
Jam 21.45 aku dan Rosse baru sampai dirumah. Huuu... Hari ini cukup melelahkan. Aku tidak menyangkah kalau bisa seramai tadi. Tapi menurutku berkerja seperti ini sangat menyenangkan. Berinteraksi dengan banyak orang membuatku melupakan semua beban pikiranku untuk sesaat. Aku jadi ingin berlama-lama tinggal disini. Walau perkerjaan tadi menguras tenaga namun jam 10 malam bukan waktu tidurku. Aku masih ingin menonton acara larut malam. Seperti biasa film horom dan camilan menjadi temanku malam ini. Rosse sudah duluan kembali ke kamar, ia terlihat sangat kelelahan setelah berkerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku mengucek mataku ketika aku sadar ternyata aku masih ada di sofa. TV sudah dimatikan dan tubuhku tertutup sehelai selimut. Pasti bibi Marry yang melakukannya. Huaaam.... Aku menguap sambil merengangan tubuhku. Kakiku terasa lemas untuk melangkah kembali ke kamar. Dengan mata setengah terpejam aku memaksakan diri untuk bangkit sampai... Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar bibi Marry terbuka. Sontak aku kembali berbaring bersembunyi dibalik sofa pura-pura tidur. Langkah kaki berjinjit perlahan mendekat, lalu menjauh, kemudian terdengar menaiki tangga. Aku membuka sebelah mataku melirik siapa itu. Ah, ternyata Rosse. Ia sepertinya baru selesai meletakan hadiah kejutan untuk ibunya.
Aku menunggu lima menit sebelum aku naik ke atas. Benar saja, saat aku membuka pintu kulihat Rosse sudah tertidur. Di lantai terlihat beberapa bekas kertas kado berserakan dimana-mana dengan corak... Entahlah, aku tidak bisa menebaknya karna potongan-potongan itu terlalu kecil. Ada juga selotip, gunting dan pita biru. Kemungkinan Rosse tidak sempat membereskannya lagi disebabkan terlalu ngantuk. Jam diatas meja belajar sudah menunjukan pukul satu dini hari. Ia pasti bergadang untuk membuat kado tersebut. Atau ia menunggu ibunya tertidur lelap agar ia tidak ketahuan meletakan kado itu? Biasanya aku lihat bibi Marry sering bergadang untuk menyelesaikan perkerjaannya.
Aku membuka lemari tempat dimana aku meletakan hadiah untuk Rosse. Aku belum sempat melihat sedemikin rupa apa kado yang dihias oleh Calsy. Kubuka paper bag itu dan terlihatlah persegi empat berbalut kertas putih berhias setangkai bunga mawar dengan kelopaknya adalah sebuah pita merah. Menarik. Hasilnya lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku meletakan kado tersebut tepat disamping Rosse yang tertidur. Aku harap ia menyukainya. Kado ini aku berikan sebagai ucapan terima kasihku. Aku menutup perlahan pintu kamar. Lebih baik aku tidur di sofa saja malam ini. Lagi pula aku sudah biasa melakukannya.
Hari cerah menyambut pagiku. Sinar mentari menyapa dengan lembut. Udara dingin menimbulkan rasa malas sesaat. Aku memaksakan diri membasuh wajahku menggunakan air hangat untuk menghalau kantuk. Aku baru sadar kalau Rosse sudah tidak beradar di tempat tidur. Aku turun mencari bibi Marry, di dapur, kamar, halaman belakang dan depan aku tidak menemukan mereka. Kemana perginya? Perasaan hari belum benar-benar siang. Apa mereka memulai hari lebih awal dan meninggalkanku? Aah...! Kenapa aku ditinggal? Tapi tunggu... Aku berpikir sejenak. Sepertinya ada yang aku lupakan. Jam berapa sekarang? Aku melihat jam tanganku... Astaga! Terima kasih bibi Marry! Rosse!
Aku berlari kembali masuk ke dalam, mengeluarkan sepeda dan mengayunkan pedalnya dengan kecepatan tinggi. Sama seperti kemarin malam, aku juga harus berteriak minta maaf pada orang-orang yang aku lalui. Sunggu luar biasa, cara berterima kasih keluarga Hartley memang unik. Sampai di depan gerbang sekolah aku lihat satpam sedang menutup pintu pagar. Tampa basa-basi lagi aku menerobos masuk sebelum pintu pagar benar-benar tertutup.
"Hei...!!! Hati-hati!" teriak satpam tersebut memarahiku.
"Maaf..."
Akhirnya sampai juga. Aku memarkirkan sepedaku di tempat biasa. Kemudian aku bergegas berlari masuk ke gedung sekolah. Sampai dikelas, aku masih beruntung karna guru belum datang. Dengan nafas terputus-putus aku melangkah pelan menghampiri meja ku. Aku cuman melirik singkat pada Rosse yang sibuk memperhatikan bukunya. Kusandarkan tubuhku di kursi untuk menghilangkan penat.
"Kelas olahraga belum di mulai tapi kau sudah kelelahan. Jangan pingsan saja nanti ya," ejek Rosse tampa Melirik ku.
"Kau... Balas dendam padaku?"
"Tidak. Aku cuman tidak mau membagunkanmu. Kau tidur seperti kucing lucu yang manis. Tidak perlu berterima kasih."
"Ha?"
Sudahlah, aku tidak mau berurusan dengannya kali ini. Lagipula... Hari ini ada pelajaran kesukaanku, pelajaran olahraga. Walau sebelum itu kami harus memeras otak terlebih dahulu dengan rumus matematika. Hampir sebagian siswa dan siswi tidak menyukai pelajaran ini, namun tidak bagiku. Aku lebih suka menyelesaikan penjumlahan aljabar dari pada mendengarkan sejarah yang membosankan.
Bel pergantian jam dibunyikan. Kami semua pergi ke ruang ganti. Beberapa siswi yang aku kenal kemarin mulai akrab denganku. Mereka mengajakku pergi ke ruang ganti perempuan bersama-sama. Selesai ganti baju kami pergi ke ruang basket. Ruangan besar dengan lapangan basket yang di kelilingi kursi penonton. Baru memasuki ruangan kami sudah disambut oleh segerombolan siswi yang bersorak-sorak riuh mendukung idola masing-masing. Ada pertandingan basket antara kedua tim yang dibedakan dengan warna pakaiannya. Tim merah dan biru itu bergerak lincah menggiring, saling oper, merebut benda bundar tersebut. Dengan mengandalkan keahlian dan kekompakan anggota tim mansing-masing, mereka bersaing untuk mendapatkan skor.
Semua wanita disini sama saja, bahkan teman-temanku tadi sudah hilang. Mereka semua ikut bergabung dalam tim sorak-sorak berisik itu. Aku menghampiri Rosse yang duduk santai bersandar di dinding. Hanya ia seorang saja disana, tidak ikut-ikutan siswi lainnya. Belum sampai aku mendekat, tiba-tiba ada seorang pria menghampirinya. Siapa dia? Terlihat mereka asik berbincang namun cuman sebentar. Aku tak mendengar jelas percakapan mereka karna ruangan ini terlalu berisik. Suara bergema dimana-mana membuat kepalaku pusing. Dari reaksi Rosse ia sepertinya sangat kesal pada pria itu, sedangkan pria itu sendiri terus saja memohon dan akhirnya berlalu pergi dengan kecewa.
"Ini jam pelajaran paling membosankan," aku mengambil tempat duduk disamping Rosse.
"Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak kumpul bersama teman barumu itu?" katanya dengan wajah masih kesal.
"Untuk apa? Mereka sedang menyoraki idola mereka. Aku bahkan tidak kenal salah satu dari kedua tim basket itu. Walau, yang rambut pirang itu sedikit tampan," aku memperhatikan pria yang sedang menggiring bola. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang.
"Kau itu sama saja dengan wanita lain."
"Kalau tidak sama, aku bukan wanita dong," kami diam sesaat lalu aku bertanya soal pria tadi. "Oh, iya. Aku tadi lihat kau berbicang dengan seorang pria, siapa dia?"
"Bukan urusanmu!" Rosse melangkah pergi meninggalkanku.
"Wah, seharusnya aku tidak harus bertanya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε