
"Maaf terlambat," Mr. Guttman akhirnya datang bersama Patéras. "Aku lupa dimana aku meletakan stetoskop ku. Jadi kami mencarinya dulu."
Mr. Guttman segera melakukan pemeriksaan padaku. Ibu sedikit menjauh untuk memberi ruang bagi Mr. Guttman. Lima menit kemudian...
"Tidak perlu khawatir. Dia cuman terkena demam biasa yang disebabkan karna terlalu kelelahan. Perbanyak istirahat saja. Aku akan membuatkan resep obat untuknya," jelas Mr. Guttman. Walaupun ia berkata begitu tapi aku menangkap ekspresi lain dari wajahnya.
"Syukurlah kalau begitu."
"Eh... Mr. Morgen. Bisa kita bicara sebentar? Berdua?" ujar Mr. Guttman pada ayah.
"Baiklah."
Gelagat Mr. Guttman semakin aneh saja seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Aku memperhatikan terus mereka yang berjalan keluar. Aku memejamkan mataku, memfokuskan pendengaranku agar dapat mengetahui percakapan mereka. Yang aku harap mereka tidak terlalu pergi jauh. Beruntung ternyata mereka berbicang diluar kamarku saja. Jadi aku masih bisa menguping pembicaraan mereka.
"Ada Mr. Guttman? Kenapa kau memintaku berbicara empat mata denganmu?" tanya ayah.
"Ini tentang putri anda. Secara pemeriksaan biasa, kondisi tubuhnya baik-baik saja. Dia cuman menderita demam. Tapi... Saya tidak mau mengatakan ini di depan Mrs. Morgen. Dia baru pulih dan saya takut dia akan shock nantinya," Mr. Guttman berhenti sebentar lalu melanjutkan. "Mr. Morgen, masih ingatkan yang perna saya katakan dulu tentang dua jiwa dalam satu tubuh?"
"Iya."
"Yang saya takutkan mulai terjadi. Dua jiwa tidak dapat hidup dalam satu tubuh dalam jangka waktu yang lama. Salah satu dari mereka terpaksa harus menghilang. Aku cukup kagum dengan jiwa Rin yang bisa bertahan sampai sekarang setelah terbangunnya jiwa lain di dalam tubuhnya," jelas Mr. Guttman.
"Apa?!" aku tersentak mendengarnya. Aku kembali memfokuskan pendengaranku. Aku tidak memperdulikan lagi percakapan orang-orang disekitarku.
"Kenapa jiwa Rin yang menghilang? Dia kan pemilik asli dari tubuhnya."
"Kemungkinan jiwa yang baru terbangun itu perlahan-lahan telah mengambil alih kendali tubuh Rin. Aku juga tidak tahu pasti sebelum aku melakukan pemeriksaan secara berkelanjutan dan mengajukan beberapa pertanyaan padanya."
"Tidak. Jangan memberi tahunya! Aku takut begitu ia tahu semua ini, itu mala akan membuatnya tidak memiliki semangat untuk hidup."
"Tapi lambat laun ia akan mengetahuinya sendiri."
"Sebelum itu terjadi aku pasti akan menemukan cara agar ia bisa bertahan."
"Hiks... Ayah."
Air mata mengalir di ujung mataku. Jadi sebab itu ternyata belakangan ini daya tahan tubuhku semakin menurun dari hari ke hari. Dua jiwa tidak bisa hidup dalam satu tubuh yang sama. Salah satu dari jiwa tersebut harus menghilang dan itu jiwaku. Aku mengerti sekarang. Sejak bangkitnya kekuatan manusia serigala dalam tubuhku, secara otomatis jiwa Sherina akan perlahan-lahan mengambil alih. Itu dikarnakan hanya jiwanya yang bisa mengendalikan kekuatan manusia serigala yang besar. Sedangkan jiwaku terlalu lemah untuk melakukan itu. Tanpa sadar akhirnya aku pun tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya aku terbangun dan mendapati ibu, Lisa dan Sofia tertidur di kamarku. Dimana Mitéra? Aku melirik ke kanan dan kiri mencarinya, namun ia tidak ada disini. Aku ingin duduk tapi aku tak bisa. Ini karna Lisa tertidur dengan kepalanya tepat berbaring di atas perutku. Kau kira aku ini adalah bantalmu apa?
"Rin, kau sudah bangun?" tanya ibu yang bangun lima menit kemudian. Ia mengucek matanya lalu meregangkan tubuhnya.
"Kalian ternyata semalaman tertidur disini," aku sendari tadi cuman membelai rambut Lisa.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Lumayan, kecuali aku tidak bisa bergerak sama sekali."
Ibu melirik pada Lisa. "Oh, iya. Kau tidak sempat minum obat semalam. Mr. Guttman telah membawakan obatnya tapi kau sudah tertidur. Kau minum obatnya pagi ini ya. Ibu akan meminta seseorang menyiapkan sarapan untukmu."
Ibu hendak turun dari tempat tidur disaat Mitéra masuk ke kamar bersama seorang pelayan yang membawa meja beroda.
"Tidak perlu repot-repot Cloey. Aku sudah meminta pelayan membawakan sarapan untuk kalian semua."
"Mitéra, terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih Keyla, sudah sewajarnya aku sebagai Mitéra mu melakukan semua ini untuk putriku sendiri," Mitéra menghampiri Lisa dan sedikit menggucang tubuhnya. "Lisa, bangun. Sudah pagi. Sofia, kau juga bangun."
"Bagaimana caranya aku duduk kalau seperti ini?"
"Dia ngantuk berat."
"Tubuhnya yang berat."
"Kakak, jangan perna tinggalkan aku," ngigau Lisa.
Aliran panas menyebar ke seluruh tubuhku begitu mendengarnya. Adikku memintaku untuk tidak meninggalkannya. Tapi... Aku semakin tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika ia tahu kondisi jiwaku saat ini. Aku berusaha menahan air mataku namun ia berhasil lolos dan mengalir pelan. Tanganku kurang cepat untuk menyembunyikan kesedihanku dari ibu dan Mitéra.
"Kau menangis?" kata mereka bersamaan.
"Hah?! Tidak. A, aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba meneteskan air mata," kataku mencari alasan sambil mengelap air mataku.
Mitéra mencoba membangunkan Lisa lagi dan itu berhasil. Lisa melepaskan pelukannya agat aku bisa bangkit. Ia perlahan duduk tapi tak berselang lama tiba-tiba ia melompat ke arahku dan seketika langsung merangkulkan tangannya di leherku.
"Kakak!" teriaknya membuatku kaget.
"Aw!" rintih ku disaat tangan Lisa tanpa sengaja menyenggol luka ku.
"Lisa, apa-apaan kau ini? Kakakmu masih sakit," kata Mitéra menyadarkan Lina yang masih terbawa-bawa mimpi.
"Ma, maafkan aku!" Lisa tersentak dak lasung melepaskan pelukannya.
"Kau bermimpi apa Lisa sampai-sampai memeluk kakakmu seperti tadi?" tanya ibu padanya.
"Aku... Aku bermimpi kalau kakak mengucapkan salam perpisahan."
"Kau itu bermimpi atau melihat masa depan?" batinku.
"Sebab itu aku mencegatnya agar jangan tinggalkan aku atau paling tidak bawalah aku bersamamu."
"Tidak boleh!" kataku tampa sadar. Mereka menoleh padaku dengan tatapan sama.
"Apa yang tidak boleh, Rin?" tanya ibu.
"Eh... Iya, Lisa tidak boleh ikut aku pergi."
"Apa maksud kakak?!! Apa kakak sungguh akan pergi?" kata Lisa sedikit meninggikan suaranya.
"Iya. Pergi ke toilet tepatnya."
Aku turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku sempat melirik Lisa sekali. Maaf adik ku sayang. Aku tidak bisa membertahu hal ini padamu ataupun yang lain. Aku tak mau kaliab sedih dan membuatku tidak bisa pergi meninggalkan kalian dengan tenang. Karna melamun aku hampir saja menabra Sofia yang baru kembali dari kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε