membedakan mereka berdua. Apalagi tinggi dari keduanya hampir sama. Aku sering sekali salah memanggil nama mereka.
"Dimana Nic?" tanya Sofia begitu menghampiri.
"Tidak tahu. Belum datang mungkin," jawab Evan.
"Kalau begitu tunggu saja," saranku.
"Hei Rin, kau terlihat cantik," kata Kebin kemudian.
"Kau jadi apa sekarang? Hewan Hibrida?" tanya Evan dengan nada sedikit mengejek.
"Ini semua karna dua orang ini," tunjukku pada Sofia dan Rosse.
Sedang asik berbincang tiba-tiba muncul sosok dibelakang antara Kevin dan Evan. Sosok itu mencengkram bahu si kembar dengan tangannya yang penuh darah. Kevin dan Evan tersentak ketika menyadari ada sesuatu yang menyentuh pundak mereka, lantas mereka menoleh perlahan. Mereka terkejut sampai beteriak ketika melihat wajah dari sosok tersebut yang begitu menyeramkan. Wajah dengan mulut lebar sampai ke leher ditambah deretan gigi tajam dan darah yang mengalir diselah-selah gigi itu menambah kesan menyeramkam. Orang yang melihatnya pasti teriak jika muncul tiba-tiba dari kegelapan.
Nic tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Kevin dan Evan yang sangat terkejut ketakutan. Iya benar, sosok tersebut adalah Nicole. Ia berdandan seperti Zombie dengan pakaian polkadot merah dan sedikit sobek sana sini. Jadi, ini kostum yang ia maksud akan memenangkan pertandingan? Nic terlalu nekat menghias diri. Aku, Sofia dan Rosse hanya mengeleng melihatnya mengerjai si kembar. Nic memang jahil orangnya.
"Nic!!" bentak mereka bersamaan, kesal dengan tingkah Nic.
"Hahaha... Dasar penakut," kata Nic masih tertawa.
"Siapa yang takut? Kami cuman terkejut saja."
"Sherina!"
Panggil seseorang membuat telinga serigalaku menegak dan bergerak, aku segera menoleh. Ternyata yang memanggilku adalah Perchye. Ia melambai sambil menghampiri kami. Ia mengenakan kostum werewolf lengkap dengan taring dan sarumtangan cakarnya. Ia terlihat mempesona dimataku.
"Perchye," kataku ketika ia sudah dihadapan.
"Kau terlihat menggemaskan dengan telinga itu."
"Kau juga," aku mengatakannya tampa sadar. "Eh, maksudku kau terlihat mengerikan. Tidak, tidak, maksudku kau tampan, sangat tampan," aku segera menutup mulutku menggunakan kedua tangan. Aku benar-benar tidak dapat mengontrol diriku ketika di depannya. Astaga, apa yang terjadi denganku? Detak jantungku semakin berdegup kencang hal ini membuatku tambah gugup. Aku harap ia tidak dapat mendengarnya.
"Mau berdansa?" tanya Perchye sambil mengulurkan tanganya. Senyumnya membuatku merona.
"Iya."
Aku menerima uluran tangannya lalu merangkulnya seperti rantai. Kami melangkah masuk menuju aula. Aku sampai melupakan teman-temanku. Maaf semuannya.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Lihat Rosse ekor Rin berkibas sangking senangnya," bisik Sofia pada Rosse.
"Idemu benar-benar bagus membuat ia berdandan seperti itu. Aku rasa mereka akan menjadi pemenang dari peragaan pasangan kostum terimut."
"Dasar Rin! Dia langsung lupa sama kita. Bagaimana ini hanya kita yang belum punya pasangan," kata Nic. Ketika ia berbalik... Ternyata ia baru sadar kalau Rosse sudah merangkul tangan Evan sedangkan Sofia merangkul tangan Kevin. "Kurasa hanya aku. Kalian berdua ternyata sudah mengikat si kembar."
"Nic, bagaimana dengan Gerry?" tunjuk Evan pada pria yang menggunakan kostum prekenstain___
Pria itu terlihat sedang berusaha mengajak seseorang namun beberapa kali di tolak karna sudah memiliki pasangan.
"Sikutu buku? Hah... Baiklah," Nic menghela nafas panjang lalu ia berjalan menghampiri Gerry. "Gerry, Gerry teman sekelasku," Nic langsung merangkul bahu Garry yang membuat pria itu hampir terjatuh. Nic membetukan kacamata Gerry yang miring. "Kau sudah punya pasangan?"
"Be, be, belum," jawab Gerry gugup. Tubuhnya masih sedikit gemetar karna terkejut.
"Bagus. Kau jadi pasanganku," Nic menarik tangan Gerry dan menyeretnya masuk ke aula tempat pesta berlangsung.
"Hahaha..."
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Pesta dimulai dengan sangat meria. Musik diputar dengan volume tinggi sampai untuk berbicara saja sulit. Ruangan yang kami hias siang tadi jauh lebih menarik melihatnya dikalah malam hari. Lentera lamu bertebaran disetiap sudut ruangan. Kami menari bersama dengan kostum berbeda-beda di bawah cahaya lampu warna-warni.di kerumunan semua orang ini aku tidak menemukan teman-temanku. Kemana mereka? Tidak mungkin belum masuk, kan?
"Kau cari siapa?" tanya Perchye ketika melihatku mencari seseorang.
"Ak, tidak. Aku hanya mencari teman-temanku."
"Jangan khawatir. Mereka pasti ada disekitar sini. Em... Stt..." tiba-tiba Perchye memejamkan matanya seperyi menahan sakit. Kerigat kecil muncul di dahinya.
"Perchye, kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir melihatnya begitu.
"Tidak, tidak apa-apa."
Perchye memengangi wajahnya sebelah kiri sampai menutupi sebelah matanya. Sedangkan mata kanannya seperti bersinar atau hanya perasaanku saja?
"Aku ke toilet dulu."
"Per...chye," aku belum selesai bicara ia sudah lari meninggalkanku sendirian ditengah-tengah pesta. Ada yang aneh dengannya, apa ia sakit? Tapi kenapa ia pergi ke arah yang berlawanan dengan toilet? Hal ini membuatku penasaran lantas aku pergi mengikutinya.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
Duar! ! !
Terdengar suara ledakan yang sangat keras berasal sayap kanan sekolah. Sangking kuatnya sampai membuat beberapa hiasan Halloween yang digantung berguncang. Suara ledakan itu membuat semua siswa/siswi panik berhamburan keluar dari ruang aula. Guru dan stap penyelengara pesta mencoba menenangkan para siswa/siswi yang panik. Sebagian guru pergi ke sumber ledakan untuk memeriksa apa yang terjadi disana.
"Apa yang terjadi?" tanya Rosse panik ketika mendengar suara itu.
"Tidak tahu. Sebaiknya kita keluar dari sini," usul Kevin.
"Kalian duluan saja. Aku mau mencari Rin," teriak Sofia yang telah berlari menerobos kerumunan.
"Tunggu Sofia, aku ikut," Rosse mengejar Sofia sebelum menghilang.
"Sial," gerutu Evan sambil menyusul mereka bersama dengan Kevin.
"Nah, pasanganku yang manis. Kau keluarlah dulu menyelamatkan diri, aku harus mencari teman-temanku," kata Nic menepuk pipi Gerry gemas. Nic membetulkan kacamata Gerry dan menutup mulutnya yang menganga. "Sampai jumpa lagi pasanganku yang manis."
Nic melambaikan tangan Gerry yang mematung disana. Nic berlari menyusul teman-temannya yang lain sebelum ketinggalan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε