My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Berlatihlah Lisa



Jam 03.45 aku, Rosse, Lisa dan Sofia baru kembali ke asrama dengan keadaan mata terasa berat sekali. Dikelas tadi saja kami berulang kali ditegur karna ngatuk. He, ternyata bukan aku seorang saja. Kami tidak mendapat hukuman. Para guru yang mengajar memaklumi hal tersebut. Wajar saja, bukan? Perubahan aktivitas dari siang menjadi malam membuat tubuh kami belum membiasakan diri. Kami tertidur sampai jam makan siang tiba. Aku yang terbangun pertama kali dari mereka semua. Aku turun dari tempat tidur dan bergegas mandi air hangat. Aku tidak sempat mandi setelah pulang sekolah karna kantuk yang tak tertahankan.


Selesai mandi, aku keluar dari asrama menuju kantin. Kubiarkan mereka tertidur dengan lelapnya. Aku membeli beberapa makanan serta minuman untuk makan siang kami. Ketika aku kembali dengan membawa semua makanan dan minuman yang ada, kulihat mereka masih tertidur. Mereka sepertinya ngantuk sekali setelah bergadang sampai jam tiga dini hari. Aku meletakan semua apa yang kubeli tadi di atas meja antara dua tempat tidur bertingkat tersebut. Aku kembali keluar meninggalkan mereka.


Tujuanku kali ini perpustakaan. Ada satu buku yang tidak sempat aku pinjam kemari dan mau aku pinjam hari ini. Buku itu bukan berisi tentang informasi keberadaan pohon ΖΩΗ (ZOI) tapi isi akan sangat berguna bagi Lisa. Aku mengajukan peminjaman buku tersebut selama seminggu pada stap perpustakaan. Setelah buku berhasil dipinjam aku kembali ke asrama dan berharap mereka telah bangun dari tidur cantik mereka. Benar saja, mereka sudah bangun. Baru bangun tepatnya.


"Awal kau bangun kak," kata Lisa dengan keadaan mata setengah terpejam dan rambut panjang emasnya itu tidak karuan kusutnya.


"Dari mana kau, Rin?" tanya Sofia sambil menegangkan tubuhnya dan menguap panjang.


"Dari perpustakaan. Ada buku yang ku pinjam," jawabku. Aku mengambil tempat duduk di pinggir kasur tepat disamping Lisa yang sudah terduduk. Ku bantu Lisa menyisir rambutnya yang kusut. "Rambut yang begitu indah bisa berantakan begini."


"Rin, kau yang membeli semua makanan itu?" tanya Rosse yang baru keluar dari kamar mandi. Hanya dia yang kondisinya lebih baik dari dua orang ini. Ia sudah mandi, berpakaian rapi dengan handuk melilit di atas kepalanya.


"Iya."


"Kau sudah dari kantin?" tanya Sofia. Wajah kantuknya sudah hilang.


"Aku ke kantin dulu beli makanan. Kulihat kalian masih tidur jadi pergi ke perpustakaan," jelasku. "Sudah," kataku pada Lisa begitu selesai menyisir rambutnya.


"Terima kasih kak."


Sofia dan Lisa bergilir pergi ke kamar mandi. Kembali dari sana mereka terlihat jauh lebih segar seperti bunga yang baru di siram air. Kami makan siang bersama dengan semua hidangan yang kubeli. Selesai makan siang kami hanya dikamar saja. Ku ambil buku yang baru ku pinjam di perpustakaan. Buku itu kusodorkan pada Lisa.


"Buku apa ini?" tanya nya begitu menerima buku tersebut.


"Iya Rin. Buku apa yang kau pinjam itu? Apa ada hubungannya dengan pohon ΖΩΗ (ZOI)?" tanya Lisa yang penasaran. Ia mendekati Lisa untuk melihat lebih dekat buku tersebut.


"Tidak. Buku itu berisi tentang cara belajar dan mengendalikan kekuatan Psikokinesis atau yang biasa dikenal dengan sebutan Telekinesis."


"Untuk apa kau meminjam buku ini dan memberikannya padaku?" Lisa masih terlihat bingung.


"Berlatihlah."


"Hah?!"


"Apa maksudmu, Rin?" kali ini Roose yanh bertanya.


"Kalian akan terkejut," aku naik ke tempat tidurku lalu mengambil sesuatu yang tersembunyi di bawah bantal. Itu sebuah buku tua bersampul kulit dengan pita penjepit yang menahan bukunya agar tidak mudah terbuka.. "Kau ingat dengan fotoku masih bayi bersama Patéras dan Mitéra?"


"Foto yang ada tulisan Yunani dibelakangnya?" tanya Lisa memastikan apa benar foto yang terlintas dipikirannya foto yang aku maksud.


"Iya. Foto itu kutemukan terselip di buku ini," aku menujukan buku yang ada di tanganku.


"Buku apalagi itu?" ujar Sofia.


"Yang kau maksud 15% kemungkinan seorang anak mewarisi kekuatan ini dan 30% kemungkinan cucu lebih besar dapat mewarisinya," kata sofia membantu mengingatkan.


"Patéras atau Mitéra mungkin tidak bisa menggunakan kekuatan ini tapi kau kemungkinan bisa menggunakannya," aku menyodorkan buku itu pada adikku.


"Kenapa aku? Bagaimana denganmu?" tanya nya.


"Aku tidak mungkin bisa mempelajari kekuatan yang memerluhkan konsentrasi yang tinggi, tapi kau mungkin bisa... E... Adikku."


"Jangan bilang kau lupa lagi namaku?" lirik tajam ia padaku.


"Baiklah. Aku tidak akan bilang."


"Jadi Lisa adalah perwaris kekuatan yang hilang?" tanya Rosse.


"Iya."


"Itu artinya Lisa bukanlah manusia biasa. Kau memiliki kekuatan yang sudah lama hilang. Kau akan menjadi satu-satunya orang yang memiliki kemampuan ini istimewa ini Lisa," kata Sofia pada Lisa.


"Tapi dia harus mendapatkan pelatihan agar bisa menggunakan kekuatan ini."


"Baiklah. Aku akan coba berlatih."


Dengan mengandalkan kedua buku itu Lisa mulai berlatih. Bermeditasi menjadi latihan awal untuk Lisa. Ia harus menenangkan pikiran dan hatinya serta memfokuskan diri agar bisa mengendalikan pikiran. Lisa duduk tegap di atas tempat tidur sambil bersilang kaki. Dengan mata terpejam ia mulai bermeditasi. Ditariknya nafas panjang kemudian dihembuskannya perlahan, terus begitu diulanginya beberapa kali untuk mendapatkan ketenangan jiwa.


Aku, Sofia dan Rosse harus membuat suasana setenang mungkin supaya konsentrasi Lisa tidak terganggu. Bermeditasi tidaklah mudah apalagi dilakukan oleh seorang pemula. Konsentrasi Lisa sering terganggu terhadap hal-hal kecil seperti pikiran yang mengembara dan perhatian teralihkan. Suara-suara sekecil apapun bahkan bisa sangat menggagu. Lisa sering kali terlihat tampa sadar membuka matanya melirik suara apa yang baru ia dengar.


Aku, Sofia dan Rosse juga tidak bisa tidak menimbulkan suara secara sengaja. Hal-hal yang tidak terduga sering terjadi. Suara benda terjatuh, langkah kaki, suara gesekan atau benturan benda satu dan yang lain dan kebisingan lainnya bahkan dari luar. Karna masalah ini juga aku tidak mungkin bisa mempelajari kekuatan Telekinesis. Pendengaran ku yang tajam membuatku sulit berkonsentrasi.


Pengendalian dan kontrol emosi juga harus baik. Dengan pengendalian emosi yang buruk sudah dipastikan tidak akan bisa mempelajari kekuatan Telekinesis ini. Tapi sejauh yang kulihat Lisa bisa mengendalikan emosinya. Ia tenang seperti air. Walau sering konsentrasinya terganggu oleh kami, ia cuman melirik kami sekilas lalu kembali bermeditasi. Itu bagus. Ada kemungkinan Lisa dapat menguasai kekuatan Telekinesis. Aku harap ia bisa. Aku jadi penasaran bagaimana jadinya kalau Patéras dan Mitéra mengetahui salah satu putri mereka mewarisi kekuatan yang hilang.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε