My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Serangan Vampire



Sekelompok vampire itu mulai menyerang kami. Sofia mengatifkan dinding perisai di sekeliling Lisa dan Rosse untuk melindungi mereka. Prof. Peter, Aku, Trysta dan Onoval mencoba membalas serangan mereka. Pertarungan diantara kami melawan mereka tak terelakan. Aku masih menahan diri saat melawan mereka. Tapi mereka seperti tidak mengenal rasa sakit. Mau dihajar beberapa kali mereka masih tetap bangkit dan melawan. Mereka jauh lebih mirip pasukan zombie dari pada vampire. Apa mereka zombie vampire. Jika iya, itu sangat mengerikan. Kami cukup kewalahan melawan mereka yang tidak memberi kami kesempatan untuk kabur.


"Mereka tidak seperti vampire yang sering kita lihat. Jenis vampire apa mereka?" tanya Sofia yang sesekali menyerang disaat tidak ada yang memperhatikan.


"Ku jelas kan nanti saja. Kalian semua pergilah! Biar aku yang menahan mereka!" teriak Onoval menyuruh kami pergi.


"Tidak mungkin kami meninggal mu sendirian. Jumlah mereka terlalu banyak. Kau tidak akan bisa menang melawan mereka semua," kataku yang engan pergi meninggalkan Onoval sendirian.


"Iya, kita lawan mereka sama-sama. Aku masih sanggup melawan satu sampai dua orang," kata Trysta berpikiran sama denganku.


"Aku mungkin bisa mengalahkan mereka semua jika kalian tidak ada disini," gumang Onoval yang kudengar.


"Kalau begitu jangan menahan dirimu!" kataku membuat Onoval terkejut. "Aku tahu semua orang memiliki rahasia, termaksud aku. Jadi kenapa kita tidak melawan mereka dengan serius saja? Dengan syarat, jangan mempertanyakan tentang kejadian hari ini. Bagaimana?"


Onoval berpikir sebentar. "Baiklah. Tapi kita melawan mereka saling membelakangi."


"Oke, jangan mengintip ya."


"Tidak akan."


"Sofia, mari kalahkan mereka."


"Apa kami boleh membunuh mereka?" tanya Sofia yang juga sebenarnya hendak aku tanyakan.


"Silakan. Mereka sebenarnya memang harus dibasmi."


"Lebih mudah kalau begitu. Paman Fang serang mereka dengan kekuatan penuh," bisikku pada paman Fang.


"Tidak masalah. Walau kekuatanku hanya 50% aku masih sanggup menghabisi mereka."


"Kalian tetaplah di dalam dinding perisai. Itu akan melindungi kalian dari mereka," kata Sofia pada Rosse dan Lisa.


"Berhati-hatilah," kata mereka bersamaan.


"Ini akan sangat menyenangkan," Sofia melangkah keluar dari dinding perisai. "Ελαφρύ ξίφος (Elafrý xífos)"


Muncul pedang dengan cahaya keperakkan di tangan Sofia. Itu adalah senjata andalannya. Ia akan menggunakan senjata itu disaat menyerang lawannya dengan sangat serius. Aku hanya perna sekali melihat ia menggunakan senjata itu. Sofia mulai menyerang dengan pedang di tangannya. Ia menebas para vampire ini dengan sekuat tenaga. Aku juga tidak tinggal diam. Aku menyerang mereka dengan kekuatan yang aku miliki tampa menahan diri lagi. Para vampire yang tewas seketika berubah menjadi abu.


Pertarungan semakin sengit terjadi ditambah jumlah mereka yang semakin banyak. Selama pertarungan berlangsung aku tidak merasakan pergerakan Onoval sedikitpun. Ingin sekali aku menoleh dan melihatnya. Kekuatan apa yang sebenar dimiliki Onoval dan siapa dia sebenarnya. Tapi aku tidak mau melanggar peraturan yang kubuat sendiri. Biarpun aku sangat penasaran akan hal ini tapi aku mau ia sendiri yang memberitahu ku jati diri nya yang sebenarnya. Kami terlalu fokus melawan mereka sampai tidak menyadari kalau sebenarnya para vampire ini mengincar Rosse dan Lisa. Mereka berhasil memecahkan dinding perisai dan membawa pergi Rosse dan Lisa masuk ke dalam hutan.


"AAAAA ! ! !" teriak mereka disaat para vampire ini membawa mereka pergi.


"Lisa! Rosse!"


Tampa pikir panjang aku mengejar mereka masuk ke dalam hutan. Yang lain hendak menyusul ku namun mereka mala dicegat oleh para vampire itu. Aku terus mengejar mereka masuk ke dalam hutan. Tidak akan kubiarkan mereka menyakiti Lisa dan Rosse. Sampai di sebuah pohon ek yang terlihat sudah berumur ratusan tahun. Diameter batang pohon yang besar dengan bentang dahan seluas lebih dari dua buah lapangan basket. Disana aku bertemu dengan seseorang yang menggunakan jubah hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya karna ia mengenakan tudung kepala. Dia pasti yang menyuruh para vampire ini untuk menyerang kami dan menculik Lisa dan Rosse. Siapa orang ini? Kenapa ia menculik mereka? Atau sebenarnya ia hanya ingin memancingku kesini dengan cara menculik mereka?


"Siapa kau sebenarnya? Lepaskan adikku dan temanku!" kataku pada orang itu dengan mada tinggi.


"Jangan takut. Aku tidak akan menyakiti mereka. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" kata orang itu dengan suara yang disamarkan.


"Kesepakatan?"


"Aku cuman butuh satu dari mereka untuk kupersembahkan kepada tuanku. Jadi aku memberimu kesempatan untuk memilih salah satu dari mereka yang ingin kau selamatkan. Apa kau pilih adik tersayang mu, Lisa," isyarat orang tersebut menyuruh salah satu vampire menyeret Lisa keliar.


"Lisa!"


"Atau temanmu yang... Aku tidak tahu seberapa berartinya dia dalam hidupmu. Aku tidak terlalu yakin kau akan memilihnya, tapi terserah kau saja," ia memberi isyarat yang sama untuk menyuruh vampire lainnya menyeret Rosse


"Rosse!"


"Rin," kata Rosse hampir tidak terdengar. Ia memalingkan muka dariku.


"Ada apa dengannya? Apa ia takut kalau aku lebih memilih Lisa dari pada dirinya? Ia terhasut omongan orang itu," pikirku.


"Pikirkanlah Rin. Kau mau menyelamatkan adikmu atau temanmu?"


Aku melirik Lisa lalu kemudian melirik Rosse. Di satu sisi adalah adik kandungku yang tidak mungkin aku membiarkannya terluka. Dan disisi lain merupakan sahabat yang sudah aku anggap saudaraku. Aku tidak akan mungkin dapat milih salah satu dari mereka. Aku sudah berjanji pada Mitéra dan bibi Merry untuk menjaga kesepakatan mereka berdua. Kalau salah satu dari mereka adalah Sofia sudah pasti aku tidak akan memilihnya. Tidak ada yang bisa menyakiti penyihir itu. Tapi ini... Siapa yang akan aku selamatkan lebih dulu?


"Aku pilih... Lisa," kataku sambil tertunduk.


"Aku sudah menduga hal itu."


"Rin," Rosse terlihat tersentak mendengar apa yang baru saja keluar bibirku. Matanya mulai berlinang.


"Lepaskan dia," perintah orang itu pada vampire yang mencengkram Lisa.


"Kakak," Lisa berlari mendekatiku dan langsung memeluku.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya. Tapi kak, bagaimana dengan Rosse?" lirik Lisa pada Rosse.


"Boleh aku pinjam hisan rambutmu?"


Tampa persetujuan lagi aku melepaskan hiasan rambut yang tersemat di rambut Lisa. Itu membuat rambutnya terurai indah. Hiasan rambut yang kubeli untuknya di taman hiburan tadi memiliki ujung yang rucing.


"Menunduk Rosse!!" teriakku sambil menembakan hiasan rambut itu ke arahnya.


Dengan cepat Rosse menunduk. Hal hasil hiasan rambut itu tepat mengenai dahi vampire yang mencengkeramnya. Vampire itu seketika tewas dan berubah menjadi abu. Rosse mengambil kesempatan ini berlari menghampiriku.


"Kau baik-baik saja Rosse," tanyaku padanya.


"Iya," ia terlihat masih marah karna aku tidak memilihnya.


"Oh... Sungguh rencana yang hebat. Kau memilih adikmu hanya untuk mengambil hiasan rambutnya agar kau bisa menyelamatkan temanmu. Tapi apa kau perna berpikir kalau aku tidak akan mungkin melepaskan kalian begitu saja? Serang mereka!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε