My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Musim semi lebih awal



"Itu dulu, sekarang berbeda. Semuanya dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sama halnya dengan musim di luar sana," aku melirik keluar jendela yang masih di selimuti hawa dingin. "Hari ini masih terasa beku namun sekitar seminggu kedepan udara akan mulai terasa hangat, semua bunga akan bermekaran, hewan-hewan kecil akan kembali aktif menyambut musim semi, langit biru cerah berhiaskan gumpalan awan putih dan tanah yang hangat disaat kau menginjaknya. Dari semua musin, musin semi lah yang paling aku suka. Andai aku bisa menikmati musim semi lebih awal."


"Tentu saja bisa," kata Sofia membuat kami menoleh padanya. "Bagaimana kalau kita menciptakan musim semi dalam ruangan?"


"Caranya?" tanya Lisa.


"Magic."


Sofia merentangkan kedua tangannya. Muncul partikel cahaya bermain di antara jari-jarinya. Kami menebar senyum antara satu sama lain.


Aku, Sofia dan Lisa segera menyiapkan semua bahan dan peralatan yang kami perlukan untuk menciptakan musim semi dalam ruangan. Rosse ingin sekali membantu tapi tubuhnya belum cukup memungkinkan. Lebih baik ia melihati kami saja dan memberi arahan. Ia saat ini sedang duduk di kursi roda. Kami memilih ruang santai yang ada di lantai dua. Ruangan yang luas dengan dinding kaca yang langsung menghadap halaman tengah benar-benar menjadi pilihan terbaik. Aku dan Lisa menyiapkan pot-pot bunga yang disusun sedemikian rupa di setiap sudut ruangan. Sedangkan Sofia, dengan menggunakan mantra sihirnya ia mempercepat tubuh kembang bunga-bunga tersebut sampai bermekaran.


["Selamat pagi. Hoam..." sapa Sherina yang baru bangun. Raut wajahnya terlihat masih mengantuk. Ia keluar dari alam bawah sadar lalu memperhatikan apa yang sedang kami lakukan.]


["Apanya yang pagi? Sudah siang ini."]


["Siang? Aku kira ini masih jam lima pagi."]


["Kau sepertinya masih sangat ngatuk. Lebih baik kau istirahat lagi saja," saranku.]


["Tidak. Aku sudah tertidur cukup lama," Sherina meregangkan tubuhnya sambil kembali menguap.]


["Kau sudah semakin sering terjaga. Biasanya kau bisa tidur lebih dari 18 jam sehari."]


["Aku juga tidak tahu mengapa."]


["Mungkin jiwamu sedang menyesuaikan diri dengan tubuhku."]


["Bisa jadi. Bahkan aku pun sudah memiliki mimpiku sendiri. Mimpiku bukan lagi dari ingatanmu."]


["Kalau soal itu sih aku juga sudah tahu."]


["Apa kau juga tahu alasannya?"]


["Tidak."]


["Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Sherina kemudian.]


["Kami mau menciptakan musim semi dalam ruangan. Sebenarnya aku ingin sekali menikmati musim semi lebih awal."]


["Kalau cuman ingin menikmati hamparan bunga, kau kan bisa pergi ke alam bawah sadarmu. Iya, walau keadaannya tidak seindah dulu. Tempat itu semakin memprihatinkan. Lebih baik kau mencari tahu apa penyebabnya sebelum terlambat."]


["Aku sudah tahu."]


["Apa?! Kenapa kau tidak memberitahuku? Memangnya apa penyebabnya?"]


[Aku tersenyum pada Sherina. "Tidak ada."]


["Kau mencoba membohongiku?" tatapan tajam ia arahkan padaku.]


["Memang tidak ada. Tempat itu akan pulih dengan sendirinya. Kau jangan khawatir. Percayalah padaku. Alam bawah sadarmu akan berubah menjadi musim semi yang lebih indah dari sebelumnya."]


["Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?"]


["Tidak. Hei, mau bertukar jiwa?" kataku mengalikan pembicaraan.]


["Apa?! Tidak, aku... Aku..."]


["Tidak apa-apa. Ayoklah," bujukku agar ia mau.]


["Em... Baiklah," jawab Sherina ragu-ragu.]


Aku memejamkan mataku untuk bertukar jiwa dengan Sherina. Aku memintanya bertukar jiwa cuman semata agar ia terbiasa berinteraksi bersama Sofia, Lisa, Rosse maupun yang lain nanti. Sherina tidak bisa berterusan gugup bila bertemu dengan mereka. Aku membuka mataku disaat jiwa kami telah bertukar. Aku dalam bentu roh sekarang.


["Astaga?! Kenapa kau mala berubah menjadi serigala?" aku begitu kaget melihat serigala putih dihadapanku.]


["Kenapa tidak? Aku lebih percaya diri dalam wujud seperti ini," Sherina tanpa lebih senang menjadi serigala dari pada menjadi manusia.]


"Kakak? Kenapa kau tiba-tiba berubah?" tanya Lisa yang baru sadar atas kehadiran serigala di dekatnya.


Sherina tidak menjawab. Walaupun ia berbicara juga mereka ridak akan mengerti.


["Bagaimana caranya kau berkomunikasi dengan mereka jika dalam wujud serigala? Ubah wujudmu kembali menjadi manusia!" pintaku padanya.]


["Tidak mau!" tolaknya sambil berlari mengitari ruangan.]


["Sherina...!"]


Aku mengejarnya dengan geram, apa lagi disaat ia dengan sengajanya menodorongku sampai terjatuh. Tidak cuman aku, Sofia dan Lisa juga menjadi korban kejahilan Sherina. Aksi kejar-kejarpun terjadi dan bahkan Sofia menggunakan sihirnya untuk membalas.


"Hah... Kalau seperti ini kapan semuanya akan selesai?" Rosse hanya bisa menghela nafas pasrah.


Interaksi seperti ini juga boleh. Terlihat Sherina sangat senang bermain bersama Sofia dan Rosse. Aku semakin tenang untuk kedepannya. Karna terlalu asik bermain kejar-kejaran, Sherina tidak menyadari kalau ayah masuk ke ruangan ini. Hal hasil Sherina tidak sempat mengerem dan akhirnya menabrak ayah sampai mereka berdua terguling di lantai.


"Rin!"


"Paman Derek!"


"Kalian berdua tidak apa-apa?"


Tanya Sofia dan Lisa sambil bergegas menghampiri ayah dan Sherina dan mencoba membantu mereka. Ibu, paman Alan, bibi Emely, Mia, Patéras, Mitéra dan bibi Marry yang datang bersama ayah sedikit menahan tawa melihat kejadian tersebut.


"Aduuh... Rin, apa-apaan kau ini? Kenapa kau menabrak ayahmu sendiri?" ayah mengusap kepalanya yang sakit karna terbentur.


"Maaf, maafkan aku ayah. Aku tidak sengaja. Ayah tidak apa-apa?" kata Sherina merasa bersalah. Ia sudah bangkit dan terduduk di samping ayahnya.


"Tidak," ayah menerima uluran tangan Patéras yang membantunya berdiri.


"Rin, kenapa kau berubah?" tanya Ibu.


"Eh... Aku..." belum sempat Sherina mencari alasan, Mia menghapirinya dan langsung memeluk kaki Sherina.


"Kakak lucu," katanya sambil membelai lembut bulu putih Sherina dengan gemas.


["Keyla," Sherina menoleh padaku meminta bantuan.]


["Aku sudah memintamu untuk merubah wujudmu tapi kau mala tidak mau. Sekarang kau tidak bisa merubah wujudmu kembali menjadi manusia. Mia pasti ingin bermain bersamamu dalam wujud seperti itu."]


"Apa boleh buat," Sherina dengan pasra membaringkan tubuhnya agar Mia bisa memainkan telinganya.


"Ternyata kalian ada disini. Kami sudah mencari kalian kemana-mana. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya bibi Merry.


"Kami sedang membuat musim semi dalam ruangan," jelas Sofia.


"Musim semi? Kenapa kalian ingin membuatnya? Musim semi kan tinggal seminggu lagi," tanya Mitéra.


"Karna kakak ingin melihat musim semi lebih awal," tunjuk Lisa pada Sherina.


"Apa?!" mendengar itu membuat ayah sedikit tersentak. Ia pasti mengira kalau aku sudah menyadari tentang masalah jiwaku. "Ke, kenapa kau ingin melihat musim semi lebih awal?"


"Apa salahnya dengan itu," jawab Sherina yang memang tidak mengetahui kekhawatiran ayah.


"Memang tidak ada salahnya. Aku juga ingin merasakan musim semi," kata bibi Emely mendukung.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε