
"Apa kau yakin ini akan berhasil? Rin terlihat seperti kesal pada lalat saja," kata Bibi Emely yang memperhatikanku.
"Tenang, tidak akan lama lagi. Ini adalah pertengkaran terlama mereka. Aku yakin Rin sudah tidak tahan dengan Liz."
Ibu dan bibi Emely hanya memperhatikanku yang sendari tadi mengejar hantu ini. Karna kelelahan atau terlalu kesal bercampur amarah dan tidak memperhatikan jalan, aku tersandung akar pohon ek yang membuatku terjatuh dengan wajah mendarat duluan ke tanah. Bibi hendak membantuku namun ditahan ibu. Sedangkan Liz hanya tertawa terbahak-bahak.
"Liz!!!" teriakku sambil mengangkat mukaku. Aku menatap tajam pada Liz penuh kebencian. Ia mala semakin tertawa dengan lucunya dan beberapa kali mengejekku lagi. Kalau saja jamku tidak diambil olehnya, mungkin sudah berbunyi sendari tadi. Aku berusaha menahan kesadaranku. Tubuhku sudah diselimuti hawa panas dan telingaku mulai mendengung. Aku menggeleng cepat menghalau dengungan yang sangat menggagu. Aku masih berusaha menahan diri. Rasanya sangat berbeda ada atau tampa jam tanganku.
Jam itu bukan hanya untuk mengetahui detak jantungku tapi juga berfungsi menekan kekuatanku. Aku mengetahuinya dari surat tanda bukti pembelian lima tahun lalu. Disana tertulis, kalau jam ini bisa menekan hawa kekuatan Necromancy yang aku miliki. Tapi siapa sangka ternyata bukan hawa kekuatan Necromancy yang ditekan namun kekuatan manusia serigala. Kemungkinan aku membelinya agar aku tidak terlalu terlibat dengan para hantu. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ini baru petama kalinya aku merasakan perubahan tanpa jamku. Rasa sakit dan terbakar sangat menyiksaku. Aku mulai kehilangan kesadaran.
... ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...
Derek tersentak dan langsung berdiri setelah menyadari hawa kekuatan manusia serigala mulai aktif ditubuh Rin. Hawa yang begitu kuat, belum perna ia rasakan pada manusia serigala junior. Ia hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri, tidak mendekat.
"Kau benar kak. Rin sepertinya sudah sangat sangat marah," Emely mundur selangkah tampa sadar, akibat tekanan yang begitu dari Rin.
Retina mata Rin kini berubah menjadi seperti hewan buas, taring terlihat keluar dari sela-sela bibir mungilnya dan kukunya menajam. Tatapan mematikan yang diarahkan Rin pada Liz, membuat Liz tidak berkutip. Ia hanya terdiam mematung melihat ngerih. Suara teriakan kini berubah menjadi geraman dan berbarengan dengan itu, Rin melompat menerkam Liz dalam wujud serigala putih. Iya, dalam sekejap Rin berubah hanya selang waktu beberapa detik. Liz yang terkejut seketika menghilang meninggalkan asap samar.
"Wow... Untuk perubahannya, ini terbilang sangat cepat bagi manusia serigala muda," Emely terkejut dengan kecepatan perubahan Rin.
Jam yang menjadi pemicu jatuh ke rumput. Tidak puas melihat mangsanya menghilang, Rin beralih melirik tajam pada ibu dan bibi nya. Ia berbalik dan melangkah perlahan sambil mengeram memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang tajam. Kesadaran Rin benar-benar menghilang, sekarang hanya ada kesadaran hewan buas.
"Rin tenangkan dirimu. Ini aku, Emely bibimu," Emely berjalan mendekat, mencoba menenangkan Rin yang diluar kendali. Namun Rin tidak menggubris, ia terus saja menggeram ganas.
"Rin sadarlah. Jangan biarkan dia mengambil alih tubuhmu. Ragamu hanya kau yang berhak mengendalikannya," ibu Rin ikut membantu menenangkan putrinya.
Hal ini cukup berhasil. Setelah beberapa kalimat yang diutarakan ibu dan bibinya, Rin mulai melawan kekuatan itu agar tersadar. Terlihat dari pergerakan mata Rin yang sesekali terpejam dan mengalihkan pandang. Langkah Rin juga terkadang-kadang tertahan walau geraman masih terdengar. Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan gigi taringnya tidak terlihat lagi. Pandangan matanya pun sudah meredup.
Serasa Kodisi Rin mulai tenang, Emely mencoba mendekat dan berusaha menyentuh kepala Rin. Rin tidak menghindar, hanya saja sedikit mengeram saat tangan Emely berjarak 10 cm dari matanya. Baru hendak menyentuh buluhnya, tiba-tiba telinga Rin menegak seperti mendengar sesuatu. Emely yang menyadari hal itu tersentak kebingungan. Tampa peringatan, Rin melompat ke atas tubuh Emely. Karna serangan mendadak itu dan dorongan yang kuat dari Rin, membuat Emely jatuh terjungkal kebelakang dengan keadaan kaki depan Rin tepat diatas tubuhnya.
Melihat kejadian yang sudah diluar kendali, Derek dan Alan berlari menghampiri mereka. Rin menatap tajam ke dalam hutan dan mulai mengeram ganas lagi. Ia berlari masuk ke hutan sebelum ayah dan pamanya tiba. Derek hendak mengejarnya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar penjelasan dari adiknya itu.
"Kak, ia tidak bermaksud menyerangku." kata Emely yang membuat langka kakaknya terhenti.
Emely berdiri dibantu Cloey, kakak iparnya.
Ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Derek hanya melirik tampa menoleh. Emely berjalan ke arah pohon ek dan mencabut sesuatu dari sana.
"Kalau bukan Rin yang mendorongku. Mungkin anak panah ini sudah menancap di kepalaku," Emely memperlihatkan anak panah tersebut pada yang lain.
"Aku akan mencarinya," Derek berlari memasuki hutan dalam wujud serigala hitam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari mulai gelap. Ayah dan anak itu belum kunjung kembali dari hutan. Alan dan Mr. Li juga pergi mencari mereka berdua sama saja, juga belum kembali dari satu jam yang lalu. Cloey yang berhasil di paksa masuk dan menunggu didalam rumah oleh Emely, sangat cemas. Ia tidak henti-hentinya mondar-mandir seperti setrikaan. Semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi terus berputar-putar di kepalanya.
Emely mencoba menghibur Cloey dengan mengatakan kalau Derek dan Rin pasti akan baik-baik saja. Mereka bukan orang lemah yang bisa terjebak dalam bahaya. Cloey tahu kalau kedua orang yang dicintainya itu adalah orang yang tangguh. Tapi ada perasaan gelisah yang teramat sangat menyelimuti hatinya. Seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi pada salah satu dari mereka.
Jam tangan Rin yang kini ada ditangan Cloey mulai berbunyi pelan. Cloey tidak menyadari itu. Pikirannya terlalu cemas untuk memperhatikan detai kecil disekelilingnya. Jam itu ia dekap didada, suaranya terlalu samar dibandingkan dengan suara detak jantungnya sendiri.
Ding... Dong...
Bell rumah terdengar. Cloey dan Emely bergegas membuka pintu untuk menyambut orang yang dinanti. 1 2 3... Dimana yang keempat? Hanya ada tiga orang pria di depan pintu, tertunduk lesuh dengan tubuh basah. Di luar tidak hujan? Apa yang terjadi sebenarnya? Perasaan gelisah yang selama ini dirasakan semakin menjadi. Hal-hal buruk yang perna terlitas membuat air mata mengalir.
"Dimana Rin?" pertanyaan pertama yang diucapkan seorang ibu.
Tidak ada yang menjawab diantara meraka. Menatap mata penuh kekhwatiran dan berkaca-kaca itu pun meraka tidak bisa, bahkan suaminya sendiri. Emely pergi mengambil handuk untuk mereka.
"Katakan, dimana putriku?!! Kenapa kalian diam saja? Apa yang terjadi?!!" Cloey menarik baju suaminya, minta penjelasan.
"Bagaimana bisa?!! Hutan itu tidak terlalu luas bagi kalian! Tidak mungkin kau tidak dapat menemukan putrimu! Dimana kemampuan yang kau miliki?!!" bentak Cloey pada suaminya sambil menangis. Ia tidak percaya kalau suaminya tidak dapan menemukan Rin.
"Kami sudah mengikuti aroma tubuh Rin dan jejaknya berakhir di sungai. Tidak jauh dari sungai itu ada bekas perkelahian. Kemungkinan besar Rin berkelahi dengan orang yang bermaksud menyerang Emely. Ada... Ada bercak darah yang tertinggal disana dan beberapa helaian bulu putih. Aku tidak dapat memastikan darah siapa itu karna terlalu campur aduk. Selama perkelahian mereka berdua pasti mengalami luka." jelas Derek
"Kau tahu putri kita terluka dan kau masih berani kembali!!!"
"Tanangkan dirimu. Aku yakin putri kita baik-baik saja. Aku pasti akan menemukannya. Percaya itu," Derek mendekap istrinya dalam pelukannya. "Aku akan membawah beberapa orang untuk melakukan pencarian lagi."
"Huaaa... Aku tidak mau kehilangan putriku lagi. Hiks... Hiks..."
Ding... Dong...
Terdengar suara bell pintu rumah. Mendengar hal itu membuat mereka tersentak terdiam. Cloey bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Ia terkejut mendapati siapa yang berdiri di depan pintu. Tubuh basah dengan air masih menetes berwarna merah menggenang dilantai. Ia memengangi perutnya yang terluka dan masih mengeluarkan darah di balik baju seragamnya. Wajah pucat terlihat jelas dari sinar lampu yang memancar tepat diatas kepala mereka.
"Rin."
"Ibu aku pulang," Rin masih sempat tersenyum padan ibunya, dan akhirnya tersungkur ke lantai tidak sadarkan diri.
"Rin!!!" Cloey memeluk putrinya yang pingsan itu. Ia berusaha menyadarkanya dengan cara memanggil-manggil nama putrinya berkali-kali.
Derek mengendong Rin masuk menuju kamar. Mr. Li segera menghubungi dokter pribadi keluarga Morgen. Sambil menunggu dokter sampai Cloey berusaha menghentikan pendarahan yang dialami Rin dan menganti bajunya. Tak lama kemudian dokter yang ditunggu sampai juga. Mr. Guttman nama dokter itu segera melakukan penanganan medis. Lima menit kemudian. Mr. Guttman keluar dari kamar Rin dan segera menghampiri anggota keluarga lainnya yang telah menunggu diluar kamar.
"Bagaimana keadaannya Mr. Guttman?" tanya Cloey ingin segera tahu.
"Dia baik-baik saja. Lukanya cukup dalam dan kemungkinan diakibatkan oleh senjata tajam. Kalian beruntung aku masih memiliki stok sekatung darah yang cocok untuk putri kalian. Lukanya kali ini akan sulit sembuh karna senjata yang digunakan pelaku terbuat dari perak."
"Senjata perak?" ulang Derek dengan nada bertanya.
"Benar. Oh, iya sesikit saran. Jangan biarkan putrimu kehilangan banyak darah lagi. Aku sudah kehabisan stok darah yang cocok untuknya. Siapa sangka golongan darahnya sangat sulit didapat. Saya pamit undur diri."
"Saya akan mengantar anda," Mr. Li mengacukan diri mengantar Mr. Guttman keluar.
"Senjata perak hanya dimiliki oleh anggota pemburuh monster," ucap Emely kemudian.
"Tapi bukankah surat kesepakatan sudah ditanda tangani?" kata Alan mengingatkan. "Bagaimana bisa mereka melangar itu?!!"
"Jangan gegaba Alan. Yang menyerang Rin mungkin memang dari anggota pemburuh monster. Tapi kita tidak tahu dari sekte mana?"
"Kakak benar. Ada banyak sekte pemburuh monster dikota ini. Walau hampir semua sekte sudah menanda tangani surat kesepakatan, tapi itu tidak dapat menjamin masih ada orang yang tidak melangar peraturan. Kita harus menyelidikinya terlebih dahulu."
"Aku akan merawat Rin," Cloey melangkah masuk ke kamar putrinya dengan sikap dingin.
"Jangan bersedih lagi. Siapa yang berani menyakiti keluargaku akan mati," hawa membunuh tiba-tiba terpancar dari tubuh Derek. "Ayok Alan. Musuh kita bertambah satu lagi."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε