
Pulang sekolah. Rosse sudah meminta izin pada kak Cia untuk sore ini, dan dengan cepat kak Cia mengizikannya. Selesai bersiap-siap, kami berangkak menuju pemakaman mengunakan taxi. Pemakaman terletak di luar kota kecil ini. Butuh waktu setengah jam untuk sampai disana setelah meninggalkan kota. Hutan pinus harus dilalui terlebih dahulu. Jembatan dengan sungai kecil terdapat di dalamnya. Selama perjalan aku hanya memandang keluar jendela kaca mobil. Langit sudah menerang dengan menyisakan sedikit awan kelabu. Seperti hutan pada umumnya, aku melihat beberapa binatang kecil yang asik bermain-main dari pohon ke pohon. Tupai dan burung adalah jenis yang paling sering aku lihat.
Sampai di pemakaman luas, pintu gerbang dengan empat pilar menyambut kami. Bibi Marry, Rosse dan aku melangkah memasuki pintu gerbang tersebut. Deretan batu nisan putih berjejer rapih dari 50 m pintu masuk. Aku mengikuti bibi Marry dan Rosse yang berjalan di depanku menelusuri jalan diantara batu-batu nisan. Pemakaman ini begitu sepih dari pengunjung, hanya ada satu dua orang saja. Setidaknya itulah yang mereka lihat. Namun bagiku tempat ini sangat ramai. Hampir sebagian dari makam memiliki penghuninya. Beberapa dari arwah itu cuman berdiri diam menatap batu nisannya sendiri. Ada juga yang menangis, marah, menyesal karna telah menyia-nyiakan hidup mereka. Aku berusaha untuk tidak melihat dan mendengar keluh kesah mereka.
Aku menunduk sambil sesekali melirik arwah-arwah di sekelilingku. Tidak semua arwah berpenampilan seperti asap putih. Diantara meraka ada yang berpenampilan mengerikan. Tubuh penuh darah, luka-luka fatal, tali yang masih melilit leher, tampa salah satu anggota tubuh atau bahkan hancur tak berbentuk dan cara gerak mereka juga aneh. Semua itu masih biasa dari pada dengan salah satu arwah yang sangat mirip seperti manusia bernyawa. Raut wajah tidak sepucat hantu pada umumnya, tidak transparan dan kaki seperti benar-benar menginjak tanah. Hanya saja mereka tidak dapat dilihat oleh manusia. Arwah sejenis ini sangat sulit dibedakan apalagi bagiku yang masih belum berpengalaman. Untungnya mereka jarang ditemui. Aku tidak tahu, kenapa arwah tersebut dapat berwujud seperti itu? Yang pasti sebaiknya aku jangan berbicara pada sembarang orang yang ada dimakam ini. Mungkin saja itu adalah salah satu hantu.
"Aku ingin hidup!"
"Beri aku satu kesempatan!"
"Kenapa semua orang mengabaikanku?"
"Sakit!"
"Aku ingin pulang."
"Sesak sekali! Aku kesulitan bernafas!"
"Apa ada yang lihat kepalaku? Dimana kepalaku?"
"Kenapa aku bisa ada disini?
"Siapapun, tolong aku!"
"Hiks... Hiks... Huah... Aku ingin ibu..."
Suara tangis yang begitu kencang itu tampa sadar membuatku menoleh. Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun, sedang duduk di salah satu batu nisan sambil menangis. Ia menutupi wajahnya yang penuh air mata. Ia sepertinya sangat merindukan sang ibu, atau mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada ibunya? Tidak! Aku tidak boleh berpikir untuk membantunya. Aku mengelengkan kepala dengan cepat untuk menghalau pikiran itu. Kulirik lagi anak itu yang ternyata menoleh padaku. Pandangan kami bertemu, segera aku menalingkan muka. Aku harap arwah anak itu tidak menyadari kalau aku dapat melihatnya. Akan sangat gawat jika itu sampai terjadi.
"Kakak dapat melihatku?"
Aku tersentak mendengarnya dan membuat langkahku terhenti. Kaki ku terasa berat sekali rasanya untuk melanjutkan jalanku. Aku melirik ke sisi kanan tampa menoleh sedikitpun. Kulihat ternyata arwah anak tersebut sudah ada di belakangku. Wajah pucat itu menatap begitu sedih.
"Kakak, jika memang dapat melihatku. Aku mohon bantu aku. Aku ingin bertemu ibu," ucap arwah anak laki-laki itu sambil memohon dengan begitu kasihan.
Bagaimana ini? Tidak mungkin aku dapat membantunya. Aku melihat ke sekelilingku. Beberapa arwah lainnya mulai menoleh ke arahku setelah mendengar suara anak itu. Ini benar-benar gawat! Sekarang mereka sudah menyadari kalau aku dapat melihat mereka. Sebagian diantara mereka juga mulai berjalan mendekat.
"Kau seorang Necromancy?"
"Dapatkah kau menolongku?"
"Aku mohon tolong aku!"
"Aku ingin pulang."
"Hei nona! Kenapa kau berhenti disana?" teriak Rosse memanggil membuatku mengakat wajahku melihat ke arahnya.
"Em... Aku..." apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku bilang kalau aku sangat ketakutan sampai tidak bisa bergerak, bukan?
"Ayok Ririn, lokasinya tidak jauh lagi," bibi Marry berjalan mendekat lalu kemudian menarikku pergi.
Rasanya begitu aneh saat aku menembus hantu-hantu ini. Rasa dingin menembus baju sweaterku sampai ke kulit. Tubuhku merinding dibuatnya. Namun rasa hangat yang tepancar dari telapak tangan bibi Marry membuatku tenang. Arwah-arwah ini tidak lagi memohon padaku. Mereka hanya menatapku dalam diam kemudian satu persatu kembali ke tempat semula. Aku menarik nafas lega karna berhasil menghindari mereka. Untung ada bibi Marry yang menarikku dari kerumunan arwah tersebut.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terdiam disana? Apa kau melihat hantu?" tanya Rosse.
Andai saja kau tahu Rosse kalau aku memang dikepung oleh hantu seram-seram ini. "Iya. Hantunya ada di depanku."
"Kau mengataiku hantu?!"
"Sudah, sudah, jangan mulai," lerai bibi Marry.
Di bawah pohon tampa daun lagi. Disinilah Mr. Hartley dimakamkan. Batu nisan putih berukir namanya sebagai tanda pembeda dari batu nisan yang lain. Rosse meletakan rangakaian bunga yang ia siapkan sebelumnya di depan batu nisan tersebut. Rosse menyekat air matanya mulai mengalir. Ia terlihat sangat tabah walau sebenarnya di dalam hatinya ia ingin menangis kencang meluapkan semua kerinduan itu. Bibi Marry mengusap lembut batu nisan itu beberapa kali. Ia juga tidak bisa menahan kesedihannya di depan makam suaminya.
"Sayang, sungguh tidak terasa sudah empat tahun lamanya tampa kehadiran dirimu. Kami sangat merindukanmu," ucap bibi Marry dalam kesedihannya.
"Ayah, jangan khawatirkan kami. Putrimu ini bukan lah gadis lemah. Aku pasti menjaga ibu dan membuatnya bahagia."
"Lihatlah, putri kita sudah dewasa. Ia tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik."
Aku melihat adegan mengharukan itu dari jarak tiga meter, kira-kira. Aku tidak mau merusak suasana karna kehadiran orang luar seperti aku ini. Angin bertiup kencang dari arah belakangku. Hal itu membuat rambutku berantakan menutupi wajahku. Aku membetulkannya kembali walau percuma sebab angin tidak henti-hentinya bertiup. Sama seperti makam lainnya, aku melihat Mr. Hartley berdiri di samping istrinya dengan raut wajah penuh kesedihan. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ia sadar kalau dua orang tercintanya tidak dapat melihat apalagi mendengar suaranya. Mr. Hartley melirik padaku namun aku dengan cepat memalingkan muka. Aku tidak sanggup melihat tatapan sedih itu. Maaf Mr. Hartley aku tidak dapat membantumu. Tidak disini.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε