
"Biarpun tuan menginginkan nyawaku, aku akan memberikannya," dengan ekspresi menggoda, Sindy melepaskan dua kancing kemejanya lalu menarik turun sebelah krahnya sampai memperlihatkan bahu serta belahan dadanya.
"Apa kau mencoba menggodaku?" pandangan mata Lucas kini tertuju pada belahan dada Sindy.
"Dinodahi tuanpun aku mau," Sindy merangkul leher Lucas menggunakan kedua tangannya.
"Apa kau yakin? Aku takut kau tidak akan bisa bertahan."
"Belum dicoba belum tahu."
"Kau benar-benar nakal. Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar padamu."
Lucas merangkulkan tangannya di pinggang Sindy lalu menariknya sampai tubuh mereka bersentuhan. Tangannya yang dingin perlahan-lahan menjalar turun ke pinggul Sindy. Rasa dingin yang menusuk membuat tubuh Sindy merasakan ketidaknyamanan yang menyiksa.
"Ahh... Tuan."
"Kau yang memintanya. Jangan coba-coba memohon ampun."
Lucas menggedong Sindy lalu menghempaskan tubuh Sindy ke atas tempat tidur yang empuk. Ia melepaskan jubahnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Setelah itu ia merangkak naik ke atas tubuh Sindy. Ia kini menjatuhkan seluruh berat badannya menghimpit tubuh Sindy. Dengan tangannya yang dingin Lucas kembali membelai leher Sindy dan sesekali memberi kecupan disana.
Untuk pertama kalinya Sindy merasakan ketidaknyamanan yang menyiksa namun ia ingin lebih. Ia mengigit bibi bawahnya menahan erangan yang hendak keluar dari mulutnya. Melihat budak darahnya tersiksa membuat Lucas semakin tertarik ingin bermain. Tangannya mulai memainkan gumpalan keyal dan lembut yang ada di balik helaian kain tersebut.
"AHH...." suara tersebut berhasil lolos. Dengan cepat Sindy menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.
"Berteriaklah semau mu. Aku ingin mendengar suara indah mu," bisik Lucas di telinga Sindy.
"Maaf, ini pengaman pertamaku."
Lucas tersenyum begitu mendengarnya. "Sudah siap?"
"Iya," jawab Sindy dengan anggukan.
"Aku lebih suka melakukanya sambil minum. Jadi..." Lucas membuka mulutnya, kemudian menancapkan taringnya ke leher Sindy.
"AAAAH ! ! !" teriak Sindy begitu sesuatu yang tajam menusuk lehernya.
"Yang mulia putra mahkota!"
Seorang pengawal tiba-tiba menerobos masuk begitu saja ke kamar Lucas. Ia tersentak kaget melihat Lucas dan budak darahnya... Ia datang pada waktu yang salah. Ini sungguh masalah besar. Lucas menarik taringnya dari leher Sindy lalu melirik tajam pada pengawal tersebut.
"Ada perlu apa?"
"Ma, maafkan saya yang mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu," pengawal tersebut seketika bersujud minta maaf. "Saya disini hanya ingin menyampaikan keadaan pangeran."
"Ada apa dengan adikku?"
"Disaat seorang pelayan hendak mengantarkan pakaian ke kamar pangeran, ia menemukan pangeran sudah terbaring di lantai tidak sadarkan diri. Dokter sekarang sedang memeriksa kondisi pangeran," jelas pengawal tersebut dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ini aneh. Aku belum perna melihat Onoval jatuh sakit selama ini. Pasti ada yang tidak beres. Aku harus memeriksanya sekarang," Lucas bangkit dari tubuh Sindy. "Nah.. Sayang, maafkan aku. Aku harus melihat kondisi adikku dulu. Kita lanjutkan lain kali saja ya."
"Aku benar-benar kecewa. Yang mulia, boleh kah?"
Sindy melirik tajam pada pengawal yang masih bersujud itu. Karna belum mendapat perintah untuk bangkit, tentunya ia tidak diperbolehkan berdiri sama sekali. Lucas mengikuti arah tatapan Sindy tersebut.
"Silakan," kata Lucas sebelum menghilang.
Setelah mendapat persetujuan dari Lucas, Sindy menebar seringai di wajahnya. "Hei, kau. Berdirilah."
Mendengar perintah tersebut, pengawal itu mengangkat wajahnya lalu lekas berdiri. Ia baru menyadari kalau tinggal Sindy seorang saja dalam kamar itu.
"Berani sekali kau menggagu ku dan yang mulia!"
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud..."
"Tak apa," potong Sindy. "Sekarang aku haus. Bisa tolong ambilkan sebotol anggur terbaik kalian?"
"Baik. Saya akan menjalankan perintah dari nona."
Bzzzzt...
Pengawal tersebut seketika tersungkur ke lantai bersimbah darah disaat baru hendak berbalik. Dari balik jemari Sindy masih tersisa percikkan kilatan listrik. Dalam persekian detik sebelumnya Sindy telah menembakan anak panah bertegangan listrik tinggi yang langsung menembus jantung pengawal tersebut. Tak ayal pengawal tersebut tewas seketika. Perlahan tubuhnya berubah menjadi abu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaannya?" tanya Lucas pada dokter yang memeriksa kondisi Onoval.
"Persis seperti yang saya tebak. Pangeran baru saja kehilangan jiwa dari budak darahnya," jelas dokter tersebut.
"Budak darah?" raut wajah Lucas seketika bingung.
"Iya. Seperti yang kita tahu, lenyapnya jiwa dari seorang budak darah dapat berdampak pada kondisi tuannya yang menurun secara tiba-tiba. Namun yang mulia tidak perlu khawatir. Keadaan pangeran saat ini sudah lebih baik. Biarkan ia beristirahat, maka dia akan baik-baik saja. Saya izin permisi yang mulia."
"Iya, silakan."
Dokter tersebut berlalu pergi. Lucas menghampiri Onoval lalu berdiri tepat disamping tempat tidur adiknya itu.
"Bagaimana bisa kau memiliki seorang budak darah? Aku bahkan tidak perna melihatmu minum darah kecuali darah dari gadis yang kau cintai itu," pikir Lucas sambil menatap wajah Onoval. "Tunggu dulu. Jangan-jangan gadis serigala itu adalah budak darahmu. Semuanya jadi masuk akal. Jiwa gadis itu baru saja lenyap dan sungguh sangat kebetulan tiba-tiba kau pingsan. Itu berarti..."
"Bagaimana keadaan pangeran yang mulia?" tanya Sindy yang muncul dibelakang Lucas. "Saya mengkhawatirkannya jadi saya segera datang kemari."
"Ia baru saja kehilangan jiwa dari budak darahnya," jelas Lucas.
"Hah? Bukankah pangeran tidak perna minum darah? Bagaimana bisa ia memiliki seorang budak darah?" tanya Sindy bingung.
"Coba pikir baik-baik. Onoval tiba-tiba tidak sadarkan diri disaat kau bilang telah berhasil melenyapkan jiwa gadis tersebut."
"Maksud tuan, Rin adalah budak darah dari pangeran?" tanya Sindy memastikan.
"Iya"
"Jadi, sewaktu di Gladiator malam itu..."
"Tepat sekali. Aku semakin penasaran, kekuatan apa yang dimiliki adikku ini. Aku harap ia tidak akan menjadi penghalang ku dalam mencapai tujuanku."
"Itu tidak akan terjadi. Pangeran sangat membenci manusia serigala. Ia pasti mendukung tujuan tuanku. Lagi pula jiwa Rin juga sudah menghilang. Jadi tuanku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"Aku harap apa yang kau katakan benar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kakak!!! Hosh... Hosh..." teriak Sherina sampai terduduk. Ia seketika ling-lung begitu melihat sekelilingnya.
Ruang kamar yang begitu ia kenal berhiaskan stiker bintang di langit-langitnya. Pandangan Sherina beralih melirik telapak tangannya. Kemudian ia menepuk-nepuk pipinya dan mencubitnya. Terasa sakit. Itu berarti semua ini bukanlah mimpi. Jiwanya sudah menyesuaikan diri dengan tubuh Keyla. Dengan kata lain, jiwa Keyla benar-benar telah menghilang sepenuhnya.
"Selamat datang, sayang," sapa Derek yang berjalan menghampiri.
"A, ayah?! Ti, tidak. Aku tidak mau seperti ini! Kembalilah seperti sediakala!! Hiks... Hiks... Kembalikan kakak ku!!" teriak Sherina diiringi tangisan.
"Kakak? Ternyata kalian sudah sedekat itu."
"Ini semua salahku. Aku tidak mau hidup! Lebih baik aku mati saja. Aku bersedia menukar jiwaku agar kakak dapat kembali. Hiks... Hiks..." Sherina terus menyalahkan dirinya atas kepergian Keyla. Ia mencengkram rambutnya dengan kesal.
"Sherina, tenangkan dirimu. Dia tidak akan kembali. Jiwanya benar-benar telah menghilang," Derek memeluk putrinya itu mencoba menenangkan hati yang bersalah.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε