My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Jati diri



Hari ini sungguh membosankan. Pelajaran olahraga begitu mengecewakan. Aku kembali ke ruang ganti lebih awal untuk menganti pakaianku yang tidak basah sama sekali oleh keringat. Kembali dari ruang ganti aku hendak menuju kelas saat kulihat Rosse, Sindy serta dua temannya ada di lorong. Wah... Sepertinya ada pertunjukan menarik. Aku mengintip mereka dari balik loker yang berjarak tiga meter. Kali ini aku bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka karna tempat ini sepi, semua murit masih ada diruang olahraga.


"Aku ingin lihat kemampuan mu Sindy. Kemarin kau berani mengunakan mantra pengikat padaku di keramaian. Kau pasti lebih leluasa di tempat sepi seperti ini," batinku sambil terus menonton pertunjukan gratis.


"Dengar ya Rosse! Jangan pernah berpikir untuk merebut Ben dariku!" tegas Sindy memojokkan Rosse.


"Siapa juga yang mau sama dia?" dengan wajah datar nya Rosse berkata.


"O... Soal pria. Apa mungkin pria yang tadi?"


"Kalau kau sangat menyukainya, ikat saja dia ke sisimu agar ia berhenti menggaguku! Minggir!" Rosse mencoba pergi namun kedua teman Sindy menghadang.


"Kau mau kemana?" tanya Lily yang menghalangi dari sisi kiri.


"Jangan mencoba untuk kabur," sambung gadis yang paling pendek diantara mereka.


"Kau semakin berani sejak ada gadis kampung itu. Aku akan memberimu sedikit pelajaran agar kau sadar posisi mu yang sebenarnya ada dimana."


Sindy mengayunkan tangannya hendak menapar Rosse. Aku yang melihat itu tentu saja tidak tinggal diam. Aku melangkah cepat ke antara mereka, untung masih sempat menahan tangan Sindy. Menyadari kehadarianku yang tiba-tiba membuat mereka semua terkejut.


"Ba... Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Rosse ketika ia membuka matanya dan menyadari kehadiran ku.


"Kau...!!" dengan tatapan penuh kebingungan bercapur kaget, Sindy berusaha menarik tangannya.


"Kita bertemu lagi gadis aneh," kataku sambil tersenyum. Aku melepaskan tangan Sindy dan sedikit mendorongnya. Hal itu membuat ia hampir terjatuh.


"Siapa yang kau panggil gadis aneh?!!"


"Tentu saja kau. Siapa lagi?" kataku sambil menghilangkan kedua tangan.


"Rin kau tidak perlu ikut campur!" bentak Rosse padaku.


"Sutt..." aku meletakan jari telunjukku di bibi manis buah delima Rosse. "Diam dan perhatikan."


"Kau sudah diperingatkan sepupumu..."


"Sepupu?" belum selesai Sindy bicara aku langsung memotongnya. "Em... Boleh juga."


"Hei...!" protes Rosse tapi aku segera menutup mulutnya.


"Kemarin aku masih berbelas kasihan padamu, jangan harap hari ini kau akan mendapatkannya lagi!"


"Hm," aku cuman tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum? Sepertinya identitas ku kemarin masih belum membuka lebar matamu. Hari ini aku akan memperlihatkan diriku yang sebenarnya," sekali jentikan jari, muncul bola api seukuran bola golf di telapak tangan Sindy.


"Wow, Sindy kau sudah bisa mengunakan mantra api tampa merampal lagi. Perkembangan sihirmu meningkat pesat," puji Lily.


"Memang pantas disebut penyihir berbakat," ucap gadis satunya.


Apa hebatnya itu? Temanku Sofia saja sudah bisa melakukannya saat ia berumur 8 tahun. Tapi dilihat dari reaksi teman-teman Sindy sepertinya mereka sangat tahu tentang hal ini. Apa mereka juga bagian dari dunia malam? Atau mereka juga penyihir sama seperti Sindy? Em... Itu tak penting. Yang pasti sekarang Sindy telah melanggar peraturan penting dunia malam, tidak pernah memperlihatkan kekuatan dan bahkan sampai mengungkapkan jati diri pada manusia biasa. Biarlah aku memberi sedikit hukuman padanya.


"Hajar saja dia Sindy! Dia memang pantas mendapatkannya," ujar Lily.


"Jangan Sindy, kau bisa ketahuan guru nanti," kata gadis berbando pink ini memberi saran baik. "Lebih baik pulang sekolah saja."


Salahku. Ia sama saja. "Aku tidak percaya sama penyihir. Itu pasti cuman hologram. Kalian pasti hanya mau menakut-nakuti kami."


"Apa kau yakin? Itu tampak nyata," ucap Rosse yang ada di belakangku.


"Tentu saja aku sangat yakin sekali. Kalau gadis aneh di depanku ini adalah seorang penyihir, aku manusia serigala dong," kataku dengan nada ejekan, namun aku menatap tajam pada Sindy.


"Jangan sombong ! ! !"


"Fiuh... Hampir saja," gumangku.


"Sindy kau mau membunuh kami ya?!!" betak Rosse dengan tubuh gemetar.


"Apa kau sekarang percaya kalau aku ini benaran seorang penyihir?" Sindy menjentikkan jarinya lagi. Seperti sebelumnya, muncul bola api lagi di telapak tangannya.


"Wah... Ini pertama kalinya aku melihat sihir sungguhan," kataku pura-pura kagum. Namun, satu pukulan mendarat di kepala ku. "Aduuh... Rosse kau ini kenapa?!"


"Berterima kasihlah karna aku sedikit terlambat!!"


"Ha? Terkadang aku tidak mengerti maksudmu."


"Itu karna kau terlalu bodoh. Gadis ini ingin membunuh kita tapi kau mala memujinya!" tunjuk Rosse pada Sindy.


"Tidak apakan. Lagi pula aku belum perna melihat sihir sungguhan, walau cuman sihir lemah," aku melirik pada Sindy yang terlihat kesal ketika ia mendengarnya.


"Apa katamu?!! Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


Sindy menggunakan mantra pengikatnya pada aku dan Rosse. Lagi-lagi tubuhku tidak bisa di gerakan. Aku mencoba untuk pura-pura tidak bisa mematahkan mantra tersebut walau sebenarnya Sofia perna mengajari ku dulu.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku?" Rosse meronta-ronta mencoba melepaskan diri.


"Lepaskan kami!" bentakku.


"Kalian tidak akan bisa lepas dari mantraku. Sekarang rasakan ini..."


"Ελεύθερος (Eléftheros)"


Belum sempat Sindy melemparkan bola api itu, aku sudah berdiri tepat dibelakangnya sambil mencengkram tangannya. Dengan raut wajah sangat terkejut Sindy tidak bisa berkutip.


"Apa...?! Ba... Bagaimana bisa? Kau..."


"Sudah aku bilang sihirmu itu lemah, jadi selamat malam," Aku memukul bagian belakang lehernya yang membuat ia pingsan.


"Sindy!!" teriak temannya berbarengan.


"Apa.. Apa yang kaulakukan?!" bentak Lily memarahiku. Ia menghampiri Sindy yang sudah tersungkur ke lantai tidak sadarkan diri. "Sindy, bangun Sindy."


"Hei kau anak baru! Kami akan melaporkan mu pada guru!" gadis yang terlihat lugu ini mulai meninggikan suaranya mengancam ku.


"Lakukan saja. Aku ingin tahu bagaimana cara kalian menjelaskan apa yang terjadi."


"Cih!"


Dengan raut wajah kesal mereka berlalu pergi sambil membopong Sindy. Aku yakin mereka tidak akan berani mengaduh pada guru. Mereka tidak memiliki alasan kenapa aku menyerang Sindy. Jika benar-benar ada alasan, mereka tidak memiliki bukti untuk itu. Kalaupun mereka menceritakan yang sebenarnya, apa guru akan percaya? Misalkan guru itu juga salah satu dari dunia malam, aku rasa Sindy akan mendapat hukuman karna telah melanggar peraturan penting dunia malam. Ingin sekali aku melihat raut wajahnya yang tidak dapat membalas ku. Ia pasti akan teramat sangat kesal saat ia sadar nanti.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε