My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pencarian



Besok paginya aku berangkat ke alamat yang baru aku temukan semalam. Hari ini aku beralasan ingin pergi ke rumah teman. Ibu menyarankan untuk mengajak Rosse bersamaku tapi hari ini aku beruntung, Rosse ada kegiatan kelompok di rumah Nic jadi ia tidak bisa ikut. Cukup lama aku membujuk ibuku agar mengizinkan aku pergi dan usaha itu tidak sia-sia. Hanya saja dengan satu syarat, aku harus pulang sebelum makan siang tiba. Itu lebih dari cukup untukku sampai dan pulang tepat waktu. Alamat yang aku tuju hari ini ternyata tidak terlalu jauh dari panti asuhan kemarin. Letaknya sekitar 15 menit perjalanan dari panti asuhan. Setelah melewati kawasan perumahan, aku berhenti di depan sebuah rumah tua yang dikelilingi pohon.


Bangunan dua lantai dalam kondisi rusak parah. Semua sisi bangunan ini hangus terbakar. Apa yang sebenarnya terjadi? Kapan kebakaran ini terjadi? Apa saat kepemilikan orang tuaku atau kepemilikan orang lain? Aku melangkah masuk ke dalam rumah tersebut yang hanya menyisakan dinding saja. Aku harus berhati-hati dalam melangkah karna lantai rumah ini dipenuhi puwing-puwing bekas kebakaran. Bekas yang tersisa jelas ada di dinding bangunan yang menghitam dan berlumut. Daun-daun kering, ranting-ranting pohon, pecahan kaca dan sisa barang terbakar bertebaran dimana-mana. Di berbagai sisi juga terdapat tanaman liar yang merambat kesana kesini.


Cukup lama aku menyelusuri setiap sudut rumah ini namun aku tidak menemukan petunjuk apapun. Semuanya terlalu rusak parah. Aku mencoba untuk mencari petunjuk di lantai atas. Sampai aku temukan tangga penghubung lantai atas dan bawah. Dilihat dari kondisi tangga ini sudah sangat rapuh. Jika aku berjalan perlahan mungkin belum sampai diatas tangganya sudah ambruk. Aku memutuskan untuk mengambil ancang-acang menaiki tangga ini dengan cepat. Ternyata cara itu berhasil tapi hal itu juga menyebabkan tangganya runtuh seketika bersamaan denganku. Aku kurang cepat untuk kenapakan kaki ku dilantai atas. Sungguh sial. Baru saja hendak duduk tiba-tiba kotak kecil menimpah kepalaku. Pandanganku sedikit berkunang-kunang.


"Aduuuh..." aku mengusap kepalaku yang sakit.


Aku mengambil kotak kecil berwarna hitam yang terbuat dari kayu. Aku sedikit takjub ternyata kotak ini dapat selamat dari api yang berkobar. Aku mencoba membukanya yang isinya adalah sebuah buku tua. Aku membalik halaman buku itu dengan cepat sampai aku menemukan sebuah foto terselip disana. Itu adalah sebuah foto keluarga. Sepasang suami istri yang sedang mengendong bayi mereka. Siapa mereka? Apa ini orang tuaku? Tidak bisa dipastikan, lebih baik aku bawa pulang dulu. Setelah mengibas-ngibaskan pakaianku dari debu aku beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut. Diluar kulihat ada sekelompok laki-laki terdiri dari empat orang sedang asik berfoto ria didepan mobilku. Apa sebaiknya aku gunakan mobil lain saja agar tidak terlalu menarik perhatian? Aku melangkah pelan mendekati mobilku sendiri.


"Permisi," sapa ku pada mereka.


"Eh, Ada gadis cantik," kata pria yang memakai jaket biru. Ia langsung merapikan rambut pirangnya. "Ada apa manis?"


"Mau jalan-jalan?" ujar temanya sambil bergaya seolah-olah itu mobilnya.


"Tid..."


"Siapa namamu?" belum selesai aku berkata pria berambut hitam langsung bertanya.


"Kau orang baru disini?" tanya temannya yang lain.


"Ayok ikut bersama kami. Kami akan mengajakmu berkeliling."


"Kami sangat mengenal tempat ini."


"Jangan takut."


"Kami tahu tempat menyenangkan."


"Kau pasti menyukainya."


"Kalian minta dihajar?"


Belum selesai mereka terkejut dengan ucapan ku, aku sudah menghajar mereka satu persatu. Aku benar-benar jengkel mendengar ocehan menggoda mereka seperti preman jalanan. Satu menit, mereka bertekuk lutut minta maaf.


"Maaf, maafkan kami pendekar wanita. Kami akan melakukan apa saja untukmu tapi tolong jangan hajar kami," kata mereka memohon.


"Baiklah asalkan kalian bersedia menjawab pertanyaan ku."


"Baik. Tanyakan saja. Kami pasti akan menjawabnya."


"Apa kalian kenal dengan pemilik rumah itu?" tunjukku pada rumah dibelakang ku.


"Rumah itu sudah terbengkalai selama bertahun-tahun," kata pria berambut hitam.


"Kalau tidak salah pemiliknya dulu adalah sepasang suami istri," kata pria yang mengenakan sweater hijau mengingat-ingat.


"Apa kau tahu apa yang terjadi dengan sepasang suami istri itu?" tanyaku.


"Tidak tahu. Mereka pindah setelah kebakaran terjadi."


Aku mengeluarkan foto yang aku temukan dalam buku tadi. "Apa ini mereka?"


Pria itu meneliti wajah di dalam foto tersebut. "Iya, itu mereka."


"Hei, aku kenal mereka," kata pria yang berambut pirang tiba-tiba.


"Kalau tidak salah nama bayi difoto itu adalah keyza."


"Keyza? Maksudnya Keyla?"


"Ah, iya Keyla. Namanya Keyla." katanya membenarkan.


Ternyata benar mereka orang tua kandungku. "Lalu apa kau tahu nama keluarganya?"


"Nama keluarganya... Maaf aku tidak ingat."


"Kalau begitu terima kasih."


Aku masuk ke mobil lalu menancap gas meninggalkan mereka. Aku harus cepat pulang, jam makan siang sebentar lagi. Aku tidak mau ibu jadi khawatir. Hari ini sampai disini dulu. Setidaknya aku sudah mendapat benda penting yaitu foto orang tua kandungku dan sebuah buku. Entah apa isinya, aku akan menyempatkan diri membacanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu telah berlalu. Setiap pulang sekolah aku menyempatkan diri mencari keberadaan orang tua kandungku. Segala cara sudah aku coba namun belum kunjung membuahkan hasil. Memang sulit mencari seseorang hanya mengandalkan foto dari 15 tahun yang lalu. Tentu aku tidak memberitahu siapapun tentang hal ini. Aku cuman mencari berbagai alasan agar aku bisa keluar. Lagi pula aku juga belum bisa melakukan operasi karna stok darah yang cocok untukku belum kunjung ada. Ayah masih berusaha mencari pendonor yang tepat. Aku tidak terlalu peduli aku dapat menjalani operasi atau tidak. Hidup dan matiku terasa tidak penting.


Akhir pekan pukul 10.49. Rintik-rintik salju terus jatuh memenuhi jalan yang baru dibersikan. Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi, dan bahkan aku juga tidak tahu aku ada dimana sekarang. Pungguku terasa sakit karna terlalu lama duduk di depan kemudi. Aku memberhentikan mobilku depan mini market. Aku hanya sekedar ingin membeli minuman dan roti untuk menambah tenaga. Selesai melakukan pembayaran aku berjalan keluar menuju mobilku. Sampai ketika aku melihat seorang gadis yang mengenakan jaket berwarna pink sedang memiliki masalah dengan sepedanya. Bukankah dia gadis yang ikut mengantri di depanku tadi? Aku menghampirinya.


"Butuh bantuan?" tawarku, tapi aku terkejut saat gadis itu menoleh. "Lisa?!"


"Ah! Serigala. Apa yang kau lakukan disini?"


"Ayoklah jangan memanggilku seperti itu."


"Kenapa? Itukan memang dirimu."


"Hei, aku mencoba menawarkan bantuan untukmu."


"Haha... Makan apa kau sampai mau membantuku?"


"Anggap saja aku kurang kerjaan. Bosan."


"Tidak mau. Cari orang lain saja."


"Yakin tidak mau? Salju semakin lebat loh. Tapi ya sudah, aku juga tidak memaksa," aku berbalik meninggalkannya sambil meliriknya.


"Tunggu."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε