
Kriiiiing... Kriiiiing...
Bell terakhir dibunyikan, menandakan sekolah telah usai. Semua murit siap-siap untuk pulang termasuk aku dan Sofia. Tapi sebelum itu, aku harus menyerahkan surat permohonan maaf ini dulu ke meja Mrs. Smith. Terpaksa deh Sofia harus pulang duluan. Lagi pula ia tidak mau menemaniku. Sampai di ruang Mrs. Smith, aku mendapati ia tidak ada disana. Aku meletakan surat itu di mejanya dan berlalu pergi. Di depan pintu sekolah, aku lihat Perchye berdiri disana. Pandangan kami bertemu ketika ia menoleh padaku.
"Hai, Sherina," ia terlihat gugup. "Kau... Ada kegiatan akhir pekan ini?"
Aku cukup terkejut mendengarnya. "Tidak ada. Kenapa?"
"Aku... Aku... Apa kau mau keluar bersamaku minggu nanti?" katanya tanpa melirik padaku.
Kali ini aku lebih terkejut lagi. Apa yang barusan aku dengar? Apa ia sedang mengajakku berkencan? "Boleh," jawabku tampa sadar.
"Benarkah. Oh, maksudku sampai jumpa minggu depan," ia berlalu pergi.
"Sampai jumpa," aku baru sadar ketika ia sudah hilang dihadapanku. Apa ini mimpi? Aku tidak menyangka ia mengajakku berkencan. Aku sangat bahagia. Sepanjang jalan pulang hatiku bernyanyi-nyanyi tidak sabar menunggu akhir pekan tiba.
...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...
"O... Apa ini?" ia mengambil beberapa lembaran kertas yang muncul tiba-tiba di mejanya. Ia melihat setiap lembaran kertas itu sampai pada lembaran terakhir yang ternyata berisi pesan.
"Maaf hanya ini yang dapat aku selesaikan hari ini. Selebihnya aku akan menyelesaikan malam nanti dan menyerakannya besok," Sherina.
"Dasar, gadis satu ini."
...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang pertama ΩΩΩΩ...
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Aku mulai bersiap diri. Hampir 3 jam aku memili pakaian yang cocok, tapi pilihanku malah kembali ke setelan pertama kali aku coba. Kaos putih dan celana panjang hitam, tas selempang merah merah, sepatu putih. Rambut aku kuncir kuda ditambah topi sebagai penghalang sinar matahari. Untuk riasan aku hanya memakai riasan tipis karna tujuan hari ini adalah taman hiburan kota. Aku menyemprotkan sedikit parfum ketubuh sebagai penyegar.
Aku berangkat menggunakan transportasi umum menuju tempat pertemuan. Butuh waktu kurang lebih 1 ½ jam untuk sampai disana. Di depan pintu gerbang taman hiburan, aku lihat ia sedang menungguku. Kemeja biru tua dipadukan dengan jahitan biru muda, celana panjang abu-abu dan sepatu putih. Rambut coklat yang rapi kini acak-acakan ditiup angin. Wajah putih berseri dengan mata tajam itu, dari jarak ratusan meterpun aku masih dapat mengenalinya.
Aku turun dari bus, berjalan menghampirinya. Ketika ia melihatku, ia sedikit terpaku. Ketika aku menyapahnya barulah ia sadar kalau aku sudah berdiri di depannya.
"Oh... E... Kau cantik sekali hari ini " ia salah tingkah sambil memalingkan muka. Telinganya yang putih kini sudah merah.
Aku tersenyum. Dia sesikit lucu kalau malu-malu. "Jadi kita disini...?" aku tidak melanjutkan kalimatku.
"Oh... Benar. Aku sudah memesan tiket, ayok masuk," Perchye menarik tanganku masuk ke taman hiburan.
Taman hiburan yang ramai. Ini baru pertama kalinya aku ke tempat seramai ini sejak hilang ingatan. Semua kalangan ada disini, tua, muda, para orang tua dengan anak-anak mereka, remaja, pasangan atau sekelompok teman. Semuanya menikmati berbagai hal yang ditawarkan dan menarik perhatian. Aku dan Perchye memulai semuanya dari wahana-wahana permainan ringan. Dilanjutkan dengan permainan berhadiah dan kesempatan. Perchye sangat pandai membidik, hadiah beruang berhasil didapat. Istirahat sebentar di kafe sambil mengisi tenaga dengan kudapan manis. Lanjut berfoto ria dispot-spot populer. Ini jadi hari sempurna sampai...
"Tada... Sekarang kita akan mencoba permainan Rollercoaster." kata Perchye dengan senyum lebar.
"Roll... Rollercoaster?! Kau yakin kita akan menaiki benda itu?" aku mundur perlahan dan tubuhku mulai gemetar. Baru mendengar jeritan-jeritan dari penumpang yang berputar-putar diatas rell dengan kecepatan tinggi membuatku takut.
"Jangan takut, ada aku. Kau bisa meggegam tanganku selama wahana berlangsung," Perchye menarik tanganku sampai gerbong wahana.
Aku berusaha menolak tapi Perchye berhasil menarikku masuk ke gerbong wahana itu. Kami mengambil tempat diurutan ketiga dari depan. Sabuk pengaman dikencangkan, perlahan-lahan gerbong ini mulai bergerak. Aku sudah menutup mataku. Aku merasa rell didepan semakin menanjak dan tiba-tiba menukik tajam ke bawah, meliuk-liuk, berputar secara spiral, naik, turun, berputar lagi secara bergantian. Teriakan dari penumpang lain terdengar sama ditelingaku.
Sepanjang perjalanan aku hanya menutup mata, tidak sanggup melihat. Aku ikut beteriak sekeras yang aku bisa. Tanganku terus saja menggegam tangan Perchye, tidak melepaskanya sama sekali dari awal mulai permainan, malah semakin kuat mencengkramnya. Beberapa saat kemudian, angin yang kencang kini perlahan-lahan tenang, laju gerbongpun mulai berkurang dan akhirnya berhenti. Tapi aku tetap memejamkan mataku, tubuhku gemetar hebat dan rasanya seperti masih berputar-putar.
"Rin, sekarang wahananya sudah berhenti," Perchye menepuk pundakku.
"Kau yakin? Kenapa aku masih merasa berputar?"
"Sebaiknya kau buka matamu dulu dan lihat sendiri."
Aku membuka mata perlahan, kulihat kami sudah berada ke tempat dimana terakhir kali aku lihat. "Kita sudah berhenti?"
"Iya, kah bisa melepaskan gegamanmu."
"Oh, maaf maaf aku tidak bermaksud... Apa aku menyakitimu?" aku pasti menyakitinya, aku mencengkram tangannya kuat sekali.
"Aawww... Tenagamu kuat juga," ia mengelus pergelangan tanganya yang sakit.
"Maaf."
"Apa sepanjang jalan permainan tadi kau tidak membuka matamu?"
"Aku tida melihat apapun."
"Tidak mau!" aku menarik Perchye menjauh jadi tempat mengerikan itu.
Di taman, aku menyandarkan diriku dikursi yang tersedia disana. Aku mengatur nafasku perlahan menenangkan tubuhku. Rasa mula menghampiriku sendari tadi, mencoba mengeluarkan semua isi perutku. Perchye pergi membeli minuman tapi sudah 5 menit berlalu, ia tidak kunjung kembali.
"Hai manis. Sendirian?" entah dari mana datangnya, seorang pria tiba-riba sudah duduk disampingku.
"?" aku bergeser sedikit menjauh darinya. Tampa diduga ternyata ia juga ikut bergeser sampai bahu kami bersentuhan. Repleks aku langsung berdiri dan hendak pergi, namun tanganku ditahan olehnya.
"Jangan pergi dulu. Aku cuman mau kenalan."
"Maaf temanku akan segerah kembali."
"Tidak apa, sambil menunggu kita ngobrol dulu," tanganya menarikku.
Pria ini cari mati! Aku mengepalkan tanganku hendak menonjok wajah menjijikannya, namun tak disangkah ia berhasil menahan seranganku. Aku sedikit terkejut.
"Wah... Wah... Gadis kecil ini galak juga."
Aku tidak bisa menarik kedua atau salah satu tanganku. Siapa pria ini? "Lepaskan aku!"
"Seorang gadis jangan galak-galak dong. Nanti tidak bisa menikah loh," pria brengsek ini malah mencium punggung tanganku.
Aku masih berusaha menarik tanganku, tetap tidak bisa cengkramannya kuat sekali. Aaaaaa...! Menyebalkan!!!
"Beraninya kau mencium tangan kekasihku!!"
Perchye tiba-tiba muncul dan menonjok wajah pria itu. Hal hasil pria itu terpental ke tanah. Ia mengusap bibirnya yang mengalirkan darah. Aku tidak menyangka ternyata Perchye kuat juga. Tidak! Bukan itu, yang membuatku kaget adalah kata-katanya barusan. Apa ia baru saja menyebutku kekasihnya? O... Hati ini sungguh gembira. Wajahku mungkin memerah saat itu. Aku benar-benar malu, apa ia melihatku tersipu seperti ini? Wajahnya membuatku terpesona.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Perchye padaku yang mematung.
"Ha...? Aku... Aku tidak apa-apa," jawabku ketika sadar dari lamunan.
"Tidak aku sangka akan bertemu denganmu. Gadis manis jangan merindukanku, aku akan kembali," pria itu memberi kiss bye dan berlalu pergi dengan cepat.
"Coba saja kembali! Aku pasti akan menghajarmu!!" bentak Perchye sambil mengepalkan tinjunya.
"Sudahlah jangan perhitungan dengan orang bodoh," aku mencoba meredakan amarah Perchye, sepertinya berhasil.
"Hm! Aku akan melepaskannya kali ini. Aku pasti mengigat wajahmu! Kalau sampai bertemu... Jangan harap bisa lolos!!" kata Perchye seperti anak kecil.
"Tapi dari kata-katanya tadi sepertinya ia mengenalmu?"
"Benarkah. Aku... Aku tidak memperhatikan. Salah dengar kali."
"Apa benar? Aku yakin pria tadi mengatakannya dengan sangat lantang," kataku sedikit ingin tahu dan mulai menggodanya.
"Eh... Sebaiknya lupakan masalah barusan. Bagaimana kalau lanjutkan menikmati taman hiburan ini?" ia mencobah menghindar dengan cara mengalihkan pembicaraan
Sepertinya ada yang ia sembunyikan? "Baiklah jika kau tidak mau memberitahuku. Aku tidak akan bertanya lagi, tapi kali ini aku yang memilih permainannya."
"Aku punya pirasat buruk."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε