
"Bukan hanya itu? Apa ada orang lain juga kau sayang ikut diserang oleh salah satu manusia serigala? Seperti pacarmu."
"Tidak bisa disebut pacar, aku belum berani mengungkapkan perasaanku. Namanya Natali."
"Ah, ternyata benar. Bagaimana bisa ia di serang oleh manusia serigala?"
"Kalau soal ini awal aku tidak tahu. Sebelum kejadian kakak ku datang dan memberitahu semuanya padaku. Jati diriku sebagai vampire, kematian ibu, ayahku yang seorang raja dan dirinya adalah kakak tiriku. Ia menjemput ku untuk pulang ke kastil karna dalam tubuhku mengalir darah vampire bangsawan. Dulu aku menolak kenyataan ini dan juga menolak kembali bersamanya. Aku tidak percaya kalau diriku yang sebenarnya adalah seorang vampire dan bahkan aku tidak yakin dengan keberadaan dunia malam sampai kakak membuktikan semuanya. Ia membujuku kembali bersamanya karna akan sangat rentan bagiku diserang oleh manusia serigala dan ini demi keselamatan orang di sekitar ku. Aku menyetujui itu untuk pulang bersamanya ke kastil lalu dinobatkan sebagai pangeran.
Beberapa hari setelah penobatan aku mendapat kabar kalau desa tempat tinggalku dulu di serang manusia serigala karna mereka mencari ku. Aku melarikan diri dari kastil setelah menerima kabar ini. Sampai disana kulihat desa itu telah hancur. Semuanya tinggal puing-puing bangunan. Aku menyelusuri desa tersebut berharap orang-orang yang aku kenal masih selamat. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang aku temukan. Sampai dirumah Natali tiba-tiba aku diserang oleh manusia serigala yang perwujudannya monster serigala. Yang tidak aku sangka ternyata monster serigala itu merupakan Natali."
"Dia terkena racun dari taring manusia serigala. Itu yang menyebabkannya berubah menjadi monster serigala."
"Iya. Tidak ada cara lain untuk menghentikannya selain membunuhnya. Tentu aka tidak tega melakukan hal ini. Dia cinta pertamaku."
"Cinta pertama?!" aku sedikit terkejut mendengarnya. "Lalu..."
"Kakaku datang tepat waktu dan menyelamatkan ku. Ia hendak membunuh Natali tapi aku melarangnya. Karna aku percaya pasti ada suatu cara agar Natali dapat kembali seperti sedia kala. Dari sejak saat itu sampai sekarang aku mencari obat penawar dari racun taring manusia serigala yang katanya merupakan darah jantung gadis serigala yang diramalkan."
Mendengar itu tampa sadar aku meletakan tanganku tepat ke arah jantungku. "Itu berarti Natali masih hidup."
Onoval mengangguk. "Agar ia tidak menyerang seseorang, aku membuatnya berhibernasi panjang dengan cara menghisap darahnya sampai menyisakan 25% saja dari keseluruhan darah dalam tubuhnya lalu membekukan jantungnya. Dengan begitu akan memungkinkan baginya untuk menjalani tidur panjangnya."
Keadaan menjadi sunyi di antara kami. Onoval menatap jauh ke depan begitu aku meliriknya. Ia pasti sangat mencintai gadis yang bernama Natali ini. Dia bahkan mau melakukan apapun untuknya. Bagaimana jadi kalau ia tahu sebenarnya putri yang diramalkan yang di carinya selama ini ada di sampingnya? Apa ia akan tetap membunuhku agar ia bisa mendapatkan darah jantungku supaya kekasihnya dapat sadar kembali?
"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan obat penawar racun taring manusia serigala itu," katanya kemudian.
Aku sedikit terserak. "Termasuk membunuh temanmu ini," kataku hampir tidak kedengaran.
"Apa katahu tadi?"
"Tidak ada."
"Hei, mau tahu rahasia kecilku?"
"Oh... Apa itu?"
"Selain darah Natali waktu itu aku tidak perna menghisap darah lagi dan terakhir aku menghisap darahmu. Darahmu benar-benar mengingatkanku padanya."
"Kau sebagai vampire sudah tidak menghisap darah selama bertahun-tahun, tapi kau baik-baik. Bagaimana bisa?"
"Aneh bukan. Aku juga tidak tahu penyebab keanehan ini. Karna itu terkadang aku masih sedikit ragu kalau aku ini seorang vampire. Adakah vampire di dunia ini yang tidak menghisap darah? Mungkin hanya aku seorang."
"Sst.. Aku harus cepat mendapatkan buah ΖΩΗ (ZOI) dan segera pergi dari sini. Jangan sampai Onoval menyadari siapa aku sebenarnya," batinku.
"Rin, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" tanya Onoval begitu ia melihat begitu dekat wajahku.
"Tidak, aku tidak sakit," aku diam sebentar sambil menunduk. "Oh iya, Onoval. Kenapa kau begitu peduli padaku?"
"Pertanyaan aneh apa itu? Tentu saja aku harus peduli padamu. Kau temanku. Lagi pula kau mirip sama Natali. Melihatmu sama seprti melihatnya, cuman Natali orang yang lembut tidak sepertimu yang lebih mirip kucing galak ini."
"Benarkan apa kataku. Baru bicara seperti itu saja kau kau sudah kesal."
"Hah... Ayok kembali. Lisa, Rosse dan Sofia pasti mencari-cari kita," aku bangkit dari pinggir menara itu sebelum tiba-tiba Onoval menahan tanganku.
"Rin, apa boleh... Aku... Menciummu?" kata Onoval dengan raut wajah merona. Ia tidak menatapku sama sekali.
Aku bingung mendengar permintaannya ini dan tidak tahu bagaimana caranya berekspresi. "Onoval ini..."
"Sekali saja. Kumohon," Onoval segera berdiri di hadapanku, membelai wajahku dengan menatap serius.
"Onoval... Hmmph?!"
Tampa persetujuanku lagi ia langsung menciumku. Bibirnya yang dingin menekan semakin dalam bibir ku. Aku berusaha mendorongnya menjauh tapi ia mala merangkulkan tangan kirinya ke pinggan ku dan tangan kanannya tepat di belakang leher ku. Aku tidak bisa lari darinya.
"O-no-val," kataku dengan susah payahnya namun dia tidak mendengarkan ku.
Onoval mala berusaha membuka mulutku agar lidahnya bisa menjelajahi ronggah mulutku. Aku mengigit bibirnya supaya ia segera melepaskan ku tapi sepertinya itu tidak berhasil. Aku sudah hampir kehabisan nafas karna ciumannya yang begitu lama. Perlahan ia melepaskan ku dan menarik diri menjauh. Aku mengambil kesempatan ini melangkah mundur dengan cepat. Aku menutup bibir ku menggunakan punggung tanganku.
"Kau benar-benar manis Rin," kata Onoval.
Onoval menyekat darah di bibirnya akibat kugigit tadi menggunakan jempolnya, dan aku baru sadar kalau matanya menyala di ke gelapan. Melihat itu membuatku yakin kalah ia seorang vampire.
"Aku akan memukulmu jika kau lakukan itu lagi!"
"Hihi... Kau sungguh galak Rin," tawanya seperti tidak perna terjadi sesuatu. "Ayok, aku antar kau kembali," Onoval mengulurkan tangannya.
Aku sedikit ragu menerima uluran tangannya, tapi tidak ada cara lain untukku agar bisa turun ke bawah sana. Aku meletakan telapak tanganku di atas telapak tangannya yang dingin. Ia menarik ku sampai tubuhku sangat dekat dengannya lalu mengajakku melompat terjun ke bawah.
"AAAAH ! ! ! Onoval ! !"
Teriakku histeris disaat Onoval benar-benar menarik ku terjun bebas dari puncak tertinggi kastil tersebut. Angin berhembus kencang menarik seluruh helaian rambutku ke atas. Di sela-sela jeritanku, aku mala mendengar tawanya yang riang. Aku memejamkan mataku ketika kami semakin mendekati daratan. Tapi ada yang aneh disini, kenapa kami belum mendarat sama sekali. Aku tidak merasakan hebusan angin lagi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε