My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Terkadang aku benci diriku



"Ha... Jadi kau sudah mendengar semuanya? Aku harap kau tidak memberitahu kak Cia apalagi Hanna soal tadi," ujar Rian dengan wajah datar.


"Ayok lah temanku, aku tidak mungkin melakukan itu." Tobi berpindah ke arah Rian dan merangkul bahunya. "Tapi kenapa kau tidak memberitahu ku sejak awal kalau kau memiliki kisah yang begitu mengharukan?"


"Tidak ada gunanya memberitahu mu."


"Kita teman sejak masuk sekolah. Sudah seharusnya kita berbagi suka dan duka..."


"Tobi," potongku yang membuat mereka menoleh. "Kalian teman sejak masuk sekolah kan? Jadi apa kau berpikiran sama dengan Rian atau memiliki pendapat lain tentang aku?"


"Apa maksudmu Rin?" tanya Tobi balik.


"Kau mengerti jelas maksudku."


"Dasar serigala kecil yang bodoh. Kenapa kau begitu takut kalau kami akan menjahuimu?"


"Wajar saja kan? Aku bahkan membenci diriku sendiri," aku segera mengalihkan pandang.


"Aku ingin tanya satu hal padamu. Apa kau mau menggigitku?"


"Pertanyaan aneh apa itu? Tentu saja Tidak! Mana mungkin aku mau menggigitmu! Bahkan jika kau musuhku, aku tidak ada niat melakukannya!" tegasku.


"Kalau begitu apa yang kau takutkan?"


Aku terdiam, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Walau mereka telah berkata demikian tapi tetap saja hatiku di selimuti perasaan ini. Memang benar aku tidak ada niat melakukan hal gila itu, namun aku bisa saja hilang kendali. Kekuatan ini, kemampuan manusia serigala mengalir dalam darahku, aku masih belum dapat mengendalikannya. Seperti di ruang kedai tadi, aku bahkan hampir berubah. Telat sedikit saja aku tidak dapat membanyangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku masih beruntung memiliki jam tangan yang dapat menekan kekuatanku dan memberi tanda kapan aku harus menjauh. Aku menunduk meratapi lantai, tidak mampu menatap wajah dari mereka berdua. Tidak diduga Rian mendekat lalu menarikku dalam pulukannya. Seketika tubuhku mematung. Tampa sadar air mataku mengalir lagi.


"Sudahlah Rin, jangan kau pikirkan lagi. Biarlah apa yang terjadi disini hanya kita bertiga saja yang tahu. Aku dan Tobi berjanji tidak akan memberitahu siapa pun tentangmu termasuk kak Cia, Hanna dan Rosse, jika memang kau tidak bersedia. Aku merasa semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik untukmu. Kami tidak memaksamu melakukannya."


"Rian! Kau benar-benar curang!! Mengambil kesempatan dalam kesempitan," bentak Tobi.


Rian sontak terkejut dan segera melepaskan pelukannya. Wajahnya seketika memerah. "Ah! Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Aku... Aku cuman mau menenangkanmu. Maafkan aku."


"Belum perna ada yang memperlakukanku seperti ini selain keluargaku dan teman masa kecilku," kataku datar.


"Itu... Itu cuman kesalahpahaman. Harap kau jangan marah," ekpresi wajah Rian terlihat jelas penuh dengan rasa bersalah.


"Rian, terima kasih," kataku sambil tersenyum.


"Kau tidak marah kan?" tanyanya yang cuman aku jawab gelengan.


"Kalian berdua sungguh tidak mengangapku ada. Lihat saja nanti, aku akan mengaduh pada kak Cia," ancam Tobi sambil cemberut. Ia bertingkah seperti anak kecil yang sedang marah.


"Hei, jangan lakukan hal aneh! Aku juga tidak bermaksud begitu," ujar Rian.


"Boleh saja. Tapi aku punya permitaan."


"Apa itu?" tanyaku.


"Dapatkah kau berubah menjadi Serigala disini?"


Aku mengangkat sebelah alisku sambil melirik Tobi. "Berubah menjadi serigala... Maaf, aku belum bisa melakukannya."


"Ha... Sangat disayangkan. Padahal aku ingin sekali melihat perubahan manusia serigala secara langsung. Saat aku tahu kalau kau adalah manusia serigala, itu sungguh sangat membuatku terkejut. Pantas saja tenagamu kuat sekali ketika melawanku," ucap Tobi nampak kecewa.


"Permintaanmu yang aneh. Masa iya kau minta Rin berubah disini," kata Rian.


"Tidak apa-apa kan? E, tapi ngomong-ngomong, apa yang mau kau lakukan pada serigala kecil itu?" bisik Tobi pada Rian. Ia menyembunyikan setengah wajahnya menggunakan tangan agar aku tidak bisa membaca gerak bibir mereka.


"Aku ingat kalau keluarganya sedang mencarinya. Bagaimana kalau kita antar saja serigala ini pulang? Mungkin saja kita bisa dapat sedikit imbalan?" saran Rian sambil ikut berbisik.


"Ide bagus. Kita antar dia seperti mengantarkan hewan peliharaan yang hilang."


"Tapi kau harus mengecek kalung tanda pengenalnya dulu agar kita tahu alamat rumah serigala kecil ini."


Perubahan sikap kedua orang ini cepat sekali. Dalam sekejap aku sudah dibuat jengkel melihat tingkah mereka. Kalian menganggap ku sebagai hewan peliharaan yang hilang. Kalian cari mati ya? "Hei kalian berdua!! Apa kalian lupa kalau malam ini adalah malam bulan purnama? Apa kalian mau bermain kejar dan tangkap?"


"Kemudian lepaskan," sambung Tobi.


"E... Sebaiknya tidak usah. Lebih baik kita kembali," kata Rian sedikit gemetar.


"Ah, iya, iya. Sebaiknya kita kembali. Kita sudah cukup lama disini. Yang lain pasti sedang mencari-cari keberadaan kita," Tobi segera menarik Rian sedikit tergesa-gesa. Tapi ia masih sempat-sempatnya berbisik. "Aku tidak menduga kalau pendengaran manusia serigala itu tajam sekali."


"Iya. Bagaimana kalau kita antar dia lain hari?"


"Aku setuju."


"Kita bisa bermain lain hari, jika kalian mau?" kataku tidak melepaskan senyum di wajahku.


"Tidak ada lain hari!!" teriak mereka sambil berlari menuju tangga.


Aku mengikuti mereka dari belakang. Tidak aku sangkah ternyata mereka benar-benar berlari meninggalkanku. Aku mempercepat langkahku menyusul mereka. Sampai di lantai bawah, kami disambut oleh kak Cia, Hanna dan Rosse yang sudah menunggu kami di ujung tangga. Ekspresi wajah kak Cia cukup menakutkan. Dengan dahi mengkerut, tatapan tajam ia arahkan pada kami sambil berkacak pinggang.


"Dari mana saja kalian bertiga?!" tanya kak Cia dengan nada cukup tinggi.


"Ah, kak Cia. Aku cuman membuntuti mereka berdua yang naik ke atas. Saat itu mereka sedang..." belum selesai Tobi bicara Rian segera menutup mulut Tobi menggunakan tangannya.


"Tobi, aku memperigatkanmu untuk tidak mengatakannya pada kak Cia atau..." bisik Rian dengan sedikit ancaman.


"Tobi, malam masih panjang," sambungku sambil mencubit pingangnya.


"Sepertinya kalian bertiga merahasiakan sesuatu. Jangan-jangan..."


Melihat ekspresi kak Cia membuat aku, Rian dan Tobi bingung. Apa kak Cia mencurigai kami? Aku harap kak Cia tidak berpikiran yang macam-macam. Tiba-tiba kak Cia menarik Rian lantas langsung mendekapnya dalam pelukannya. Rian meronta-ronta mencoba melepaskan diri.


"Apa yang kak Cia lakukan? Lepaskan aku!"


"Aku tahu apa yang kalian sembunyikan. Maaf saja nona muda tapi kau juga tidak boleh seenaknya."


"...?" aku semakin bingung apa yang kak Cia katakan. Aku berpikir sejenak untuk memahami maksud kak Cia. Oho... Aku mengerti.


"Kak Cia bisa bicara lebih jelas?" tanya Rosse.


"Oh, tentu saja. Memangnya apalagi yang bisa dilakukan pria dan wanita di tempat sepih? Aku tebak Tobi berhasil menangkap basa mereka berdua. Lihat saja tadi, bukankah Rian dan Rin berusaha membungkam Tobi agar tidak mengungkapkan kebenarannya," jelas kak Cia dengan imajinasi tinggi.


"Kak Cia, kau salah paham. Aku dan Rin tidak melakukan apapun seperti apa yang kak Cia pikirkan," kata Rian mencoba membela diri. Ia berhasil melepaskan diri dari pelukan kak Cia.


"Kak Cia kau sudah tahukan kalau aku ini nona muda dari keluarga terpandang. Jika aku menginginkan sesuatu maka aku akan mendapatkannya. Lagi pula kakak Rian ini adalah tipeku," kataku dengan nada mengoda. Aku meletakan jari telunjuku di bibir sambil menyipitkan sebelah mataku.


"Kau balas dendam Rin?" ujar Rian pelan.


"Ayoklah sayang kau harus bertagung jawab atas apa yang kau lakukan tadi," aku semakin mengodanya dengan bertingkah imut dan kasihan. Tapi, sedang asik-asiknya berbuat nakal tiba-tiba Rosse melemparkan kain lap yang tepat mengenai wajahku. "Rosse..."


"Jangan gunakan ekpresi itu lagi! Itu benar-benar menjijikan!"


"Cuman kau saja yang berani melemparkan kain lap ini ke wajahku!" aku melemparkan kembali kain lap itu namun Rosse berhasil menghindar.


"Aku merasa terhormat. Makanya kalau becanda itu jangan kelewatan."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε