
Mereka berempat memasuki hutan dengan mengandalkan pencahayaan bulan purnama dan juga bola cahaya milik Alan tadi. Mereka sengaja tidak berpencar terlalu jauh antara satu sama lain agar lebih aman dan mengurangi resiko yang lain ikut tersesat. Sudah lebih setengah jam menyelusuri hutan mereka tidak menemukan keberadaan Emely. Di tengah hampir putus asa mencari, Derek menemukan sesuatu yang berkilau memantulkan sinar berwarna hijau sedikit terkubur di dalam tanah. Derek memungut benda itu yang ternyata sebuah jepit rambut.
"Cloey! Tori! Alan! Kemari, coba lihat ini," panggil Derek pada yang lain. Mendengar itu mereka bergegas menghampiri.
"Ada apa Derek?" tanya Cloey begitu sampai.
"Kau mengenali jepit rambut ini?" Derek menyodorkan jepit rambut itu pada Cloey.
"Ini terlihat seperti punya Emely."
"Itu berarti ia perna ada di sini," kata Derek menyimpulkan.
"Dan dia tidak sendiri. Ada bekas jejak sepatu di tanah," Tori berjongkok memperhatikan jejak sepatu itu. "Ada kurang lebih empat orang. Derek perhatikan ini," tunjuk Tori pada bekas jejak sepatu yang masih utuh.
Derek berjongkok di depan Tori memperhatikan apa yang tepat di tunjuk Tori. "Ada lambang sesuatu tepat di telapak sepatu mereka."
"Lambang apa itu? Jangan katakan mereka berasal dari organisasi gila itu," kata Cloey mengharapkan sesuatu yang sangat tidak dinginkan.
"Sayangnya itu memang mereka," kata Derek tapi tidak langsung berdiri.
"Bukankah laboratorium mereka sudah hancur. Kenapa masih ada yang tersisa di antara mereka?" Kata Alan mengingat-ingat.
"Tidak tahu. Tapi mereka sepertinya minta dihajar," Derek melepaskan bajunya dan di lemparkan begitu saja ke wajah Alan. Alan sedikit kesal karna itu. Secara perlahan Derek merubah wujudnya menjadi serigala hitam.
"Apa yang mau kau lakukan? Apa kau mau menerobos markas mereka begitu saja?" tanya Cloey menebak pikiran Derek.
"Grr....!" serigai pelan Derek yang kini telah dalam wujud serigala.
"Aku ikut," kata Cloey membuat Derek menatap tajam padanya.
"Goarr...!" seringaian itu berubah menjadi geraman kasar. Derek tidak menyetujui Cloey ikut dengannya.
"Tidak Derek, biarkan Cloey ikut denganmu. Aku dan Tori akan kembali memberitahu ayah soal ini. Kami akan menyusul kalian menggunakan mobil," ujar Alan.
"Iya, Derek. Jangan bertindak gegabah. Kita pasti akan menyelamatkan Emely tapi dengan cara kerja sama. Itu lebih baik dari pada kau sendirian," Kata Tori mendukung perkataan Alan.
Derek tidak memperlihatkan taringnya lagi. Ia cuman memalingkan wajah kesalnya.
"Cloey ambil pin ini. Itu akan memungkinkan ku menemukan keberadaan kalian," Alan memberikan sebuah pin putih pada Cloey.
Cloey menerima pin itu dan langsung mengenakannya. Derek mempersilakan Cloey naik ke punggung nya. Serasa Cloey sudah duduk seimbang Derek mulai berlari memasuki hutan lebih dalam mengikuti jejak aroma Emely dari jepit rambut itu. Sejam lebih Derek berlari akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan dengan pagar besi mengelilingi. Ada dua penjaga bersenjata tempat di depan pintu.
"Bagaimana caranya kita masuk kesana?" tanya Cloey.
Derek menoleh kiri dan kanan lalu mencari cara untuk masuk ke sana. Lalu ia melihat ke atas seperti sedang mengukur tinggi pagar itu, apakah sanggup ia melompatinya bersama Cloey.
"Grr..." Derek menggeram pelan pada Cloey meminta ia agar berpengangan erat.
"Ada apa Derek?" Cloey sama sekali tidak mengerti maksud Derek.
Lima menit kemudian, Cloey dan Derek melihat seseorang keluar dari pintu belakang. Orang tersebut berjalan mendekati mobil dan tidak menyadari keberadaan mereka. Derek bersiap menyerang orang tersebut dari belakang. Satu ayunan cakar besar itu, orang tersebut tewas seketika tampa sempat berteriak sedikitpun. Cloey bergegas merogoh kocek di balik jas orang tersebut mencoba mencari kartu pengenal miliknya. Itu berguna sebagai kunci untuk membuka pintu masuk dan juga membuka berbagai ruangan yang ada di dalam bangunan tersebut. Setelah menemukannya, mereka segera melangkah masuk ke bangunan yang tidak terlalu besar itu.
Di dalam mereka berusaha sebisa mungkin menghindari seriap orang yang ada. Secara hati-hati Cloey memeriksa setiap ruangan untuk mencari Emely. Hampir semua ruangan yang dibuka Cloey kosong melompong, tidak ada satupun orang di dalamnya dan bahkan barang sekali pun. Keadaan semakin aneh begitu mereka mendapati setiap lorong menjadi sepih. Kemana semua orang tadi? Apa mereka semua sudah kembali istirahat? Mengingat saat ini masih dini hari.
"Grrr.....!!"
Tiba-tiba Derek menggeram ganas sambil menyerigai memperlihatkan semua taringnya. Telinganya bergerak seperti mendengar sesuatu. Cloey yang melihat itu seketika siaga. Apa mereka ketahuan? Tapi bagaimana bisa? Mata Cloey tertuju pada CCTV tepat diatas menyorot mereka. Aah! Mereka terlalu ceroboh. Jadi selama ini mereka sudah ketahuan. Geraman Derek semakin ganas begitu mendengar suara serapan langkah kaki semakin dekat. Cloey dikejutkan dengan segerombolan orang bersenjata datang dari berbagai sisi mengepung mereka sambil mengacungkan senjata mereka.
"Jangan melawan! Ikut kami dengan patuh," ujar salah satu dari mereka.
Cloey mengelus pelan kepala Derek mencoba menenangkan nya. Cloey menyarankan untuk mengikuti apa mau mereka dulu, nanti baru pikirkan cara membereskan mereka. Derek menekan niatnya untuk menyerang. Ia mengikuti apa yang mau direncanakan Cloey.
"Ayok jalan!" perintah seseorang dibelakang mereka sambil mendorong Cloey menggunakan sejatanya.
Melihat itu Derek tidak Terima. Ia meraum marah memperlihatkan semua taringnya pada orang tersebut. Semua orang seketika mengarahkan senjata mereka pada Derek. Cloey segera memeluk Derek lalu berbisik.
"Tenangkan dirimu. Aku tidak Apa-apa."
"Grr..." Derek masih menyeringai dengan tatapan tajam membunuhnya.
Mereka di tuntun menuju suatu ruangan utama dari bangunan tersebut. Ruangan itu terbagi dua, yang mereka masuki saat ini adalah ruangan kecil dengan berbagai peralatan bertombol yang entah apa fungsinya dan satu lagi ruangan besar tampa apa-apa yang terpisahkan dinding kaca. Ada seorang pria diruangan tersebut yang langsung berbalik begitu Cloey dan Derek melangkah masuk.
"Ah... Gadis kesayanganku. Selamat datang kembali," kata Pria itu sambil tersenyum.
"Professor Verno?!" kata Cloey terkejut begitu mengenal siapa pria tersebut.
"Iya, sayang. Ini aku."
"Kau... Kau masih hidup. Ba, bagaimana bisa kau selamat dari ledakan itu?" tanya Cloey terbata-bata.
"Tidak sebagian diriku, sayang. Aku harus kehilangan tangan kananku akibat ulah kalian," Professor Verno memperlihatkan tangan kanannya yang kini telah berganti tangan mekanik.
"Apa yang kau inginkan dari kami?!!" bentak Cloey.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε